Berita Utama Sirah Nabawiyah

Kunci Kesuksesan Kebesaran Umat Islam tempo dulu

Jika Anda mendengar istilah kekalahan hari ini adalah kemenangan esok hari, itu adalah milik orang yang sabar. Karena itu reaksi orang sabar adalah reaksi orang menang meski pada saat orang melihatnya sebagai “kekalahan.” Itulah pengorbanannya.

Orang yang sabar itu melihat dengan visi yang baik. Ketika orang melihat sebagai kekalahan, orang sabar bisa melihat kemenangan dengan visi nya. Orang yang sabar itu orang yang kuat hatinya, cerdas pikirannya, dan sesungguhnya kuat keyakinan dan pengorbananya, bukan pasrah belaka.

Kesabaran seperti itu telah banyak menjadi tonggak sejarah kemenangan yang hakiki.

Nabi telah mencontohkan hal itu.

Pada Perjanjian Hudaibiyah, kekuatan pasukan Muhammad Saw. sudah cukup untuk mengalahkan Kafir Makkah. Namun beliau memilih untuk menerima perundingan. Teks perjanjian dimulai dengan “Bismillahirrahmanirrahim.”

Kalimat ini diprotes dan diminta dihapus oleh pihak Kafir. Nabi Muhammad menyetujuinya. Dia kemudian meminta, “Tulislah: Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail bin ‘Amr.”

Suhail kembali protes: “Jangan bawa gelarmu sebagai utusan Allah. Kami kan tidak mengakuinya. Tulis saja namamu dan nama bapakmu (Muhammad bin Abdullah).”

Nabi Muhammad kembali mengikutinya.Dalam satu riwayat, sahabat enggan menghapusnya, sehingga Rasul sendiri yang menghapus kalimat itu.

Darah para sahabat pun bergelegak. Perintah Rasul untuk bertahalul—mengakhiri manasik dan kembali ke Madinah (tidak jadi memasuki Makkah)—sampai diulang tiga kali, karena para sahabat masih belum menerima perjanjian yang merugikan itu.

Sampai-sampai diceritakan, pada akhir perundingan itu, Umar pergi menemui Abu Bakr dan terjadi percakapan berikut ini:

“Abu Bakr, bukankah dia Rasulullah?”
“Ya, memang!”
“Bukankah kita ini Muslimin?”
“Ya, memang!”
“Lantas, kenapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita?”
“Umar, duduklah di tempatmu. Aku bersaksi, bahwa dia Rasulullah.”

Setelah itu Umar kembali menemui Nabi Muhammad. Diulangnya pembicaraan itu kepada Nabi Muhammad dengan perasaan geram dan kesal. Tetapi hal ini tidak mengubah kesabaran dan keteguhan hati Nabi. Di akhir pembicaraan, Nabi Muhammad berkata kepada Umar, “Aku hamba Allah dan RasulNya. Aku takkan melanggar perintahNya, dan Dia tidak akan menyesatkan aku.“

Kita bisa memahami betapa marahnya Umar dan kita juga kagum dengan kesabaran Abu Bakr yang selalu percaya dan tunduk pada keputusan Nabi Muhammad. Namun, kita jelas-jelas tergetar dengan kesediaan Rasulullah untuk mengalah dalam perjanjian itu. Mengapa beliau Saw. sampai bersedia mengalah? Mengapa beliau bersedia menyetujui perjanjian yang terkesan merugikan umat Islam?

Belakangan terbukti bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah langkah brilian di mana untuk pertama kalinya umat Islam duduk sejajar dan diakui eksistensinya. Dilanggarnya perjanjian ini oleh kaum kafir Makkah justru menjadi alasan legal bagi Rasulullah untuk menguasai Makkah lewat persitiwa fathu Makkah.

Episode ini mengajarkan pada kita bahwa kesabaran adalah tonggak berdirinya sebuah peradaban dunia. Kesabaran memang sebuah pengorbanan, namun bukan berarti sebuah kekalahan untuk selamanya. Lewat kesabaran, kemenangan akan tiba.

Untuk kawan-kawan yang tengah remuk redam hatinya; untuk mereka yang tengah dilanda berbagai ujian dalam hidup, baik di rumah, di jalan raya, di tempat kerja maupun di tengah masyarakat; untuk saudara-saudara yang tengah dihinakan harkat derajat kemanusiaannya; dan untuk siapa saja yang tengah berusaha untuk bersabar, jadikanlah sabar sebagai penolongmu dan ubahlah kelemahan menjadi sebuah kekuatan lewat kesabaran.” Innallaha ma’ash shabirin. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.

Penulis: Gus Nadirsyah Hosen

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *