Berita Utama Santri

Tak Sopan? Nabi Saja diTegur

Bukankah Allah Swt telah mengajarkan kepada hamba-Nya bagaimana seharusnya mensyukuri nikmat? Bukankah tidak patut bagi sesama hamba “memuncratkan” laknat hanya karena beda soal anugerah nikmat? Bukankah Dia, rasul-Nya dan semua makhluk mengharapkan maslahat? Kemudian, bukankah para penyandang difabel itu masih ‘terpinggirkan’ oleh mereka yang tak memiliki akal sehat?

Allah Swt berfirman dalam sebuah ayat

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ

Artinya : “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit dan kalian semua untuk makan bersama di rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian (Qs. al-Nur : 21)

Lihatlah bung, bukankah tampak jelas semangat kesetaraan sosial bagi difabel ataupun non difabel dari ayat tersebut? Bukankah Tidak boleh ada yang berkhianat terhadap kewujudan sesamanya? Sebab, kewujudan adalah term yang keramat bagi insan terhormat. Selanjutnya bung, bukankah penganiayaan, penindasaan, ketidaksetaraan dan ketidakpantasan harus dihilangkan dengan harapan supaya semuanya bisa menikmati lezatnya rahmat?

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11)

Artinya : “Dia, yakni Nabi Muhammad Saw berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra datang kepadanya dan tahukah engkau wahai Muhammad Saw, barangkali ia ingin menyucikan dirinya dari dosa atau ia ingin mengambil pelajaran yang bermanfaat untuknya. Adapaun orang yang merasa pribadinya sudah cukup, yakni pembesar Qurais, maka engkau justru memperhatikan mereka. Padahal tidak ada cela bagimu kalau mereka tak menyucikan diri. Sedangkan orang yang sedang bersegera datang padamu dengan sungguh-sungguh di saat ia juga takut kepada Allah Swt, justru engkau abaikan. Sekali-kali jangan begitu. Sungguh semua ayat dan surat adalah sebuah peringatan (Qs. Abasa :1-11)

Bukankah dari ayat di atas, Nabi Muhammad Saw ditegur oleh Allah Swt sebab mengabaikan seorang penyandang difabel, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum pada saat sahabat Nabi itu ingin belajar bagaimana caranya menjadi pribadi yang bermanfaat? Ingat bung! Nabi saja ditegur karena bersikap tidak baik terhadap penyandang difabel, apalagi orang “bejat” seperti kita.

Oke, terkahir bung, kali ini TA akan membahas tentang bagaimana pandangan fikih terhadap orang-orang penyandang difabel? Dan apakah benar atau justru salah sikap masyarakat selama ini terhadap penyandang difabel? Selengkapnya, simak di Majalah Tanwirul Afkar Edisi 549.(asb)

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *