Dosen

Sepatu, Aku, Dan DR.HC. Kiaiku

SEPATU, AKU, DAN DR. HC. KIAIKU

Kapan sepatu pertama kali dipakai umat manusia? Bangsa mana yang memulai memakai dan menyukainya? Aku tidak tahu dan tidak akan mencari tahu. Yang kutahu beberapa kali sepatu memberikan pengalaman yang tidak menyenangkan dalam kehidupanku.

Aku tidak suka sepatu mungkin sejak zaman azali. Tapi saya belum tahu bagaimana tepatnya kisah saat itu. Yang paling dini dari yang kuingat, saat itu masih kelas tiga MI, kakiku memar ra-gara sepatu. Itu karena sepatunya kekecilan selain juga karena gak pakai kaos kaki.

Saat itu aku beberapa kali mendengar orang dewasa memberi nasihat kalau sepatu membuat kaki bersih dan aman. Semenjak memar itu, saya mengurangi kepercayaan kepada orang dewasa. Tetapi orang dewasa lain coba memulihkan pemahamanku, “Pilih sepatu yang pas. Pasang kaos kaki biar gak lecet.”

Coba perhatikan, yang satu bilang sepatu membuat kaki aman. Yang lain memberikan saran pasang kaos kaki supaya tidak lecet. Nah, jadi sebenarnya sepatu itu menggaransi keamanan atau mengancamnya?

Memang aneh memercayai sepatu memberikan keamanan. Yang aku lihat petani di desaku hampir semuanya telanjang kaki saat bekerja. Yang kulihat juga, pada saat hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa, dst, saya melihat orang banyak pakai sepatu. Mereka kerja di ruangan yang adem, tampang mereka menengah ke atas, dan beberapa detik setelah berbicara kepada ayah mereka selalu senyum, kelak aku tahu itu ternyata yang namanya pegawai bank.

Aku bertanya-tanya saat itu, mengapa pegawai bank tidak meminjamkan sepatu mereka ke petani desaku? Rasa aman apa yang mereka harapkan. Saya yakin sebenar yakin, tidak ada kalajengking, ular, bahkan duri kecil di tempat kerja mereka. Petani pasti lebih membutuhkan sepatu.

SMP dan SMA aku talak dengan sepatu. Itu karena pondokku, yang membawahi dua sekolah ini, melarang keras santrinya memakai sepatu, lantai kelas mesti suci, kalau tempat mencari ilmu mutanajis gak berkah. Begitu keyakinan guruku.

Namun, sepatu sesekali menyeringai membuat kesal. Persisnya, saat Ujian Nasional (UN), pihak sekolah mewajibkan kami memakai sepatu. Juga mewajibkan kami menanggalkannya sebelum naik ke teras. Sampai situ peran sepatu. Adapun di kelas, kami hanya pakai kaos kaki kalau memang memakainya.

Satu pengawas UN berbisik, “Dik, sepatunya kok gak dibawa ke kelas?” Saya jawab singkat dengan menyebut peraturan pondok, lalu mengembalikan muka ke lembar soal, dan berharap tidak ada pertanyaan lagi. Tapi rupanya dia penasaran, “Kalau sehari-hari ndak pakai, mengapa harus saat UN?”

Kepala kudongakkan demi menjawab, “Ndak tahu, tanya pihak sekolah. Mereka yang memutuskan. Kami yang melaksanakan. Kami gak perlu tahu mengapanya.” Tidak. Itu tidak kukatakan dengan lisan, hanya dalam benak saja. Hanya dua kata pertama yang kuperdengarkan.

Sekitar lima tahun lalu, aku pernah mengikuti suatu acara yang terhormat. Di situ hadir seorang konsulat Jerman. Ah, tidak penting acara apa itu. Yang penting adalah saat sesi potret, aku beruntung terpilih mewakili peserta lain. Tapi keberuntungan itu sekejap menguap. Panitia dengan sangat sopan memintaku kembali ke tempat, dia jelaskan duduk perkaranya, ditutup dengan permintaan maaf yang tulus. Singkatnya, aku gagal berphoto bersama seorang konsulat, lagi-lagi, karena tidak sepatuan.

Liburan ramadan kemarin aku membantu tetangga yang membutuhkan surat keterangan sehat dari RSUD. Tapi aku kaget, tepat di pintu kantor itu, terpampang tulisan yang menjelaskan bahwa mereka hanya melayani orang yang berpakaian rapi dan mengenakan sepatu. Tapi lalu aku senyum lebar, sambil menahan tawa. Aku membayangkan diri ini bakal dilayani dengan komposisi pakaian berikut: songkok nasional, batik, sarung, dan sepatu.

Kembali ke tujuh tahun yang lalu. Saat itu aku mendatangi suatu kantor KUA untuk kerjasama mengadakan penyuluhan bahaya nikah muda. Sebenarnya tidak penting acaranya apa. Poinnya, aku diceramahi lumayan lama, sekali lagi, ra-gara gak pakai sepatu. Sepatu, apa dosaku kepadamu?

Kerjasama dengan KUA gagal. Bukan karena sepatu. Tapi karena mereka malas bekerjasama dengan bocah tidak tahu adat kantoran, gak pakai sepatu. Tapi, yang lebih sejati, mereka menganggap gagasan organisasi kami tidak penting.

Aku tidak patah arang. Masih ada satu agenda. Aku harus mendatangi Polres Sumenep untuk mengadakan kerjasama penyuluhan pentingnya memakai helm. Kali ini masih gak penting tentang acara pentingnya helm itu. Yang penting apakah mereka bakal mengecewakan pemuda yang memikirkan keselamatan bangsanya melalui program “memasyarakatkan helm dan menghelmkan masyarakat” dengan alasan tidak pakai sepatu? (Owh, betapa mulainya anak itu!)

“Maaf Pak, saya akan datang untuk kedua kalinya. Saya pastikan kami memakai sepatu. Ada kaos kakinya juga, Pak.” Itulah kalimat yang kusiapkan andai aral penolakan kembali melintang. Syukur alhamdulillah, kalimat itu mendekam dalam sanubari sampai kutuliskan sekarang ini.

Pak polisi yang ganteng dan buk polisi yang cantik semampai menyambut kami sebaik-baik penyambutan. Senyum mereka tidak kalah dengan pegawai bank yang pakai sepatu di ruangan dingin. Bicara mereka rancak seperti tuk, tik, tak, tik, tuk kuda delman istimewa.

Sebelumnya aku percaya dengan humor yang dinisbatkan sama Gus Dur “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.” Tapi hari itu aku merivisinya menjadi: Indonesia memiliki banyak polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, Jenderal Hoegeng, dan polisi yang toleran kepada anak yang tidak memakai sepatu.

Malam ini, baru saja aku membeli sepatu. Harganya mahal untuk isi dompetku yang sering dijejali Kapten Pattimura. Aku membelinya tanpa menawar, tapi tetap mengingatkan penjual kalau-kalau ada diskon. Oh ya, aku juga membeli lengkap dengan kaos kakinya. Bagus, lembut, dan tidak mudah berbau apak. Itu kata penjualnya.

Besok pasti kupakai, insyaallah. Acara Kiaiku, penganugerahan gelar Dr. HC. Aku tak sudi kegagalan masa lalu sambang kembali esok. Sebab, kali ini, ya kali ini, ini adalah acara penting. Penting bagiku!

Aku rela berdamai dengan sepatu setelah perang dingin tak berkesudahan. Cukup sudah dimarahi pegawai KUA yang “tidak mengerti bahaya pernikahan dini.” Jangan sampai urung berphoto bersama Kiai ra-gara sepatu. Aku sudah memaafkan diriku atas kegagalan berphoto bersama seorang konsulat. Tapi tidak untuk Kiai, tidak ada ampun.

Sepatu, mohon kerjasama ya!

Rumah Dinas Rektor UIN Walisongo Semarang. Di malam hari setelah membeli sepatu.

Penulis: Ustaz Abdul Wahid

4.5/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *