Kajian Keislaman Santri

Tajuk Cinta Sang Maestro Ibnu Arabi

Siapa yang tak kenal dengan sang maestro sufi Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al Asybali al Maliki atau yang dikenal akrab di telinga kita dengan sebutan Ibnul Arabi. Beliau  adalah seorang imam sunni, qadi dari mazhab Maliki pada era Spanyol, beliau dilahirkan di kota Sevilla pada tahun 468 H atau 1076 M dan meninggal di kota Fez, Maroko pada 543 H atau 1148 M. Ayahnya bernama Abu Muhammand ibn al-‘Arabi merupakan seorang pejabat tinggi pada era Khalifah Taifa di Sevilla. Ayah beliau merupakan salah seorang murid dari ulama yang sangat terkenal alim allamah yakni Ibnu Hazm.

Pada saat Ibnu Arabi menginjak umur 9 tahun, ia terpaksa bermigrasi dengan ayahnya ke luar negeri untuk menghindari kekacauan politik pada masa pemerintahan dinasti Al-Murabithun, setelah itu mereka berdua tinggal di kota Yerusalem sepanjang tahun 1093-1096 M. Kemudian bermigrasi lagi ke Damaskus dan Baghdad untuk mendalami ilmu agama Islam. Dalam sejarah tercatat Ibnul Arabi sempat belajar kepada sang master ilmu tasawuf dari kalangan sunni yakni Imam Ghazali. Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1099 M di umur 57 tahun, Ibnul Arabi yang telah berumur 26 tahun kembali ke Sevilla untuk mulai mengajar sehingga kemudian menjadi ulama yang terpandang di sana.

Ibnu Arabi banyak di kenal dikancah dunia sebagai seorang sufi besar, selain dikenal sebagai tokoh sufi dia juga seorang filosof, banyak orang yang penasaran dan di buat bingung olehnya, ia memiliki pemikiran tidak sejalan dengan mainstream dan cukup banyak menuai kontroversi namun mekipun demikian, pemikiran beliau banyak di minati oleh para pemikir Islam maupun barat. Beliau dianggap sebagai filsuf sekaligus tokoh Sufi paling dibicarakan sepanjang sejarah, sampai-sampai ia memiliki julukan asy-Syaikh al-Akbar ( Sang Mahaguru ). Salah satu Gagasan yang menuai pro dan kontra pada masa beliau adalah pendapat beliau tentang teori Wahdah al-Wujud dan al-Insan al-Kamil-nya. Namun siapa mengira, ternyata gagasan itu justru mengalir dari kecintaannya pada sosok perempuan sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang cukup cemerlang.

Di balik pemikiran Ibnu Arabi yang cukup menuai pro dan kontra, ada yang menarik tentang pemikirannya tentang masalah tuhan, tuhan menurutnya dapat didekati melalui cinta. Dengan cinta kita dapat meraih segalanya, lantunan Puisi-puisi Ibnu Arabi yang berisikan pujian terhadap kecantikan perempuan yang sarat akan faktor duniawi tidak hanya diinterpretasikan kepada kerinduan semata akan sesosok perempuan. Namun, bagi Ibnu Arabi, dengan mengungkapkan puisi-puisi melalui pujian kepada Allah selalu membutuhkan suatu sarana. Dan, menurutnya, kekaguman terhadap perempuan adalah sarana terbaik untuk memuji kepada sang pencipta. Melalui sarana ini sang maestro Ibnu Arabi bisa mencapai maqam yang tinggi di sisi tuhannya.

Di dalam kitabnya Risalah al-Ladi la Yu’awwalu Alaihi Ibnu Arabi menuturkan tentang cinta:

كل حب لايفنيك عنك ولا يتغير بتغير التجلي لايعول عليه،

و كل حب تبقي في صاحبه فضلة طبيعة لايعول عليه،

“Setiap cinta tidak akan menyimpang dari mu dan ia  tidak akan berubah dengan sebab berubahnya trasfigurasi menjadi tidak bergantung padanya,

Dan setiap cinta tetap di dalam pemiliknya sebagai sebuah karunia alam yang tidak bergantung padanya.”

Menurut Ibnu Arabi hati sang kekasih ibarat sebuah cangkir minuman yang berwarna transparan yang diwarnai oleh keadaan orang yang dicintai, sedangkan warnanya, dan transfigurasi adalah perwujudan dari sang pencinta itu sendiri, jadi cinta yang tidak berubah dengan sebab perubahan perwujudan orang yang dicintai adalah keadaan hati yang tetap tegak dalam tempat wujudnya. Ia tidak terpengaruh oleh perubahan warna-warni yang disebabkan oleh manifestasi dari yang dicintai, karena ini hanyalah merupakan sebuah cerminan dan transfigurasi atau  hanya sekedar gambaran  saja, bukanlah sesosok dari kekasih itu sendiri.

Cinta menurut ibnu arabi memili dimensi yang sangat mendalam, dengan adanya cinta segala sesuatu yang terasa sangat sulit akan tersa tiada berarti. Cinta itu tidak terikat denga dirinya sendiri, melainkan cinta merupakan manifestasi dari perwujudan cinta itu sendiri, Ibnu Arabi ingin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cinta adalah ketidak bergantung cinta itu sendiri dan juga dalam sebuah cinta tidak mencari suatu kemaslahatan atau keuntungan dari dirinya sendiri, Karena hal ini akan bertentangan dengan apa yang menjadi sifat dasar dari cinta itu sendiri. Karena prinsip dasar dalam cinta adalah cinta itu sendiri, karena cinta yang tidak didasarkan oleh rasa cinta akan meniadakan rasa cinta itu sendiri.

Dari Ibnu Arabi kita dapat mengambil suatu pelajaran, bahwa agama dapat kita tempuh dengan perspektif cinta, dengan cinta kita dapat mengenal sang pencipta dengan cinta kita dapat sampai kepada tuhan karena cinta adalah awal dari segalanya, dengan cinta kita dapat merasakan suatu kenyamanan. Agama datang ke dunia dan di sebarkan oleh nabi dengan ramah, santun dan penuh dengan cinta, sehingga bisa di terima dengan lapang dada tanpa ada pemaksaan. Dengan cinta sesuatu yang keras akan menjadi lunak dengan cinta kita dapat merubah segalanya karena semuanya butuh cinta. Menurut Ibnu Arabi Cinta adalah keinginan terbesar dan hal yang paling sempurna oleh karena itu mengajarkan agama dan mendekatkan diri kepada tuhan degan cinta adalah hal yang luar biasa.

Penulis: Nur Hefni

3.5/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *