Tak Berkategori

“Aku Sudah Tak Cinta Kamu” Termasuk Ucapan Talakkah?

Persoalan nikah bukan hanya terbatas kepada hubungan suami istri. Melainkan lebih dari itu, yaitu menjalin simbiosis mutualisme antara dua kubu yang pada asalnya berbeda menjadi satu dan padu. Ketika ikrar nikah diucapkan, sejatinya ia adalah proses inkorporasi (penyatuan) antara dua keluarga, keluarga mempelai wanita dan sanak famili dari pihak suami.

Sehingga, fikih Syafii tidak hanya melibatkan pasutri (pasangan suami istri) dalam proses akad nikah, melainkan juga harus ada dua saksi yang adil serta wali mempelai wanita. Kendatipun mazhab hanafi tidak menyaratkan adanya wali, namun mereka mewajibkan adanya walimah guna menginformasikan kepada publik bahwa bahtera rumah tangga sudah terbentuk antara pasangan suami-istri.

Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya melanggengkan akad pernikahan yang sudah terjalin. Mewujudkannya saja perlu mahar dan syarat-syarat yang ketat, dan sudah seharusnya juga butuh ketentuan-ketentuan yang sendat ketika hendak memutusnya (cerai).

Dalam kontruksi ilmu fikih, putusnya tali pernikahan bisa terjadi karena empat hal, yaitu meninggal dunia, thalâq (talak), khulu’ (khuluk), fasakh. Pada pembahasan kali ini, penulis ingin membahas secara tuntas konsep talak dalam hukum Islam.

Talak adalah melepas tali pernikahan dengan menggunakan pernyataan thalâq dan semacamnya. Bentuk perkataan talak dibagi menjadi dua sebagaimana berikut,

Pertama, sharih (jelas): Pernyataan talak yang tidak memungkinkan kepada arti selain talak, seperti “thallaqtuki” (aku mentalakmu), atau “sarrahtuki” (aku melepaskan ikatan nikah dengan kamu), atau “faraqtuki” (aku menceraikan kamu). Hanya ada tiga penyataan yang dihitung sebagai talak shorih sebagaimana contoh sebelumnya.

Dengan tiga ini, hubungan suami-istri secara otomatis akan terputus baik dengan adanya niat mentalak atau tidak.

Kedua, kinayah (sindiran): Bentuk perkataan yang masih mempunyai kemungkinan selain menceraikan, seperti ungkapan “Pulanglah ke rumah orang tuamu”, “Kamu sekarang tidak punya suami lagi”, “Kamu sekarang bebas”, “Aku bukan suamimu lagi”. Contoh dari bentuk kinayah ini sangat banyak, intinya selain yang tiga dari contoh ungkapan talak sharih di atas.

Ungkapan-ungkapan seperti ini akan berakibat perceraian apabila disertai niat suami untuk menceraikan pada saat mengucapkannya.

Jika melihat klasifikasi ungkapan talak yang ditawarkan ulama seperti di atas (hanya tiga ungkapan yang masuk kategori talak sharih dan lainnya adalah kinayah), sebenarnya syariat Islam tidak memberikan ruang yang bebas pada talak, sekalipun kinayah.

Melainkan, agama Islam mengajarkan orang untuk berhati-hati dalam berucap, khususnya dalam mentalak. Jelasnya, jika problem keluarga bisa diselesaikan dengan selain ucapan talak maka kata-kata yang akan berakibat perceraian, sekalipun kinayah sebaiknya dihindari. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perselisihan di kalangan ulama tentang hukum asal dari talak itu sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Thalaq ayat 1,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru”.

Dari ayat di atas, mazhab Hanafi menyimpulkan, hukum asal dari perceraian (talak) adalah boleh karena berdasarkan kemutlakan ayat di atas (إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ). Alasan kedua, karena Rasulullah Saw. pernah mentalak Sayyidah Hafsah, serta para sahabat juga pernah menceraikan istri-istrinya. Jika talak diharamkan niscaya Rasulullah Saw. dan para sahabat tidak akan melakukannya.

Beda halnya menurut ulama tafsir seperti Ibnu Asyur. Dalam pandangan beliau, ayat di atas memang benar menunjukkan kebolehan seorang suami menceraikan istrinya. Namun, hal ini tidak diperlakukan secara mutlak, melainkan talak yang diperbolehkan hanyalah ketika ada kebutuhan yang mendesak seperti, keharmonisan bahtera rumah tangga tidak bisa lagi dipertahankan.

Berkenaan Nabi pernah mentalak Sayyidah Hafsoh, hal ini masih diperselisihkan di kalangan ulama. Bahkan Hadis yang meriwayatkan Sayyidah Hafsoh pernah dicerai oleh Rasulullah Saw. termasuk Hadis dho’if (lemah secara periwayatan).

Dalam riwayat yang sohih, pada saat booming-nya berita Nabi telah mentalak Sayyidah Hafsoh, Umar bin Khattab dengan segera menuju kediaman Rasulullah Saw. sambil lalu bertanya “Apakah engkau mentalak wahai Rasulullah Saw.?”. Beliau menjawab “Tidak, aku hanya bersumpah untuk tidak berhubungan intim dengan dia (ila’)”. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan talak termasuk perbuatan yang menyalahi asas pernikahan, yaitu abadinya ikatan tali pernikahan.

Pendapat ini sesuai dengan apa yang dituturkan oleh jumhur ulama (Maliki, Syafii, dan Hambali), hukum asal dari perceraian adalah haram dan menyalahi yang utama (الحظر, المنع, خلاف الاولى). Adapun dilegalkannya talak hanya karena ada kebutuhan yang mendesak (faktor eksternal), seperti  keharmonisan rumah tangga tidak bisa dipertahankan.

Pendapat inilah yang diunggulkan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhailiy karena dalam pandangan beliau, pendapat ini yang lebih sesuai dengan prinsip dilegislasikannya talak (maqasid al-syari’ah fi al-thalaq), yaitu menghindar dari hal-hal yang merugikan (mafsadah) antara pasutri.

Jadi, selama unsur tersebut tidak dipenuhi maka talak dimakruhkan, bahkan ada yang mengatakan haram karena sejatinya talak adalah alternatif terakhir dalam menghadapi konflik yang terjadi di bahtera rumah tangga.

Ibnu ‘Abidin pernah berkata dan juga didukung juga oleh al-Kamal bin Himam,

الأصل في الطلاق الحظر، بمعنى أنه محظور إلا لعارض يبيحه، والإباحة للحاجة إلى الخلاص، فإذا كان بلا سبب أصلاً لم يكن فيه حاجة إلى الخلاص، بل يكون حمقاً، وسفاهة رأي، ومجرد كفران النعمة، وإخلاص الإىذاء بها وبأهلها وأولاده

Hukum asal dari talak adalah haram kecuali karena ada faktor eksternal yang memperbolekan. Faktor ini disebut dengan hajat untuk menghindar (dari terjadinya mafsadah anatara suami-istri. Jika perceraian tidak didasarkan pada sebab apapun maka tidak disebut dengan hajat (diharamkan), bahkan hal ini hanyal sebuah kebodohan, akal yang tidak sehat, kufur kepada nikmat, dan menyakiti kepada istri, anak, dan keluarganya.”

Akhiran, fikih Indonesia menyatakan: “Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”. Ketentuan fikih Indonesia ini tampaknya lebih memenuhi prinsip dasar Islam bahwa perceraian adalah emergency exit (jalan keluar darurat), sehingga perlu kehati-hatian dalam memutuskannya.

Tidak boleh gegabah dan semudah orang membuang barang yang tidak disukai. Sekurang-kurangnya, perceraian dapat dilakukan sebagaimana perkawinan dilangsungkan, yakni ada persyaratan dan prosedur yang sangat ketat harus dilalui terlebih dahulu. Pengadilan Agama dalam hal ini bisa memfasilitasi semua persyaratan dan prosedur tersebut.

Selain itu, perceraian melalui pengadilan dapat memberikan rasa keadilan di antara suami dan istri, karena talak tidak serta merta jatuh sebelum yang bersangkutan memberikan alasan-alasan mengapa harus cerai dan pihak lain dimintai keterangan (cross-check) atas alasan-alasan tersebut.

Sehingga, perceraian dilakukan bukan karena pertimbangan sepihak semata, melainkan benar-benar disebabkan retaknya bahtera rumah tangga yang sulit ditambal. Jika ini masalahnya, maka perceraian memang menjadi emergency exit (jalan keluar darurat) yang selayaknya ditempuh.

Wallahu A’lam.

 

Sumber:

Zainuddin Abdul Aziz al-Malibary, Fath al-Muin, 113.

Ibnu ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 15, 137.

Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, 9, 340, 377, 335-337.

Imam Nakha’i dan Marzuki Wahid, Buku Fiqih Keseharian Buruh Migran, 226-227.

Penulis: Ahmad Shafaa Uzzad

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *