Alumni Dosen

Meski Besar Kesalahanmu, Aku Masih Mencintaimu

Baiklah, saya tidak perlu basi-basi memberikan deskripsi masalahnya apa. Kalian tahu semua, toh. Belakangan ini setelah beliau menanggapi kicauan si doi bohai, banyak orang yang kaget, bingung, dan ada yang gak percaya. Tapi tidak sedikit juga yang kagum. Kelompok pertama intinya menyayangkan mengapa “kata-kata kotor” meluncur dari “lisan suci”. Kelompok kedua, ah sudahlah,…

Kepada kelompok pertama itulah, muncul banyak tuntunan dari tokoh agama yang memberikan panduan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Lebih-kurang berikut ini,

“Kita tidak boleh membenci habaib. Habib yang gak bagus layaknya Alquran yang rusak, haram untuk diinjak.” Balasan komentar ini banyak dan seperti biasa, pro dan kontra. Tapi saya merasa perlu mengutipkan yang menurutku paling aduhai: biar tidak kena injak, kita harus membakarnya, begitu orang kampung saya memperlakukan Alquran yang sudah lapuk tak layak pakai.

“Itu kaya’ istri. Istri kita yang haid tidak boleh kita benci, kita tetap mencintainya, cukup jangan digauli sementara.” Tanggapan yang buat saya bergidik: kalau sebentar-sebentar haid, apa gak sebaiknya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Di sini aku bantu menjawab, “Gak harus cerai. Kan masih bisa poligami! Tapi poligami kemungkinan besar menyakiti hati istri pertama. Nah kan, gimana hukumnya menyakiti orang yang kita cintai?”

Sidang pembaca, kalian bisa membuat sendiri perumpamaan kalian, sesuatu yang diajarkan oleh ilmu balagah bab tasybīh dan isyti’ārah. Perumpamaan antara lain dibuat untuk semakin memudahkan pemahaman atau sekurang-kurangnya memukau mitra bicara. Kalau kebetulan kamu pecinta kucing, kamu bisa buat tasybīh gini: itu seperti kucing, kadang berak di permadani ruang tamu kita, kita tidak boleh membencinya, cukup kita cuci, keringkan, pakai lagi, beres urusan. Atau kamu pecinta bunga, saya usulkan: bunga tetap indah memesona biarpun dia menorehkan luka dengan durinya. Wa mā ilā dzālik.

Semua perumpamaan itu, yang dibuat maupun yang akan dibuat, adalah usaha memperindah kalam tokoh agama yang kira-kira seperti berikut ini,

“Kita tidak boleh membenci habib karena rantai nasabnya yang bersambung dengan Nabi. Persoalan dia melakukan kesalahan ya kita proses sesuai prosedur pada umumnya. Nasihati, tegur, dan kalau perlu proses secara hukum.”

Kalam ini muncul sebagai respon terhadap reaksi masyarakat umum yang mengaitkan suatu perilaku dengan status tokohnya. Habib kok gitu? Pendakwa kok ngomongnya gitu sich? Dan lain-lain. Reaksi demikian, meski salah, tapi salah kaprah, yaitu kesalahan yang dianggap kaprah. Guru ngaji kok cabul? Aih, ada dosen melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswanya! Abbo, kok iya dokter menggerayangi pasiennya saat dibius, hiii. Silakan diperpanjang sendiri, ganti pelakunya dengan beragam profesi lalu kaitkan padanya suatu kesalahan.

Sekali lagi. Reaksi itu salah. Tapi kaprah. Salah karena semua kesalahan itu memang mungkin secara akli terjadi pada siapa saja. Kecabulan itu universal, dia bisa mampir pada makhluk homo erektus (maksud saya, makluk yang bisa ereksi). Guru ngaji, dosen, dan dokter yang cabul, pada saat beraksi tidak sedang menghayati kitab suci, abai pada sikap ilmiah, dan lalai akan sumpah profesi. Jadi mereka sebenarnya bukan guru ngaji, bukan dosen, bukan dokter. Mun caepon hadis sapanika, lā yazni al-zānī hīna yaznī wahuwa mu’min, pezina yang tengah berzina sebenarnya melepaskan keimanannya. Kaprahnya dimana oi?

Kaprahnya tuh di sini: masyarakat pada umumnya tidak bisa (tepatnya susah) melepaskan suatu perilaku dari status pelakunya. Barangkali sebagai respon alami saat melihat suatu dosa dari orang yang tak terduga, manusia secara naluri bertanya profesi, tingkat pendidikan pelaku, kesalehan pribadi, anaknya siapa, bininya berapa, dan atribut lainnya. Atribut-atribut ini semakin memanjang daftarnya bila yang menambahkan adalah orang yang kebetulan membenci pelaku.

Maka kalam sejumlah tokoh agama di atas secara terutama ditujukan kepada para orang-orang yang sejak semula membenci habib tersebut. Di sinilah kalam itu menemukan makna, urgensi, syukur-syukur kalau efektif. Tapi bagaimana dengan kita yang sejak semula sampai akhir mencintai habaib? Saya merasa kalam itu tidak berdaya. Cuma sekumpulan kata yang disokong huruf demi huruf. Kita tetap sakit hati mendapati fakta bahwa orang yang kita cinta melakukan suatu kesalahan. Kita menyayangkan itu terjadi pada kekasih kita.

Sakit hati boleh. Menyayangkan juga boleh. Yang tidak boleh adalah menutupi fakta sambil berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan sampai hati kita terbiasa melepaskan imun tangguh yang menumpas kesalahan kekasih kita. Saya mengkhawatirkan ungkapan “kita nggak usah komentar tentang habaib. Hati-hati dengan nasab mulianya. Kualat!” adalah bagian dari upaya pura-pura yang menyelubungi fakta. Menurutku, kita perlu mengambil sikap tegas, katakanlah dalam hati: bahwa itu salah dan seharusnya tidak terjadi. Tapi saya sadar kalau ungkapan terakhir ini masih terlalu pahit. Tidak masalah kawan, kopi pahit di pagi hari bisa menghilangkan kantuk seketika.

Saya sendiri mengenal segelintir habaib yang masih muda. Sebagian dari mereka saya tahu, juga pacaran kaya kita yang non-habib, WA-an, dan telphonan. Tapi saya gak pernah usil bertanya, bahkan dalam hati, “Habib kok pacaran?”. Sama sekali tidak pernah. Pacaran itu makhluk universal, dia tidak pilih darah, tidak pandang tampang. Umpamanya kamu jelek, undang-undang menjamin hak Anda untuk memacari dan dipacari. Dengan begini, saya menaruh hormat yang adil kepada habaib. Saya tidak akan melepaskan sisi manusiawinya, manusia biasa yang makan, tidur, kawin pada waktunya, berwisata saat penat, dan sesekali melakukan kesalahan. Konon, manusia tempat salah dan dosa.

Izinkan daku mengakhiri tulisan ini dengan mengutip lirik lagu grup musik Seurieus.

Andai mereka tahu
Rasa dalam hatiku
Lembut bagaikan salju
Dan menghangatkan kalbu
Kadang kurasa lelah
Harus tampil sempurna
Ingin kuteriakkan…

Habib juga manusia
Bisa salah bisa dosa
Jangan samakan dengan pisau belati

NB: Adapun ini ialah ditulis di Maskunig Wetan, hale dalam keadaan gengghuk.

Penulis: Ust. Abd. Wahid, M.H.I. (Dosen Ma’had ALy Situbondo)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *