Hukum Islam Kajian Keislaman

Status Hukum AUT, Air Seni Yang diJadikan Obat

Hukum Praktik Auto Urin Therapy (AUT)

Seluruh ulama sepakat bahwa status kencing adalah najis dan mengkonsumsi sesuatu yang najs adalah haram. Namun, persoalannya sekarang, bagaimana hukum praktik air seni yang dijadikan obat, yang konon katanya dapat mencegah seluruh penyakit yang menyerang kepada tubuh?

Jawaban

Pada dasarnya, hukum memanfaatkan barang yang najis baik untuk berobat atau yang lainnya adalah haram karena Nabi Muhammad Saw. bersabda,

إِن الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم

Sesungguhnya Allah Swt belum pernah menciptakan sebuah penawar pada barang yang diharamkan bagi kalian” (H.R. Bukhari)

Alih-alih dapat dimanfaatkan sebagai wasilah untuk mencegah segala penyakit, bahkan Rasulullah Saw. menegaskan bahwa sesutau yang haram itu bukan obat, melainkan penyakit. Hal ini disebutkan oleh beliau ketika menjawab pertanyaan sahabat Ibnu Suwaid tentang hukum khamr (fermentasi perasan anggur yang dapat memabukkan) yang dijadikan sebagai obat. (H.R. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Turmudziy)

Namun, hukum di atas tidak digenaralisir dikalangan ulama empat mazhab. Dalam mazhab Hanafi terdapat dua catatan untuk mengharamkan berobat dengan sesutu yang haram yaitu: Pertama,  tidak ada keyakinan (hanya berupa dugaan kuat atau ragu-ragu) bahwa berobat dengan sesuatu yang haram dapat menyebuhkan penyakit yang dialami. Kedua, masih ditemukan obat yang berasal dari sesuatu yang tidak haram. Oleh karena itu, jika diyakini dapat menyembuhkan dan tidak ada lagi obat selain barang haram tersebut maka hukumnya diperbolehkan.

Menurut mazhab Syafii, keharaman berobat dengan sesuatu yang haram hanya diberlakukan jika barang haram tersebut murni atau tidak bercampur dengan barang yang suci lainnya. Oleh karenanya, jika obat yang berasal dari sesuatu yang haram masih tercampur dengan sesuatu yang suci lainnya dan tidak ada lagi sesuatu yang suci untuk dijadikan obat maka hukumnya boleh.

Sebagai tambahan, Izzuddin ibn Abdissalam berkata,

جاز التداوي بالنجاسات إذا لم يجد طاهراً يقوم مقامها؛ لأن مصلحة العافية والسلامة أكمل من مصلحة اجتناب النجاسة، ولا يجوز التداوي بالخمر على الأصح إلا إذا علم أن الشفاء يحصل بها، ولم يجد دواء غيرها

Diperbolehkan untuk berobat menggunakan sesuatu yang najis jika tidak menemukan barang suci yang dapat dijadikan obat karena maslahat berupa kesehatan dan keselamatan jasmani lebih sempurna (diutamakan) dari pada hanya sekedar maslahat meninggalkan sesuatu yang najis. Dan tidak boleh berbobat dengan khamr (atau barang haram lainnya, red) kecuali diyakini dapat menyembuhkan dan tidak menemukan obat (yang suci, red) lainnya.

Berdasarkan pendapat ulama di atas, hukum praktik terapi urin atau unrine therapy adalah dirinci sebagai berikut:

  1. Jika Auto Urin Therapy (AUT) diyakini dapat menyembuhkan penyakit yang dialami, dan tedapat campuran yang lain (jika ada), serta tidak ada barang suci yang dapat dijadikan obat maka hukumnya diperbolehkan.
  2. Jika tidak memenuhi standar operasional di atas maka hukum Auto Urin Therapy (AUT) adalah haram.

Begitulah pendapat yang ditawarkan oleh ulama lintas mazhab. Mereka sangat berhati-hati dalam mencetuskan hukum dari sebuah persoalan, khususnya ketika merubah hukum yang pada asalnya adalah haram menjadi boleh. Kendatipun pendapat ulama di atas terkesan ketat, akan tetapi semangat dari pandangan-pandangan di atas adalah mewanti-wanti seseorang agar tidak sebebas-bebasnya dalam mengkonsumsi sesuatu yang haram sekalipun sebagai obat. Hal ini dikarenakan hukum kebolehan tersebut hanya boleh digunakan ketika dalam kondisi darurat sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Dua Imam dari kalangan mazhab Maliki, Ibn al-‘Arabi dan al-Qurthubi berpandangan, menggunakan sesuatu yang haram sebagai obat diperbolehkan hanya dalam kondisi darurat (emergency). pendapat ini sesuai dengan kaidah fikih,

الضرورات تبيح المحظورات

 “Segala kondisi darurat (emergency) memperbolehkan kepada sesuatu yang dilarang atau haram

Dikarenakan hukum kebolehan ini hanya dalam kondisi darurat maka keringanan ini tidak bisa dimanfaatkan secara mutlak, melainkan ada batasnya atau sewajarnya sebagaimana yang juga disebutkan dalam kaidah fikih,

الضرورة تقدر بقدرها

Kondisi darurat harus dimanfaatkan secara sewajarnya

Lantaran demikian, maka praktik terapi air seni untuk menyembuhkan penyakit tidak dibenarkan jika dilakukan secara mutlak, sebebas-bebasnya. Apalagi terapi ini hanya digunakan sebagai pecegahan (defensive) dari sebuah penyakit. Kendatipun ada penelitian yang menyimpulkan bahwa di dalam urin terdapat zat yang  sangat bermanfaat bagi sistem kekebalan dan meningkatkan daya tahan tubuh manusia, akan tetapi cara kerja terapi ini sebenarnya masih belum banyak diteliti, yang ada hanyalah dugaan dan berupa hipotesis saja, sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM dalam situs https://www.infodokterku.com/index.php/en/91-daftar-isi-content/macam-macam-info/yang-perlu-anda-ketahui/145-terapi-auto-urin.

Terlebih lagi, masih banyak obat-obat halal (suci), mengandung nutrien, vitamin, hormon, asam amino dan mineral yang juga bermanfaat bagi sistem kekebalan dan meningkatkan daya tahan tubuh manusia. So, selagi masih ada jalan yang halal dan menyehatkan, jangan mau tertipu dengan segala informasi yang masih belum terbukti validitasnya secara medis, serta malah membuat kita masuk pada jalan yang jauh dari rida Allah Swt.

Penulis: Ahmad Shafa Uzzad (Santri aktif Ma’had Aly Situbondo)

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *