Kontemporer

Sekjen PBNU: Masyarakat Indonesia Jangan Benturkan Agama dengan Negara

Beberapa waktu lalu saya mengikuti webinar yang diadakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok. Satu dari dua narasumber webinar tersebut adalah Dr. (HC) H. Helmy Faisal Zaini. Ada beberapa poin bahasannya yang penting dan memiliki relevansi dengan kondisi terkini masyarakat Indonesia. Sehingga, saya pikir hal itu menarik diulas di sini dan kiranya sayang untuk dilewatkan.

Sekjen PBNU itu mengawali pemaparannya dengan menyebutkan dua amanah atau tanggung jawab setiap warga NU, yakni amaanah diiniyyah (tanggung jawab keagamaan) dan amaanah wathoniyyah (tanggung jawab kebangsaan).

Untuk konteks amanah yang pertama, tokoh berusia 48 tahun itu menjabarkan spirit dari ayat terakhir surah Quraisy. Bahwa sejatinya tugas agama menuntut transformasi besar-besaran untuk membebaskan umatnya dari dua keterjajahan, yaitu keterjajahan dari rasa lapar (kemiskinan) dan keterjajahan dari rasa takut (kecemasan).

Sedangkan refleksi atas amanah yang kedua yang kemudian pada tahun 1914, Hadlrotus-Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari mendeklarasikan jargon hubbul-wathon minal-iman (cinta tanah air merupakan bagian dari iman). Dengan demikian, sebagai umat Islam Indonesia, orang NU tidak hanya berkewajiban untuk menjalankan ajaran-ajaran agamanya, tetapi juga berkewajiban dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.

Ahwal tersebut sesuai dengan rumusan tugas dan kewajiban pokok NU yang dihasilkan pada Muktamar NU ke-33 di Jombang. Pertama, memantapkan ajaran Islam yang berhaluan ahlusunah waljamaah (aswaja). Kedua, komitmen menjaga Pancasila dan NKRI. Ketiga, meningkatkan kualitas hidup warga NU, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Selanjutnya, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal periode 2009-2014 itu menyinggung perihal posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Diperkirakan jumlah populasi penduduk muslim Indonesia saat ini sekitar 229 juta orang.

Memang ada banyak teori mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia, atau yang dahulu disebut Nusantara. Di antara teori-teori yang ada yang paling masyhur adalah teori yang menyatakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ketujuh dan dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India. Sejarah pun mencatat, Islam datang ke Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan antar-etnis, serta pemerintahan atau kesultanan.

Intinya, Islam hadir di Indonesia bukan lewat perang, juga bukan dengan membenturkan agama dengan budaya lokal yang baik. Bahasan ini lantas Pak Helmi kaitkan dengan miskonsepsi sebagian kalangan terhadap istilah Islam Nusantara yang dianggap sebuah agama atau ajaran baru. Padahal, Islam Nusantara merupakan khosho’ish (protipe) dari dakwah Islam ketika masuk ke Nusantara yang notabene melebur dengan budaya lokal yang baik, sehingga dapat melahirkan spirit wathoniyyah (kebangsaan).

Karena itu, menurutnya, masyarakat Indonesia seyogianya tidak membentur-benturkan agama dengan negara. Sebagaimana teori Gus Dur, bahwa dalam ahwal relasi antara agama dan negara terdapat tiga macam paradigma, yakni integralistik, sekularistik, dan simbiotik. Adapun paradigma integralistik adalah paradigma yang meletakkan agama dan negara menjadi satu kesatuan integral. Contohnya, Arab Saudi yang menjadikan hukum-hukum agama sebagai hukum positif negara.

Lalu, paradigma sekularistik, yaitu paradigma yang secara tegas memisahkan agama dengan negara. Contohnya, Turki pasca runtuhnya Khilafah Utsmani. Sementara paradigma yang terakhir, paradigma simbiotik yang memposisikan kepentingan agama dan negara secara harmoni. Paradigma terakhir inilah yang berlaku di negara Indonesia, sehingga umat Islam Indonesia akan menjalankan keislaman dan keindonesiaannya sekaligus dalam satu tarikan napas.

Walakhir, dalam konteks kehidupan kiwari, alumnus Universitas Darul Ulum Jombang itu menekankan kesadaran segenap nahdliyyin agar benar-benar mewujudkan trilogi ukhuwah NU (ukhuwwah islaamiyyah atau solidaritas sesama umat Islam, ukhuwwah wathoniyyah atau persaudaraan sebangsa setanah air, serta ukhuwwah basyariyyah atau persaudaraan kemanusiaan) secara paripurna. Begitulah lebih kurang poin-poin krusial yang beliau sampaikan.

Wallahu a’lam bish-showab.

Oleh: Ahmad Rijalul Fikri (Mahasantri Ma’had Aly Situbondo Asal Lombok)

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

  1. Everything is very open with a really clear explanation of the issues. It was truly informative. Your site is very useful. Many thanks for sharing! Annabal Iain Kimberli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *