Santri

Suami Atau Istri Meggombal, Haramkah ?

Pernikahan menjadi salah satu sarana untuk menjalankan sunah nabi, tak lengkap rasanya bila seseorang hanya hidup sendiri dalam mengarungi kehidupan di dunia, bak minum kopi tanpa gula, pahit dan hambar akan terasa. Manusia sebagai makhluk sosial memang tidak ditakdirkan untuk hidup sendiri, mereka serasa kurang puas bila hidup hanya sebatang kara. Bersosialisasi antara suami dan istri merupakan salah satu contoh sosialisasi dalam ruang lingkup kecil.

Melakukan sosialisasi haruslah dilakukan dengan cara yang baik dan benar dengan tuntunan syariat Islam. Lantas apakah dibenarkan ketika seorang istri atau suami yang saling balas kata menggunakan gombalan, berhubung gombalan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin diantara kalian ada yang bingung untuk mencari jawabannya.

Gombalan terhadap pasangan yang seakan-akan berlebihan, bak dunia milik mereka berdua, istri kita atau suami kita tiada duanya, seakan raja dan ratu, serangan gombalan dilancarkan bertubi-tubi mulai memuji tentang ketampanan dan kecantikannya, memuji tentang kecintaannya bak tiada suatupun yang ada di dunia ini yang dicintai kecuali dirinya seorang.

lantas apakah tindakan itu dianjurkan atau lantas dilarang dalam bingkai agama. Tapi tenang-tenang saja jangan dibawa susah atau sampai gegana (gelisah galau merana) karena hal ini mendapatkan legitimasi dari nabi loh terbukti di dalam hadisnya nabi pernah bersabda:

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: الْحَرْبُ، وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.رواه مسلم

Artinya: “Ibnu Syihab berkata, dan aku belum pernah mendengar Nabi mentolerir kebohongan kecuali dalam tiga kondisi; pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.” (Hadis riwayat ImamMuslim)

Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Najjar secara marfu’:

أخرج ابن النجار عن النواس بن سمعان مرفوعا “الكذب يكتب على ابن آدم إلا في ثلاث الرجل يكون بين الرجلين ليصلح بينهما والرجل يحدث امرأته ليرضيها بذلك

Artinya: Ibnu najjar meriwayatkan hadis dari nawas bin sam’an secara marfu’ “ berbohong akan ditulis bagi anak adam kecuali dalam tiga hal seseorang yang berada di antara dua orang untuk berdamai di antara mereka, dan suami yang berbicara kepada istrinya untuk mendapatkan kerelaan dari istrinya.

Menurut Imam Qadi iyad berpendapat bahwa melakukan suatu kebohongan dalam hal ini tidak terjadi perselisihan dikalangan para cendekiawan muslim dalam artian diperbolehkan, Muhammad bin Ismail al-Amir al-Kahlani as- Shan’ani di dalm kitabnya Subulus Salam halaman 203 juz 4 berkomentar:

قلت نظر في حكمة الله ومحبته لاجتماع القلوب كيف حرم النميمة وهي صدق لما فيها من إفساد القلوب وتوليد العداوة والوحشة وأباح الكذب وإن كان حراما إذا كان لجمع القلوب وجلب المودة وإذهاب العداوة

Artinya: Melihat hikmat Tuhan dan bukti cinta-Nya pada makhluknya untuk menyatuakan hati, bagaimana gosip dilarang dan itu benar karena akan berdampak kepada merusak hati, menimbulkan permusuhan dan kesepian. Berbohong itu diperbolehkan sekalipun hal itu dilarang,  jika hal ini dilakukan dalam rangkan untuk mengumpulkan hati dan menarik kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.

Ada sebuah kisah yang cukup menarik di dalam kitab at-Tarikh al-Kabir karangannya Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari “Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Gharzah, bahwa ia menggait tangan Ibnul Arqam dan mengajaknya masuk ke rumah istrinya,“Benarkan? Kamu telah membuatku marah? Lalu istrinnya menjawab iya, Setelah keluar, Ibnul Arqam bertanya, “Apa maksudmu melakukan itu di hadapanku? “Manusia banyak menggunjingku karena aku terlalu sering menceraikan wanita”, jawabnya.

Mendengar berita ini, sayyidina Umar mengirimkan utusan untuk memanggil istrinya. Lalu ia pun datang, Umar bertanya, “Mengapa kamu mengatakan kata-kata tadi? “Ia memintaku untuk bersumpah, sehingga aku tidak suka berbohong”, jawabnya. Lalu sayyidina Umar menanggapi, “seharusnya kamu jangan bertindak seperti itu ‘berbohong’ saja dan mengatakan kata-kata yang indah. Sebab tidak semua rumah tangga dibangun atas dasar saling mencintai, tetapi karena hubungan ikatan nasab dan agama Islam”

Dari paparan hadis maupun komentar dari ulama kita sebagai seorang muslim ataupun muslimah tidak perlu segan ataupun khawatir ketika melakukan gombalan kepada pasangannya, mengapa karena hal ini diperbolehkan, mengacu kepada hal yang lebih urgen di dahulukan yakni menyatukan hubungan kekeluargaan yang sepat renggang akibat kurangnya keharmonisan.

Megucapkan kata-kata gombal yang bertujuan untuk menyenagkan, membuat tentram hubungan kekeluargaan dan menciptakan suatu keharmonisan meskipun isi gombalannya tidak sesuai dengan kenyataan itu dapat dibenarkan hal ini juga selaras dengan kaidah fikih yang berbunyi:

درء المفاسد مقدم من جلب المصالح

Menghilangkan kemafsadatan harus lebih didahulukan dari pada mendatangkan kemaslahatan“. Jadi mendatangkan suatu kemaslahatan berupa utuhnya hubungan rumah tangga wajib kita dahulukan daripada mudharat dari suatu kebohongan.

Penulis: Nur Hefni

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *