Aswaja

Mustahil, NU Memiliki Pola Berpikir Tak Logis Dan Tak Sistematis

NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi besar di Indonesia yang berbasis keislaman. bukan hanya itu, pengaruhnya terhadap bangsa dan negera juga tak kecil. Hal tersebut bisa dilihat dan dirasakan dari segala aspek kehidupan, baik  politik, ekonomi, sosila-budaya, agama dan lain sebagainya.

Kali ini, penulis tak akan membahas Bagaimana sejarahnya dua oraginasi besar itu, siapa pendirinya, bagaimana rekam jejaknya? , sebab sudah banyak yang menguraikan. Saat ini, penulis hanya ingin curhat tentang perbedaan dua organisasi tersebut dan kaprah yang keliru dari salah satunya.

Secara garis besar perbedaan keduanya adalah tahun berdirinya, NU berdiri  pada tanggal 31 Januari 1926. Sedangkan Muhammadiyah 18 November 1912. Pemprakarsa NU, KH Hasyim As’ari, sedangkan Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan. NU melaksanakan salat tarawih 20 rakaat dan Muhammadiyah 8 rakaat. NU mengamalkan tahlilan, yasinan, manaqiban, barzanji, ziarah kubur dan lainnya. Sedangkan Muhammadiyah tidak melakukannya.

NU melaksanakan salat subuh menggunakan qunut dan Muhammadiyah tidak melakukan. NU mengucapkan takbir sebanyak tiga kali ketika takbiran, sedangkan Muhammadiyah mengucapkannya sebanyak dua kali. NU Mengucapkan kalimat ikamah sebanyak dua kali. Kalau Muhammadiyah sebanyak satu kali.

Dalam menetapkan awal dan akhir Bulan Ramadan, NU menerapkan thariqah rukyah. Adapaun Muhammadiyah menerapkan thariqah hisab. Dalam hal politik, NU cenderung berafiliasi dengan partai politik. Sedangkan Muhammadiyah cenderung tidak. Aspek pendidikan,  NU mengenyam pendidikan pesantren yang bersifat  salaf. Muhammadiyah pendidikannya berbasis formal.

Adapun metode ijtihadnya, kalau NU menggunakan Bahtsul Masail dan Muhammadiyah menerapkan Majlis Tarjih. Oke, itu yang penulis ketahui. Bila man-teman tidak sepakat atau ingin menambahkan, silahkan buat tulisan sendiri.

“NU itu orang-orangnya  kolot dalam berpikir, ketinggalan zaman, beda sama Muhammadiyah yang berbasis formal sehingga cenderung berpikir rasional dan sistematis” begitulah celotehan salah satu atau bisa jadi beberapa orang. Dari sini, mengapa penulis melacak perbedaan dua organisasi besar tersebut, sebab munculnya celotehan semacam itu, tak jarang terdengar telinga.

Sebenarnya tak mau membandingkan NU dan Muhammadiyah sebagaimana tak mau membela NU, namun celotehan tersebut, penulis berani  katakan salah, sebab sekalipun ada Pondok Pesantren yang berbasis NU hanya mengajarkan kitab klasik. Artinya, tidak memadukan pendidikan formal dan nor formal, bukan berarti kita atau mereka tak diajari  bagaimana caranya berfikir rasional, sistematis dan tepat sasaran.

Katakan saja mata kuliah atau pelajaran yang mendukung untuk itu, seperti usul fikih. Perlu man teman ketahui, dalam usul fikih kalian akan diajarkan bagaimana caranya berfikir yang logis dan sistematis. Hal ini bisa ditemui saat pembelajaran  Masalikul al-Illat (metode mencari alasan hukum) dalam usul fikih. Di samping itu, kita juga diajari Bagaimana caranya berpikir kritis secara efesien dan cepat. Hal ini bisa dijumpai ketika pembelajaran  al-Qawadih (kecacatan-kecacatan) dalam usul fikih dan lain sebagainya.

Bahkan Imam Ghazali mengatakan, usul fikih merupakan perpaduan antara kecerdesan intelektual dan daya hafalan yang kuat terhadap teks-teks syariat. Oleh karenanya, salah kalau hanya Muhammadiyah yang dianggap rasional, sistematis dan kritis, NU juga demikian.

Lebih dari itu, dari segi kebahasaan saja, penamaan NU atau Nahdlatul Ulama sendiri memiliki makna KEBANGKITAN CENDIKIAWAN-CENDIKIAWAN. Dari sini, masak iya,seorang cendikiawan memiliki pola berpikir tak logis dan tak sistematis, tak mungkinlah. Oke, sudahlah, akhiri saja curhatan hari ini, tak penting juga kok.

Owh iya lupa, sekarang tanggal 31 Januari. Artinya, hari ini adalah adalah Hari Ulang Tahun NU ke-95. Penulis berharap,  Semoga Nahdlatul Ulama kedepannya menjadi organisasi yang lebih baik dan lebih bermanfaat kepada umat, khususnya  di Indonesia

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

4.5/5.0 Article rating
8 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *