Akhlak Hukum Islam

 Haram Seorang Guru Mengajar Tanpa Belajar Terlebih Dulu

Mungkin cukup lama Sang Maha Kuasa memberikan cobaan kepada Sang Murobbi, alm.. KH. Hariri Abdul Adhim. Semenjak kesehatan beliau semakin hari semakin parah, maka hal itu berimbas terhadap seringkalinya pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin diliburkan. Dari itu, kami selaku para santri sangat mengkhawatirkan keadaan Sang Murobbi.

Tidak ada lagi kata “berdiri” yang muncul dari lisan beliau di saat salah seorang santri keliru dalam membaca kitab. Pada waktu itu, Rindu ini sudah sangat memuncak sehingga kamipun tak tahan lagi ingin mengaji dan mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin.  Dari sini, kami mencari solusi bagaimana caranya agar tetap bisa mengais ilmu dan barakatnya.

Timbul fikiran bahwasanya kami akan mengaji ke kediaman beliau setiap pagi. Ide tersebut, kami sampaikan kepada salah satu khadam (santri yang melayani kiai dan keluarganya), yaitu Zhen.

Kira-kira 1 minggu kemudian, si  Zhen  membawa pesan-pesan dari Sang Murobbi, “Saya sebenarnya ingin kembali mengisi pengajian, tapi saya tidak bisa muthola’ah (belajar), gimana ini?”. Mendengar cerita singkat dari si Zhen,  kami tertegun. Selevel kiai masih harus muthola’ah sebelum mengajar. Dalam hati, kami bergumam, bukankah kitab Ihya’ sudah menyatu dengan beliau, tapi kenapa masih beralasan demikian?

Kemusykilan (kejanggalan) ini terjawab pasca wafatnya Kiai Hariri, tepatnya Pada  saat Ustaz Nuruddzolam mengisi kuliah. Beberapa menit setelah pelajaran dimulai, dosen mata kuliah kitab jam’ul jawami’ itu tiba-tiba menutup pelajaran, “sudah cukup sampai disini dulu, yang penting istikamah belajar, selain itu saya semalam juga belajar sampe ibarah (teks) ini, dulu alm. KH. Achmad Hariri pernah dawuh, guru hukumnya haram mengajar kalau tidak belajar.”

Lahu la-fatihah untuk Kiai hariri.

4.6/5.0 Article rating
10 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *