Akhlak Tokoh Nusantara

Syekh Ali Jaber, Akhlak Yang Tertinggal

Pada suatu hari, Siti Aisyah pernah ditanya oleh seseorang mengenai akhlak Rasulullah. Beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur`an, Beliau menyukai sesuatu yang disukai al-Qur`an, dan beliau juga membenci sesuatu yang dibenci al-Qur’an”.

Bunyi hadits di atas semakin memantapkan hati kita bahwa, akhlak Rasulullah begitu tinggi dan luhur. Sikap dan perilaku beliau adalah gambaran isi al-Qur`an yang suci nan agung. Karena itu, tidak heran bila beliau dipilih oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia di muka bumi ini. Dan ternyata beliau mampu menyelesaikan tugas berat itu berkat kemuliaan akhlaknya. Keluhuran akhlak beliau inilah yang menyebabkan beliau begitu disegani dan dihormati. Baik oleh kawan maupun lawan, sehingga beliau dengan mudah dapat menyeru umat manusia ke jalan yang benar.

Sejarah mencatat bahwa, untuk mengIslamkan masyarakat Madinah hanya ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Beliau berhasil membangun kota Madinah menjadi kota super power. Kemajuan pesat di bidang pertahanan, sosial, politik maupun perekonomian betul-betul terasa waktu itu. Sampai-sampai kejayaan Islam kala itu mampu mengalahkan Imperium Romawi dan Persia.

Ulasan kisah diatas Nabi menunjukkan, betapa akhlakul karimah begitu besar pengaruhnya dalam kehidupan. Akhlak merupakan kunci untuk meraih kesuksesan dan mencapai puncak kebahagiaan.  Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Suatu ketika, Rasulullah pernah ditanya tentang perbuatan yang bisa membuat seseorang masuk surga. Rasulullah menjawab ” Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulya.” Tidak hanya itu, keindahan dan ketentraman hidup di dunia juga bisa dicapai dengan akhlak. Coba, andaikan suatu masyarakat memiliki akhlak yang mulia, betapa masyarakat itu akan hidup sejahtera.

Masalahnya sekarang adalah akhlak seperti apakah yang bisa menjadi kunci kesuksesan, apakah ahklak yang sampai saat ini dipahami oleh masyarakat hanya sebatas merunduk dengan sopan di depan orang tua atau orang alim? Atau akhlak dengan makna yang lain? Untuk memahaminya, kita tentu harus tahu jawaban dari beberapa pertanyaan ini. Apa sich yang dimaksud akhlak itu? Adakah perbedaan antara akhlak dengan adab? Lalu ada berapa macam-macam dan derajat akhlak? Serta bagaimana mewujudkan akhlak dalam kehidupan.

Berbicara tentang akhlak, maka kita harus merujuk kepada sosok baginda Rasulullah saw. Beliau merupakan satu-satunya hamba Allah yang memiliki akhlak mulia yang tiada bandingannya. Saking luhurnya akhlak Kanjeng Nabi Muhammad, sehingga Allah memberi apresiasi lebih dibanding para nabi dan rasul lainnya. Hal ini dapat kita lihat langsung pujian dan sanjungan Allah dalam al-Quran surat al-Qalam ayat 04:

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”

Kalau begitu, lalu apa sebenarnya yang dimaksud akhlak? Jika ditinjau dari kajian bahasa, akhlak berasal dari akar kata al-khuluq/al-khulqu. Kata akhlak merupakan bentuk jama` dari kata “al-khuluq/al-khulqu“. Secara bahasa, Akhlak, al-khuluq ataupun al-khulqu dapat diartikan sebagai tabiat, pembawaan, karakter dan adat-kebiasaan. Sedangkan menurut istilah, definisi akhlak masih diperdebatkan di kalangan shufiyyin. Imam al-Jurjaniy mengatakan bahwa akhlak adalah suasana jiwa yang dapat menimbulkan tindakan baik atau buruk secara spontan tanpa perenungan sebelumnya. (al-Munjid 194; al-Ta`rifat, 105).

Abu Bakar Jabir al-Jazairy mengajukan definisi lain. Beliau mendefinisikan Akhlak sebagai suasana jiwa yang dapat mendorong seseorang untuk bertindak baik atau buruk. Pendapat senada juga diungkapkan oleh al-Qurthubiy. Beliau mengatakan bahwa Akhlak adalah sifat-sifat seseorang dalam berinterkasi dengan lainnya, baik terpuji ataupun tercela. (Minhaj al-Muslimin, 134, Fath al-Bariy, X, 456).

Perbedaan kedua pengertian di atas, sebenarnya hanya terletak pada tataran proses terwujudnya perbuatan. Artinya, apakah akhlak timbul melalui usaha atau secara spontan? Hanya saja, perbedaan tersebut masih dapat dipadukan. Sebab, ditinjau dari segi perwujudannya, akhlak itu ada dua macam, ada yang muktasab (diusahakan) dan ghairu muktasab (tanpa usaha). Dengan demikian, perbuatan baik seperti sifat malu, sabar, tawadhu`, ketabahan, dermawan, keberanian, keadilan, keteguhan pendirian, kejujuran, dan akhlak-akhlak yang mulia lainnya bisa muncul secara spontan dan juga dengan cara diusahakan. Demikian juga sebaliknya, segala perbuatan buruk seperti sifat dzalim, khianat, dengki, riya’, ‘ujub, malas dan lain-lain.

Dari definisi diatas –baik yang pertama atau yang kedua– dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa akhlak itu terbagi menjadi dua bagian. Pertamaakhlak mahmudah (akhlak yang terpuji) seperti rasa malu, sabar, tawadhu`, ketabahan, dermawan, keberanian, keadilan, keteguhan pendirian, kejujuran, dan sebagainya. Kedua, akhlak madzmumah (akhlak yang tercela) seperti sifat dzalim, khianat, dengki, riya’, ‘ujub, malas dan lainnya.

Berkenaan dengan bagian akhlak yang pertama ini, Imam al-Thabariy mengajukan sebuah pertanyaan, apakah akhlak mahmudah ini merupakan karakter sehingga tak dapat diupayakan ataukah bukan?

Dalam menanggapi pertanyaan ini, masih tidak lepas dari perselisihan. Paling tidak ada dua kelompok yang mejawab persoalan ini. Kelompok pertama mengatakan bahwa akhlak mahmudah adalah sebuah karakter yang memang sudah disematkan Allah dalam diri seseorang, bukan sebuah hasil usaha. Mereka mendasarkan pendapatnya terhadap hadits Nabi

“Sesunguhnya Allah telah menentukan akhlak kalian sebagaimana Dia telah menentukan rizkinya kamu sekalian” (Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, I, 640)

Kelompok kedua berpendapat bahwa akhlak mahmudah adalah dapat diupayakan (muktasab). Pendapat ini juga didasarkan Hadits Nabi yang berbunyi:

“Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: sesungguhnya dalam dirimu ada dua perkara yang disenangi Allah, yakni al-hilm dan sabar. Kemudian sahabat bertanya: apakah keduanya itu dahulu atau baru dalam diriku ya Rasul. Nabi menjawab: dahulu”. (Fathu al-Bari, X, 459).

Berbicara tentang akhlak, mengingatkan kami kepada sosok yang baik nan bijaksana, Syekh Ali Jaber. Namun Salah satu penceramah Indonesia itu kini telah dipanggil tuhannya, hanya kenangan tingkah dan nasihatnya yang tertinggal. Selamat jalan ya syekh. Doakan kami yang masih “lugu” ini.

Tanwirul afkar Edisi  314

4.0/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *