Akhlak

Halal Berkampanye, Tetapi Haram Saat “Nyerang” Sosok

Halo tretan (saudara), gimana kabarnya, sehatkan, sehat dong. Mimin sebenarnya males mau membahas tentang tema seperti judul di atas, terlalu sensitif. Tapi mau bagaimana lagi, mimin terpaksa, sebab sudah tak kuat lagi melihat sebagian oknum yang kurang etis dan tak dewasa dalam berkampanye.

Masak etis dan benar secara hukum taretan, bilamana jurus kampanyenya hanya berisi tentang penghinaan, cacian dan makian terhadap seorang sosok atau tokoh tertentu. Dari sini, mimin kasih tahu bagaimana tips berkampanye berdasarkan al-Qur’an. Sebelum masuk pada pembahasaan, mimin tegaskan bahwasanya tulisan ini diperuntukan bagi mereka yang suka merendahkan serta menghinakan (“nyerang”) orang atau tokoh tertentu dalam berkampanye.

Baik, ayukkk masuk pada pembahasan tretan. Pada dasarnya para peserta pesta demokrasi, terutama mereka yang berkampanye tak ubahnya seperti seorang pendakwah atau “penyeru” yang mengajak orang lain untuk mengikuti jalannya. Kalau seperti itu, maka langsung kita tengok surat al-Nahl ayat 125,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Dari ayat di atas, setidaknya ada tiga metode dalam bekampanye, Pertama, metode hikmah (burhan) adalah sebuah metode yang lebih menekankan kepada pendekatan nalar. Umumnya, metode ini digunakakan bila kebanyakan audiennya adalah orang-orang terpelajar. Oleh karenanya, konten kampanye yang disampaikan adalah tentang visi dan misi serta program partainya dengan cara serasional mungkin, lengkap dengan argumentasi pembenarnya, bukan malah mencaci sana-sini

Kedua, metode mau’idzah hasanah merupakan metode yang konten kampanyenya berisi tentang pesan-pesan yang baik, tak ada unsur merendahkan orang lain. Kandungan pesan-pesan yang disampaikan bersifat praktis (‘amaliah), tidak terlalu teoritis seperti cara yang pertama. metode ini digunakan ketika berhadapan dengan orang-orang awam sehingga pesan kampanye yang disampaikan harus gamblang, mudah difahami dan praktis.

Ketiga, metode berdebat (mujadalah). Adalah metode untuk membantah argumentasi lawan dengan cara yang paling baik (ahsan). mujadalah ini dilakukan ketika berhadapan dengan komunitas atau seseorang yang memiliki sifat  keras kepala atau antipati. Dalam metode yang terakhir inilah, debat-debat publik antar partai politik cukup relevan untuk dilakukan. Ingat tretan, metode berdebat saja harus menggunakan penyampaian yang paling baik, tak menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain.  (Tafsir al-Mizan, XII, 371-374)

Alakullihal, dari tiga metode yang telah disebutkan di atas, tak ada yang membenarkan bahwasanya berkampanye dengan cara mencaci, merendahkan dan menghina seorang sosok atau tokoh tertentu merupakan suatu hal yang baik dalam menarik simpati, terutama dalam konteks berkampanye. Sudahlah, mari kita nikmati saja pesta demokrasi ini dengan penuh kedewasaan dan kemaslahatan, tanpa ada sosok yang dirugikan, direndahkan dan dihinakan supaya tidak terjebak dalam keharaman. Oke, selamat berkampanye tretan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *