Kajian Keislaman

Apakah Uang Wajib Zakat ?

Tentang zakat uang, ulama berbeda pendapat.  Perbedaan ini bermuara pada satatus uang itu sendiri, apakah uang bisa dialogkan dengan emas dan perak atau tidak?

Dikatakan dari Kalangan Fukaha Syafiiyah, satu pendapat dari hanafiyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwasanya  uang itu tidak wajib zakat, karena uang termasuk dalam kategori ‘Urudl ( barang). Bedahalnya bila  uang tersebut diperdagangkan. Kalau seperti itu, maka uang wajib dizakatkan dan baginya berlaku zakat tijaraoh (تجارة).

Sementara dari kalangan Malikiyyah, satu pendapat dari kalangan hanafiyyah dan riwayat kedua dari imam Ahmad Ibnu Hanbal, berpendapat bahwa uang  wajib dizakatkan. Hal ini didasarkan pada Qiyas yaitu uang dianalogkan dengan emas atau perak. Adapun kesamaan illat dari keduanya adalah sifat kehargaan (صفة الثمانية).

Dari perbedaan tersebut maka kalangan ulama kontemporer (العلماء المعاصرون ) seperti Syekh Yusuf al-Qrdlawi, Syekh Abdullah, Syekh Abu Bakar Hasan al Kasynawi, Syekh Utsman Syabir cendrung pada pendapat al-malikyyah yang mewajibkan zakat uang.

Perlu diketahui bahwasanya di dalam uang  juga ada unsur riba jika diperjual-belikan secara nasi’ah (kredit) atau tidak sama nilaianya (متفاضل) jika diperjual-belikan dengan yang sejenis. (silahkan lihat dalam kitab

المعاملات المالية المعاصرة في الفقه الاسلامي د عثمان شبير)

SIKAP KITA :

Hemat saya dalam menghadapi dua perbedaan tersebut dapat dilakukan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Perbedaan akan hilang apabila pemerintah atau BAZNAS di Indonesia memilih serta menetapkan salah satu pendapat di atas, sesuai kaidah ,

قول الحاكم يرفع الخلاف

keptusan pemerintah bisa menghilangkan perbedaan pendapat.

atau dalam redaksi yang berbeda dikatakan,

قول الامام ملزم

keputusan presiden bersifat mengikat

  1. Menempuh jalan kompromi (الجمع والتوفيق), kita tahu bersama bahwa saat ini uang sudah masuk barang komuditi (عروض التجارة) yang diperjual-belika. Hal tersebut seperti yang terjadi di pasar uang pada beberapa tempat pebikaran uang asing.

Realitas semacam  ini sudah sesuai dengan pendapat dari kalangan al-syafi’iyah. Oleh karenanya, dua pendapat di atas bisa memiliki kesimpulan yang sama bahwa sebenarnya uang wajib dizakati, walaupun jalan fikirannya berbeda.

  1. Apabila secara cermat melihat realitas di lapangan, saat ini uang telah memiliki peran penting dalam sistem ekonmi. secara ‘urf (kebiasaan) uang telah dijadikan modal usaha, alat untuk tukar-menukar dalam mu’malah (jual-beli dan lainnya), bisa dibuat alat untuk pembayaran jasa dan harga barang.

Lebih dari itu, uang juga telah ditetapkan oleh masing-masing negara untuk menjadi alat tukar yang sah, bahkan uang telah menjadi indikator tentang kekayaan seseorang yang menjadi illat (alasan) wajibnya zakat harta sebagaimana dalam hadis

تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم

Zakat diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang  fakir

( illat ini sesuai dangan hasil olahan penulis yang telah lulus dalam ujian disertasi). Dari realitas ini, maka uang telah menjadi representasi mata uang dinar dan dirham yang ulama sepakat pada keduanya wajib zakat.

  1. Apabila dilihat dari aspek maqashid zakat (tujuan zakat), yakni zakat uang berpotensi memiliki peranan yang besar dalam mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan sosial (فجوة المجتمع), dan mendorong terciptanyan keadilan dalam hal ekonomi. Oleh karena itu, penulis cendrung kepada pendapat yang mengataan bahwa UANG WAJIB ZAKAT. Sekalipun penulis sendiri adalah penganut mazhab imam al-Syafi’i.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana manajemen zakat uang ?

Bersambung…………

4.8/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *