Berita Utama Kontemporer

Citra Islam Tercoreng di Dalam Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Dari kemaren bahas dalil melulu tak selesai-selesai. Entar perayaan tahun baru, heboh lagi dalilnya. Lihat sono tetangga sebelah, udah buat matahari.

Komen seperti itu acapkali terlihat dan terdengar. Sebenarnya kami paham maksud baik anda sekalian, sebagaimana pula kami paham bahwa ada pada sebagian orang Islam yang sangat ekstrim dalam menyikapi sesuatu, bahkan di dalam hal yang bersifat khilafiyah (perdebatan), seperti hukum merayakan tahun baru masehi. Lumrahnya, bila berbeda pandangan dengan mereka, maka bisa dihukumi kafir, musrik dan lainnya. Dari tipikal orang seperti ini kadang Agama Islam terkesan berjalan ke belakang.

Olehkarenanya, siapapun anda bilamana bertemu dengan tipikal orang Islam seperti itu, mohon dimaklumi dan pastinya orang Islam tak semuanya seperti dia. Kemudian, kami berbicara dalil bukan berarti menunjukan, bahkan bisa diputuskan bahwa Islam dan sebagian besar penganutnya antipati terhadap perkembangan zaman.
Baiklah, narasi di atas sebenarnya menarik, namun diperlukan pembahasan serta penelitian yang dalam. Oke wan-kawan, kayaknya pembukaan tulisan sudah dianggap cukup, berarti langsung sajalah kepada pembahasan dari tulisan ini. tentang pandangan fikih terhadap perayaan tahun baru.

HUKUM PERAYAAN TAHUN BARU
Nabi Muhammad Saw bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka”
Secara dzahir, hadits ini menyatakan bahwa bila kita mengikuti tradisi suatu kaum, maka kita dikategorikan termasuk salah satu anggota kaum tersebut. Dari hadits ini, Imam al-Baihaqi menegaskan tentang kemakruhan memasuki tempat peribadatan kaum musyrik di hari besar mereka dan menyerupai mereka di tahun baru dan pesta-pesta mereka. [al-Fatawi al-Kubro, 310:III]

Sementara itu, seorang ulama’ kontemporer, Dr. Ahmad as-Syarbashi memberikan sebuah tawaran mengenai kebolehan mengikuti perayaan-perayaan umat Kristiani termasuk milad-nya Isa al-Masih, namun harus memenuhi tiga syarat: pertama: perayaan yang diadakan tidak menyebabkan umat muslim melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Kedua: dalam perayaan tersebut tidak terdapat munkarat (hal-hal yang dilarang dalam Islam). Ketiga: tidak bertentangan dengan akidah dan ajaran agama Islam. [Yasalūnaka fi al-Dīn wa al-Hayāt, 412:IV]

Lalu pendapat mana yang lebih kuat? Secara sepintas, kalau mengikuti pemahaman di dalam kitab al-Fatawi al-Kubro itu, seakan-akan hadits di atas dipaksa untuk digeneralisasi (dianggap umum sehingga mencakup pada tasyabbuh/ penyerupaan dalam bentuk apapun). Padahal, bila kita amati redaksi hadits tersebut, kata tasyabbaha adalah fi’il yang itsbāt (kata kerja positif) yang menurut kajian bahasa tidak bisa mencakup pada segala macam tasyabbuh. [Ghayatu al-Wushul, 73]

Di samping itu, secara logika hampir 80% kehidupan umat Islam telah menyerupai gaya hidup orang non-muslim. Misalnya dari cara berpakaian, berbicara, bekerja, bahkan dalam sistem pendidikan sebagian besar mengadaptasi dari orang-orang non-muslim. Bila kita tetap mengeneralisasikan hadits di atas, maka kita telah termasuk orang musyrik sejak kita baru membuka mata, karena sejak saat itu kita sudah menggunakan cara-cara dan pakaian-pakaian orang musyrik.

Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa hadist ini diarahkan pada hal-hal yang bersifat ritual keagamaan, kekafiran, dan kemaksiatan. [‘Aun al-Ma’būd Syarh Sunan Abi Daud, 54:IX]. Berdasarkan argumen ini, maka perihal yang bersifat ‘ādah (tradisi) tidak masalah untuk diikuti denga catatan bukan merupakan sebuah kemaksiatan atau kekafiran . [untuk lebih jelasnya, baca TA edisi 125]

Terlepas dari dua pendapat di atas, tampaknya perayaan tahun baru pada saat ini sudah terlepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Ia tidak lagi dipandang sebagai karya umat non muslim. Peringatan tahun baru lebih terlihat sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan pada kita, berupa kesempatan untuk menghirup udara baru. Selain itu, kebanyakan orang menggunakan momen tahun baru sebagai ajang untuk introspeksi diri dan menata segala kegiatan yang akan datang agar lebih baik dari tahun sebelumnya.

Bila kita memandang tahun baru dari sudut pandang ini, maka seluruh ulama’ sepakat bahwa hukumnya boleh-boleh saja memperingati tahun baru. Mengapa bisa dikatakan demikian? Sebab mensyukuri nikmat merupakan hal yang mesti dilakukan oleh setiap insan menurut ijma’ ulama’. Selain memakai sudut pandang ini, perayaan tahun baru sudah tidak identik dengan orang non muslim, karena semua orang di dunia memperingati tahun baru. Baik Negara Islam maupun Negara non Islam. Oleh karena itu, hukumnya pun berbeda dengan masa lalu ketika tahun baru dianggap identik dengan umat non muslim. Kaidah fiqh mengatakan:

تَغَيُّرُ اْلفَتْوَى وَاخْتِلاَفُهَا ِبحَسَبِ تَغَيُّرِ اْلاَزْمِنَةِ وَاْلاَحْوَالِ وَالنِّيَّاتِ وَاْلعَوَاعِدِ

“Perubahan keputusan fatwa dan perbedaannya bergantung pada perubahan waktu, keadaan, niat,dan kebiasaan.” [al-Madkhal al-Fiqhy al-‘Ām, 939:II]

Dengan demikian, perayaan tahun baru diperbolehkan dengan mempertimbangkan waktu, keadaan, niat dan kebiasaan yang telah berubah. Dari kami, untuk kalian semua. Selamat tahun baru dan semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

4.6/5.0 Article rating
5 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *