Dosen Kajian Keislaman

Benarkah Ayah Nabi Ibrahim AS. Penyembah Berhala?

SIAPAKAH AYAH BELIAU YANG SEBENARNYA?

Oleh: KH Ahmad Hariri Abd. Adhim

 

Al-Qur’an menyebutkan dan menghubungkan Nabi Ibrahim as dengan ayahnya yang bernama Azar. Allah swt berfirman:

“وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.” (الأنعام: 74)

Artinya: “Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, apakah engkau akan menjadikan berhala sebagai beberapa Tuhan. sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu di dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Al-An’am: 74)

  1. Pengertian اباء dalam Al-Qur’an.

اباء atau ayah dalam Al-Qur’an adalah meliputi: kakek, paman dan ayah. Mengenai hal ini Allah swt berfirman:

“إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ.” (البقرة: 133)

Artinya: “ketika nabi Ya’qub as berkata kepada beberapa putranya, ‘apakah yang akan kamu sembah setelah aku (meninggal)’. Mereka berkata, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayahmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq Tuhan yang Esa dan kami adalah orang-orang yang tunduk kepadaNya’.”(QS.Al-Baqarah: 133)

Kata اباء atau ayah dalam ayat tersebut adalah meliputi :

  1. Kakek : Nabi Ibrahim as adalah kakek Nabi Ya’qub as.
  2. Paman : Nabi Ismail as adalah paman Nabi Ya’qub as, karena Nabi Ismail as adalah saudara Nabi Ishaq as seayah lain ibu.
  3. Ayah : Nabi Ishaq as adalah ayah Nabi Ya’qub as.

 

  1. Azar adalah paman Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim as menyebut Azar di dalam hadis Nabi saw dengan sebutan   ابي الأبعد ayah yang sangat jauh, yaitu ayah yang tidak mempunyai hubungan nasab secara langsung (bukan ayah kandung) yang dimaksud adalah pamannya.  Hadis Nabi saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ، فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ: أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِي، فَيَقُولُ أَبُوهُ: فَاليَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ، فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ: يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لاَ تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الأَبْعَدِ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ” إِنِّي حَرَّمْتُ الجَنَّةَ عَلَى الكَافِرِينَ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا إِبْرَاهِيمُ، مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ؟ فَيَنْظُرُ، فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ، فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ.” (صحيح البخاري)

Artinya: dari Abi Hurairah ra dari Nabi saw: “Ibrahim as bertemu ayahnya Azar pada hari kiamat, wajahnya berdebu. Ibrahim as berkata kepadanya: “Tidakkah aku pernah mengatakan kepadamu, janganlah kamu durhaka kepadaku’. Ayahnya (Azar) berkata: ‘pada suatu hari aku tidak akan durhaka kepadamu. ’Ibrahim as berkata: ‘wahai Tuhanku sesungguhnya engkau telah menjanjikan kepadaku tidak akan  menghinakan aku pada hari manusia di bangkitkan dari alam kubur. Kehinaan manakah yang lebih hina dari pada (kehinaan) ayahku yang sangat jauh (Azar)’. Allah Ta’ala berfirman: aku larang  surga pada orang-orang kafir.’ Kemudian dikatakan pada Ibrahim as: ‘apakah yang ada di bawah kedua kakimu’. Tiba-tiba ia adalah  seekor anjing yang berlumuran dengan kotorannya, kemudian di pegang tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dalam kitab sahihnya dari Abi Hurairah ra, hadis no 3350).

Seandainya Azar adalah ayah kandung Nabi Ibrahim as, niscaya beliau akan menyebut dengan sebutan ابي الأقرب  ayah yang sangat dekat yaitu ayah kandung. Perbandingannya atau qiyas adalah sebagaimana wali di dalam pernikahan antara الولي الأقرب dan الولي الأبعد, seperti dikatakan : “tidak sah perkawinan yang dilakukan oleh الولي الأبعد dengan hadirnya الولي الأقرب “.

Imam Al-Alusi dalam kitab tafsirnya “Ruhul Ma’ani” berkata: “suatu (pendapat) yang dijadikan pegangan oleh para ulama’ yang banyak dari Ahlus Sunnah bahwa Azar bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim as. Mereka mengakui bahwa para leluhur Nabi Muhammad saw tidak ada seorangpun yang kafir, karena ada sabda Nabi saw:

 “لَمْ أَزَلْ أُنْقَلُ مِنْ أَصْلَابِ الطَّاهِرِينَ إِلَى أَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ”

Artinya: “aku senantiasa di lahirkan dari keturunan orang-orang yang suci hingga sampai para wanita (ibu) yang suci pula.

Sedangkan orang yang musyrik (penyembah berhala) adalah najis dan tidak  suci. Men-takhsish hadis di atas dengan suci dan bersih dari perzinahan saja, bukanlah merupakan suatu dalil yang bisa dijadikan pegangan. Karena hadis tersebut bersifat umum dan tidak bersifat khusus.   “والعبىرة لعموم اللفظ لا لخصوص السبب”

Sebagian besar para ulama’ mengakui bahwa Azar adalah nama paman Nabi Ibrahim as. (Karena) kata   الأب(ayah) di pergunakan juga secara umum dalam al-qur’an untuk العم (paman) dan الجدّ (kakek) seperti dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 133 di atas.[1]

 

  1. Tarih adalah ayah Nabi Ibrahim as.

Ahli Nasab (pakar keturunan) dan ahli sejarah mengatakan bahwa ayah Nabi Ibrahim as ialah Tarih. Sebagian para ulama’ seperti Abu Zur’ah membaca Tarah. Mereka berbeda pendapat mengenai hubungan Azar dengan Nabi ibrahim as dalam dua hal:

  • Azar adalah julukan ayah Nabi ibrahim as yang nama aslinya adalah Tarih. Pendapat ini sangat jauh dari kebenaran, karena para leluhur Nabi Muhammad saw di jadikan oleh Allah dari orang-orang yang mulia. Tidak ada seorangpun dari mereka yang musyrik, yaitu penyembah berhala. Nabi Ibrahim sendiri menyebut Azar dalam hadits Nabi saw di atas dengan sebutan ابي الأبعد ayah yang sangat jauh, bukan ayah kandung.
  • Tarih atau Tarah adalah ayah kandung Nabi Ibrahim as. Sedangkan Azar adalah orang lain, yaitu pamannya. Ini adalah pendapat yang mendekati pada kebenaran.

Imam Al-Razi dalam kitab tafsirnya “Mafatihul Ghaib” mengatakan: “Termasuk suatu yang menunjukkan pula bahwa salah seorang dari para leluhur Nabi Muhammad saw tidak ada seorangpun dari orang-orang yang musyrik (penyembah berhala) adalah :

  1. Sabda Nabi saw:

   “لَمْ أَزَلْ أُنْقَلُ مِنْ أَصْلَابِ الطَّاهِرِينَ إِلَى أَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ”

Artinya: “aku senantiasa di lahirkan dari keturunan orang-orang yang suci hingga sampai para wanita (ibu) yang suci pula.

  1. Firman Allah Ta’ala :

 “إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ” (التوبة: آية 28)

Artinya: “bahwasanya orang-orang musyrik adalah najis” (QS. At-Taubat: 28).

 

Hal tersebut menetapkan suatu pendapat bahwa salah seorang dari para leluhur Nabi saw tidak ada seorangpun dari orang-orang musyrik. Apabila ini benar, maka benar pendapat yang mengatakan bahwa ayah Nabi Ibrahim as adalah bukanlah seorang musyrik. Sedangkan Azar adalah seorang musyrik. Dengan demikian harus kita akui bahwa sesungguhnya ayah Nabi Ibrahim as adalah orang lain bukan Azar (yaitu Tarih).[2]

Ibnu Katsir dalam kitab “Tafsir al Qur’an al Karim” berkata : Al-Dhohhak mengutip perkataan Ibnu Abbas ra bahwa : “ayah Nabi Ibrahim as namanya bukan Azar. Bahwasanya namanya adalah Tarih.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.[3]

Al-Syaikh Abu Hayyan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya “Al-bahrul Muhith” mengatakan: “di dalam Jami’i al-Qur’an (di sebutkan bahwa) Ibrahim as adalah kakek Nabi kita Muhammad saw yang ke-31. Dia adalah Khalilullah (Nabi Ibrahim as) bin / putra Tarih atau Tarah bin Najura bin Sarugha bin Arghua bin Falagha bin ‘Abara. Ia adalah Nabi Hud as dan tempat kelahirannya di daerah Ahwaz.”[4] Dalam keterangannya yang lain beliau menambahkan : ‘Abara (Nabi Hud as) bin Syalakha bin Arfahsyad bin Sam bin Nuh as.[5]

            Mengenai keluhuran dan kemuliaan para leluhur Nabi Muhammad saw mulai dari Nabi Adam as sampai pada kedua orang tua beliau, tidak ada seorangpun yang kafir, musyrik (penyembah berhala) dan melakukan perzinahan.

Imam jalaluddin As-Suyuti di dalam tafsirnya al-Durrul Mantsur fi al Tafsir al Ma’tsur  meriwayatkan :

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَ قُرَيْشًا كَانَتْ نُوْرًا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تَعَالَى قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ بأَلْفَيْ عَامٍ يُسَبِّحُ ذَلِكَ النُّوْرُ وَتُسَبِّحُ الْمَلَائِكَةُ بِتَسْبِيْحِهِ فَلَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَلْقَى ذَلِكَ النُّوْرَ فِي صُلْبِهِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَاَهْبَطَنِيَ  اللهُ إِلَى الأَرْضِ فِي صُلْبِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَجَعَلَنِي فِي صُلْبِ نُوْحٍ وَقَذَفَ بِي فِي صُلْبِ إِبْرَاهِيْمَ ثُمَّ لَمْ يَزَلِ اللهُ يُنَقِّلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الْكَرِيمَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ حَتَّى أَخْرَجَنِي مِنْ بَيْنَ أَبَوَيَّ لَمْ يَلْتَقِيَا عَلَى سِفَاحٍ قَطُّ

Artinya: di riwayatkan oleh Ibnu Abi Umar al-‘Adani dari Ibnu Abbas ra bahwa : “seorang Qurais (Nabi saw) di kala itu merupakan cahaya di hadapan Allah ta’ala 2000 tahun sebelum Allah menciptakan makhluk. Nur itu membaca tasbih dan para malaikatpun membaca tasbih (mengikuti) bacaan tasbih Nur tersebut. Ketika Allah menciptakan Adam as, Allah meletakkan nur itu di tulang punggungnya. Rasulullah saw bersabda: Allah menurunkan aku ke bumi di tulang punggung Adam as,  kemudian Allah menjadikan aku di tulang punggung Nuh as lalu aku di letakkan di tulang punggung Ibahim as. Kemudian Allah senantiasa memindahkan aku dari beberapa tulang punggung yang mulia hingga rahim para wanita yang suci sampai aku dilahirkan oleh kedua orang ku yang keduanya tidak bertemu (melakukan) zina sama sekali.[6]

 


[1]
Al-Alusi, Ruhul Ma’ani, Daru Ihya’ at-Turatsil ‘Arabi, Beirut, Juz.7, hal. 253

[2] Imam Al-Razi, Mafatihul Ghoib, Daru Ihya’ at-Turatsil ‘Arabi, Beirut, Cet.Ke-3, Juz.13, hal. 33

[3] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Cet, Darul Kutub al Ilmiyah. Jld 2. Hal 137. QS. Al An’am 74.

[4] Abu Hayyan Al-Andalusi, Al-Bahru al-Muhith. Cet, Darul Kutub al Ilmiyah. Jld 1. Hal 545. QS. Al Baqarah 124-130.

[5] Abu Hayyan Al-Andalusi, Al-Bahru al-Muhith. Cet, Darul Kutub al Ilmiyah. Jld 4. Hal 169.

[6] Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Durrul Mantsur, Jus 3, hal; 526 Cet: Darul Kutubil Ilmiah Beirut

4.5/5.0 Article rating
6 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *