Berita Utama Santri

Coming Soon, Menuding Masyarakat Jahat Kitab Fikih Sesat

Pada era milenial ini, kaum difabel telah banyak mewarnai beberapa sektor kehidupan. Dimulai dari perkantoran, bagian pendidikan, pelayanan masyarakat, bahkan juga ada yang sampai menjadi atlet di bidang olahraga. Hal ini membuktikan bahwa kaum difabel juga dapat mengisi dunia dengan nyaman bersama dengan yang non difabel.

Namun, akhir-akhir ini terdapat beberapa kasus yang diduga diskriminasi terhadap orang difabel. Salah satunya adalah kasus Alde Maulana yang telah lulus tes CPNS di Badan Pemeriksaan Keuangan untuk formasi disabilitas. Setelah ditetapkan resmi sebagai CPNS oleh pemerintah pada tanggal 24 Januari 2019, sebulan berikutnya (tepatnya pada tanggal 28 Februari 2020) Alde Maulana diberhentikan dengan hormat sebagai CPNS.

Berdasarkan beberapa pemberitaan media, kasus ini berawal setelah yang bersangkutan diminta oleh BPK untuk memeriksakan kesehatannya di RSPAD, Gatot Soebroto. Pemeriksaan tersebut menghasilkan keterangan resmi dari pihak rumah sakit bahwa Pak Alde memiliki catatan kesehatan dan harus mendapat pengobatan. Alih-alih mendapatkan aksesibilitas dan akomodasi yang layak sehingga nantinya Alde mendapat pengobatan dan bisa tetap bekerja, BPK mengeluarkan surat keputusan yang isinya memberhentikan Alde secara terhormat. Itulah sekelumit kasus yang disinyalir terdapat diskriminasi terhadap kaum difabel. [Tempo.co]

Lalu apakah benar, pola pikir masyarakat yang katanya mendiskriminasi terhadap kaum difabel terpengaruhi oleh teks-teks fikih yang disinyalir memuat hukum yang terkesan diskriminatif terhadap kaum difabel? Lantas bagaimana sebenarnya pemutusan hukum menurut kacamata fikih dalam kitab-kitab klasik terhadap kaum difabel? Mari sejenak siapkan kopi untuk menyimak ulasan berikut ini!

Difabel, disabilitas atau keterbatasan diri (dalam bahasa inggris disability) bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini. Istilah difabel atau disabilitas sendiri memiliki arti yang agak berlainan. Difabel didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan berbeda dalam menjalankan aktifitas daripada orang-orang kebanyakan dan belum tentu diartikan sebagai cacat (dissabled). Sementara disabilitas (disability) memiliki arti sebagai seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas.

Al-Qur’an sendiri membahasakan kaum difabel menggunakan redaksi (term) الأَعْمَى (a’ma) yang artinya tunanetra atau orang yang buta (Qs. al-Fath ayat : 17), بُكْمٌ  yang berarti tunawicara atau orang yang bisu (Qs. al-Baqarah ayat : 18), الأَصَمّ yang berarti tunarungu atau orang yang tuli (Qs. al-Baqarah ayat : 18), المَرِيْضُ (orang yang sakit) (Qs. al-Fath ayat : 17), مَجْنُونٌ  yang berarti orang yang hilang akalnya (Qs. al-Qalam : 51), danالأَعْرَاجْ  (a’raj) (Qs. al-Fath ayat : 17) yang berarti tunadaksa atau orang yang memiliki kelainan fisik seperti pincang dan lain sebagainya dan سَفِيهًا  bermakna orang yang lemah akalnya atau idiot (Qs. al-Baqarah : 282), Imam Mujahid mengartikan kata سَفِيهًا  tersebut dengan orang yang bodoh [Tāj al-‘Urūs min Jawāhir al-Qāmūs, jus 36 hal 400]

Selengkapnya, silakan simak di Majalah Tanwirul Afkar Edisi 549

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *