Akhlak

Ajari Kami Mengasihi Bukan Membenci Dan Mencaci

Gimana kawan? Bukankah bulan Maulid belum usai, kok sekarang tradisi mencaci, memaki dan merendahkan orang lain semakin merebak. Adapun data perihal peristiwa mencaci dan membenci tersebut tak usah ditampilkan ya, tinggal buka platfrom jenis apa saja, pasti ditemukan beragam bentuk fenomena mencaci.

Kalau budaya mencaci dan membenci sudah terbentuk separah itu, apa yang didapatkan pada waktu maulidan? Apa jangan-jangan pada saat acara maulidan, konten ceramah dan lain-lainnya justru berisi caci sana maki sini. Gimana kawan? Kok sifat kasar ini menjangkit kepada setiap orang, bahkan kepada mereka yang kita anggap sebagai tokoh panutan.

bukankah Nabi kita masyhur dengan kelembutan hati dan prilakunnya? Bahkan sifat mulia itu diabadikan tuhan dalam firman-Nya,

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ

Artinya, sesungguhnya telah datang kepada kalian, seorang rasul dari kaum kalian senidiri.ia berat memikirkan penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian selamat dan beriman serta amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin ( surat al-Taubah ayat 128)

فَبِما رَحْمَةٍ من الله لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا من حَوْلِكَ

Artinya, dengan sebab rahmat Allah Swt, kamu (Nabi Muhammad Saw) bersikap lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu bersikap kasar dan keras hati, niscaya mereka akan menjahuimu ( surat al-Imran ayat 159)

 

Imam Samarkandi mengatakan, bahwasanya Allah Swt mengaruniai Nabi Muhammad Saw dengan sifat kasih sayang dan lemah-lembut. Sebab bila tidak seperti itu, Nabi akan dijahui dan ditinggalkan. Analoginya begini kawan, Islam itu ibarat mutiara. Sedangkan bungkusnya adalah sikap kita. Jika bungkusnya bau busuk nan menjijikan, bagaimana mungkin seseorang ingin mengetahui isi bugkus tersebut? niat ingin meliahat saja, pasti  ogah.

Walaupun demikian,  Nabi pernah juga sedikit abai terhadap sahabatnya tapi hal tersebut langsung ditegur oleh tuhan. Peristiwa ini juga diabadikan dalam firman-Nya,

َعَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11)

Artinya : “Dia, yakni Nabi Muhammad Saw berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra datang kepadanya dan tahukah engkau wahai Muhammad Saw, barangkali ia ingin menyucikan dirinya dari dosa atau ia ingin mengambil pelajaran yang bermanfaat untuknya. Adapaun orang yang merasa pribadinya sudah cukup, yakni pembesar Qurais, maka engkau justru memperhatikan mereka. Padahal tidak ada cela bagimu kalau mereka tak menyucikan diri. Sedangkan orang yang sedang bersegera datang padamu dengan sungguh-sungguh di saat ia juga takut kepada Allah Swt, justru engkau abaikan. Sekali-kali jangan begitu. Sungguh semua ayat dan surat adalah sebuah peringatan (surat Abasa ayat 1-11)

Dari ayat di atas dapat diketahui, bahwasanya Nabi Muhammad Saw ditegur oleh Allah Swt sebab mengabaikan seorang penyandang difabel, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum pada saat sahabat Nabi itu ingin belajar bagaimana caranya menjadi pribadi yang bermanfaat. Ingat kawan! Nabi saja ditegur karena bersikap tidak baik terhadap seseorang, apalagi kita.

alakullihal, mari jangan hanya menghidupkan maulid Nabi Muhammad Saw, hidupkan pula segala bentuk teladannya. Nabi tak suka membenci, mencaci, menghina dan merendahkan orang lain, maka sebagai umatnya, jangan bersikap demikian . Oleh karenanya, kita tak boleh, bahkan haram mencaci. Membenci dan merendahkan orang lain, baik orang tersebut adalah  habaib, Ulama, rakyat biasa ataupun ahli maksiat.

Terkahir, Penulis ingin mengatakan sesuatu kepada mereka yang dianggap tokoh agama, kami rindu Nabi Muhammad Saw, kami rindu kisah Nabi Muhammad Saw, kami rindu Nabi kami. Jadi, tolong jelaskan perjalanan dan seluk beluk kehidupannya. Tak usah kalian ajarkan bagaimana caranya membenci, mencaci dan memaki, kami sudah tahu.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *