Akhlak Dosen

Sedang Zikir, Haram Nerima Panggilan Telepon

DI banyak tempat dan kejadian, saya sering melihat ada orang yang sedang salat kemudian setelah itu duduk dan  berzikir. Ketika ia sedang asyik berzikir, ternyata hanphonenya bunyi.  seKetika itu juga dia meng-cut zikirnya dan diganti dengan mengoperasikan HP.

Lalu ada orang nanya ke saya, bagaimana hukumnya melakukan hal tersebut dalam prespektif fikih dan tasawwuf.

Saya jawab, pada prinsipnya

الاعراض عن ذكر الله الى غيره حرام إستدلالا بقوله تعالى ومن اعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة اعمى (طه ١٢٤)

 Berpaling dari dzikir kepada Allah terhadap selain-Nya,  hukukumnya haram,  dengan dalil firman Allah Swt.  Barangsiapa yang berpaling dari zikir kepadaku, maka baginya kehidupan yang sempit dan di akhirat akan dikumpulkan di mahsyar dalam keadaan buta.

Baca zikir setelah salat, masuk kepada keumuman kata ذكري. Dalam ayat ini mengandung satu ancaman  yang tidak hanya di dunia. Dalam kaidah fikih dikatakan

وكل مافيه مفسدة اكبر من مصلحتها او ما فيه وعد فحكمه حرام

Setiap sesuatu yang mengandung mafasadat yang kadarnya lebih besar dari kemaslahatannya atau mengandung suatu ancaman, maka hukumnya haram.

Kata-kata beberpaling pada ayat tersebut  dalam pelbagai kitab tafsir dijelaskan  dengan orang kafir yang tidak beriman kepada Allah SWT. Penjelasan ini sangat jelas dan disepakati oleh semua ulama’.

Dalam prespektif tasawwuf, term  اعرض diartikan lupa kepada Allah Swt dan sibuk  untuk selain-Nya. Oleh karena itu, sering didengar dari pelbagai kalam al-shufiyyah, lupa kepada Allah itu merupakan siksaan yang besar. Satu detik tidak ingat Allah Swt akan berpengaruh terhadap makam (posisi)  yg telah ia capai di sisi Allah SWT.  Bagi mereka, zikir tidak harus diekspresikan dalam salat saja.  Salat dikerjakan untuk menyatukan raga dengan batin dalam satu kata Zdikrullah.. Sebagaimana firman Allah.

أقم الصلاة لذكري

Laksnakanlah salat semata-mata untuk mengingatku.

Dalam pelbagai literatur fikih dikatakan bahawasanya  قطع الصلاة (memutus salat sebelum salam) hukumnya haram, karena memutus itu mengandung arti berpaling kepada selain Allah.  Saya memasukkan doa dan zikir itu pada arti salat secara bahasa. Oleh karena itu, hukum asal dari SIBUK MENERIMA HP KETIKA SEDANG WIRIDAN ADALAH BERPALING DARI DZIKRULLAH KEPADA SELAIN ALLAH.

lalu bagaimana jika misalnya isi televon itu isinya sangat penting, seperti orang yang minta pertolongan dari sesuatu yang menyebabkan kematian atau paling tidak memiliki nilai hajat yang diposisikan pada posisi darurat?

Jika orang yg sedang wiridan itu mengetahuinya maka boleh menerimanya bahkan bisa wajib. Berdasarkan kaidah,

الواجب لايترك الا لواجب

Kewajiban tidak bisa ditinggal kecuali dengan alasan adanya kewajiban yang lain.

Tindakan kemanusiaan itu merupakan suatu kewajiban, bahkan orang yang sedang salat, boleh membatalkan salatnya manakala dia melihat ada orang lain yang akan digigit oleh ular dan dia harus mengingatkannya.

Masuk dalam kategori wajib menerima di sini, apabila yang menelpon adalah orang tuanya. Ijabah (memenuhi)  panggilan orang tua hukumnya wajib.

Akan tetapi jika orang yg sedang zikir  tidak tahu kalau yg nelpon orang tuanya atau tidak tahu kalau ada orang yg minta tolong untuk urusan kemanusiaan,  maka tidak menerima telepon tersebut tidak apa-apa, bahkan haram karena alasan berpaling dari dzikir  sebagaimana penjelasan  di atas.

Monggo kita diskusi,  semoga bermanfaat

Penulis: Dr. KH. Muhyiddin Khatib

5.0/5.0 Article rating
8 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *