Kajian Keislaman Santri

Coming Soon, Mengenal Pasangan Ideal Melalui Kaidah Fikih

CINTA BUKANLAH SEGALANYA

Secara naluri, manusia memiliki kecenderungan untuk hidup berpasangan. Ini adalah fitrah makhluk hidup secara umum. Dalam surat Yasin ayat 36 Allah memuji diri-Nya yang telah menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan. Imam al Sya’rawi menuturkan bahwa kata “subhan” yang menunjukkan kesucian dan keagungan Tuhan selalu disebutkan dalam setiap hal menakjubkan, seperti penciptaan makhluk berpasang-pasangan dalam surat Yasin ayat 36 dan peristiwa isra’mi’raj dalam surat al Isra ayat 1.

Secara biologis, manusia membutuhkan pasangan hidup untuk melestarikan keturunannya. Dalam surat Al Nisa ayat pertama Allah menetapkan bahwa perkembangbiakan umat manusia adalah dengan cara hidup berpasangan. Mula-mula manusia pertama (pria) diciptakan dari satu jiwa. Lalu Allah menciptakan pasangan (wanita) untuk manusia pertama dari dirinya sendiri. Kemudian Allah menciptakan seluruh keturunan umat manusia dari keduanya (pria dan wanita).

Untuk menjaga kehormatan dan martabat manusia sebagai makhluk yang berakal dan beradab, Allah menetapkan sebuah aturan dalam mengikat hubungan sepasang manusia, yaitu melalui akad pernikahan. Dalam surat al Nisa ayat 21 Allah menyanjung ikatan pernikahan dengan sebutan ikatan yang kokoh (mitsaq ghalidhz), yaitu sebuah ikatan yang agung, suci dan sangat kuat yang mengikat seorang pria dengan wanita untuk hidup bersama selamanya. Seseorang yang melakukan akad pernikahan berarti ia telah mempercayakan dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk melaksanakan kewajiban rumah tangga dan menunaikan hak-hak pasangannya. Uniknya, kata mitsaq ghalidhz dalam al Qur’an hanya digunakan untuk dua macam ikatan, yaitu ikatan pernikahan (an Nisa ayat 21) dan ikatan perjanjian antara Allah dengan Bani Israil agar mereka berpegang teguh pada ajaran Taurat (al Nisa ayat 154).

Untuk mewujudkan kehidupan berpasangan dalam rumah tangga yang sejahtera (sakinah), Allah telah memberikan bekal yang sangat ampuh bagi umat manusia, yaitu cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), sebagaimana yang disinggung oleh surat al Rum ayat 21. Cinta akan mendorong manusia untuk membangun ikatan, dan kasih sayang akan mendorongnya untuk bertahan dalam ikatan yang telah dipancangkan. Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia secara berpasang-pasangan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah. Menurut Ibn ‘Asyur, ayat ini secara tidak langsung juga menyangkal keyakinan adanya anak hasil perkawinan jin dengan manusia.

Hanya saja, dalam hal mencintai manusia dianugerahi pandangan dan kriteria penilaian yang berbeda-beda. Boleh jadi seseorang mencintai karena bertumpu pada perangai, tingkah laku, akhlak dan kecantikan dalam (inner beauty). Ada pula yang berpatokan pada kekayaan, strata sosial atau kecantikan luar belaka. Dalam terminologi ajaran Islam, dikenal sebuah standar baku yang menjadi tolak ukur umum, yaitu mencintai karena Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja, ukuran ini tidak hanya berlaku dalam hal pernikahan, tetapi mencakup segala aspek kehidupan.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa cinta akan kekal dan terus bertumbuh sepanjang usia pernikahan. Kadang rumah tangga akan terasa hampa karena cinta telah tiada, saat itulah kasih sayang berperan penting untuk memperkuat ikatan pernikahan. Kadang ada dua insan yang tak pernah berjumpa terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa cinta, tapi cinta tumbuh subur seiring perjalanan bahtera rumah tangga menerjang ombak samudera. Tak ada yang bisa menjamin gerak hati manusia. Bahkan, seorang manusia tak dapat mengendalikan hatinya sendiri. Ia tak dapat memaksakan diri untuk mencintai sesuatu, dan tak dapat mengelak saat ia jatuh cinta pada sesuatu. Maha Suci Allah yang berkuasa menggerakkan dan membolak-balik hati manusia.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan pasangan hidup ideal demi mewujudkan rumah tangga yang sejahtera (sakinah), cinta bukanlah tolak ukur utama, dan bukan satu-satunya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup untuk membangun hubungan yang harmonis. Buku ini mengupas tuntas bagaimana memilih pasangan ideal berdasarkan kaidah-kaidah fikih. Selamat membaca!

Catatan akhir: Menurut saya pribadi, membangun hubungan berlandaskan pada “cinta pandangan pertama” hanyalah omong kosong yang difantasikan dalam drama kehidupan oleh cerita fiksi, novel atau film. Tak ada yang bisa menjamin kesuksesan ikatan pernikahan yang hanya disandarkan pada tolak ukur “cinta pandangan pertama” belaka. Kalau toh ada pasangan sukses membangun rumah tangga dengan cinta pandangan pertamanya, maka – saya katakan – pasti ada banyak faktor lain yang mendorong keduanya mempertahankan rumah tangga.

Penulis: Surur Anbarsa (Dosen Ma’had Aly Sukorejo)

4.4/5.0 Article rating
7 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *