Hukum Islam

Karena Kesalahan Dan Hukuman Tidak Mengenal Nasab Dan Jabatan

Suatu ketika, Urwah bin Zubair (salah seorang sahabat Nabi) bercerita kepada Zuhri tentang kejadian yang ia saksikan sewaktu Nabi hidup.
Ketika itu, Urwah melihat ada seorang wanita bernama Fatimah al-Makhzumiyya mencuri. Fatimah adalah putri dari Aswad, kepala suku al-Makhzumi.
Si Aswad mati dibunuh oleh Sayyidina Hamzah ketika perang badar.
Naas! Ketika perang Fathu Mekah berkecamuk, dia ketangkap basah sedang melakukan aksi pencurian.
Respon atas kejadian ini, para pengikut suku al-makhzumi melakukan diplomasi.
Mereka meminta kepada Usamah bin Zaid agar menghadap kepada nabi agar si putri kepala suku mendapatkan keringanan hukum.
Sebagai diplomator, suku al-Makhzumi memilih Usamah bin Zaid. Alasannya karena dia termasuk orang dekat nabi. Dulu, ayahnya adalah anak angkat nabi, yakni Zaid bin Haritsah.
Singkat cerita, datanglah Usamah menemui Nabi dengan menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya.
Mendengar perkataan Usamah, raut muka nabi berubah.
Lantas baginda nabi menegur Usamah,
أَتَشفَعُ فِي حَدٍّ مِن حُدُودِ اللَّهِ
”Apakah engkau akan memberikan keringanan atas ketentuan hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah?”
Usamah kemudian berkata,
”Maafkan aku ya Rasul Allah.”
Menjelang sore hari, Rasulullah Saw. berdiri di depan para sahabatnya, seraya berkhutbah:
يا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهلَكَ الَّذِينَ قَبلَكُم أَنَّهُم كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِم الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِم الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيهِ الحَدَّ
”Wahai manusia! Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian semua disebabkan oleh ketika salah seorang yang dianggap memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi mencuri, mereka tidak menghukumnya. Namun, ketika ada seorang yang dianggap rendah dan lemah, kalian menghukumnya”.
Nabi melanjutkan khutbahnya,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Ketahuilah, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.”
Akhirnya, tangan Fatimah dipotong dan nabi menyatakan bahwa tobatnya telah diterima Allah Swt.
Ibrahim al-Qurtubi mengomentari hadis ini,
“Supremasi hukum wajib ditegakkan. Hukum tidak pernah mengenal kedekatan emosional. Hukum tidak membedakan kawan dan lawan. Dispensasi hukum juga tidak berlaku untuk anak cucuk nabi”
Tabik,
Dony Ekasaputra

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *