Dosen Sirah Nabawiyah

“Nakalnya” Umat diMata Rasulullah

KASIH SAYANG SANG RASUL

Para sahabat Nabi radhiyallahu anhum tersentak kaget saat melihat beliau tiba-tiba berdiri untuk menshalatkan janazah Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Bagaimana mungkin janazah si pentolan munafik ini dishalatkan, pikir mereka. Yang menshalatkan Rasulullah lagi, bukan sembarang orang.

Di mata para sahabat, Abdullah bukan sekedar munafik, tetapi juga mempunyai setumpuk dosa yang tak terampuni, baik terhadap pribadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun umat. Dialah yang pernah berkata kepada Rasulullah dengan nada penuh kebencian:

«سمِّن كلبَك يأكلك

“Gemukkan anjingmu biar nanti dia memakanmu.”

Dia pula yang berkata pada teman-temannya sebagaimana direkam oleh Allah dalam Alqur’an:

هُمُ ٱلَّذِینَ یَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا۟ عَلَىٰ مَنۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ یَنفَضُّوا۟ۗ وَلِلَّهِ خَزَاۤىِٕنُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَا یَفۡقَهُونَ ۝  یَقُولُونَ لَىِٕن رَّجَعۡنَاۤ إِلَى ٱلۡمَدِینَةِ لَیُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَا یَعۡلَمُونَ، [المنافقون: ٧-٨].

“Merekalah yang berkata: “Janganlah kalian bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah). Padahal hanyalah milik Allah kekayaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak kunjung mengerti. Merekalah yang berkata (kepada orang-orang Anshar): “Sungguh, jika kita kembali (dari Perang Bani al-Musthaliq) ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan hanyalah milik Allah, Rasul Allah dan kaum Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak tahu.” (Al-Munafiqun:7-8).

Semua itu tak begitu saja terhapus dari benak para sahabat. Oleh karena itu, saat melihat Rasulullah berdiri untuk menshalatkan janazah si munafik, mereka segera bereaksi. Umar ibn Khattab radhiyallahu anhu yang dikenal paling tanggap dan tegas di antara mereka segera mendekati Rasulullah. Apa yang dia katakan pada beliau, kita biarkan Umar sendiri menuturkannya sebagaimana diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Ibn Abbas

“Setelah Abdullah ibn Ubay ibn Salul meninggal dunia, Rasulullah diundang untuk menshalatkan janazahnya. Begitu Rasulullah berdiri untuk menshalatkannya, aku berkata:

“Wahai Rasulullah, engkau akan menshalatkan Abdullah ibn Ubay? Bukankah dia pernah berkata begini dan berbuat begitu…?” (Aku sebut dosa-dosa dia selama ini). Rasulullah tersenyum, lalu bersabda: “Mundur, Umar.” Tapi aku tak henti-hentinya berbicara. Akhirnya Rasulullah bersabda: “Umar, aku telah diberi pilihan oleh Allah dan aku pun memilih. Sungguh, andai aku tahu bahwa jika aku beristighfar untuk Abdullah lebih dari tujuh puluh kali maka Allah akan mengampuninya, niscaya akan kulakukan.” Rasulullah pun segera menshalatkannya, lalu setelah itu beliau pulang. Hanya selang beberapa saat kemudian, turunlah ayat

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰۤ أَحَدࣲ مِّنۡهُم مَّاتَ أَبَدࣰا وَلَا تَقُمۡ عَلَىٰ قَبۡرِهِۦۤۖ إِنَّهُمۡ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَمَاتُوا۟ وَهُمۡ فَـٰسِقُونَ، [التوبة: ٨٤].

“Dan janganlah kau shalatkan siapa pun di antara mereka dan jangan berdiri di atas kuburnya. Mereka telah ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mati dalam keadaan fasiq.”

Kemudian, mengakhiri penuturannya, Umar berkata: “Aku sendiri heran kok begitu beraninya aku pada Rasulullah saat itu.”

Dalam riwayat Imam Muslim, Ibn Umar radhiyallahu anhuma menuturkan bahwa begitu Abdullah ibn Ubay meninggal, puteranya yang juga bernama Abdullah, sowan kepada Rasulullah untuk memohon baju beliau untuk dikafankan kepada mendiang ayahnya. Rasulullah pun mengabulkannya. Kemudian ia mohon agar Rasulullah berkenan menshalatkan janazahnya dan beliau pun mengabulkannya. Begitu Rasulullah berdiri untuk menshalatkannya, Umar mendekat lalu sambil menarik-narik baju beliau Umar berkata: “Wahai Rasulullah, engkau akan menshalatkannya, padahal Allah telah melarangmu berdoa untuknya?” Beliau menjawab: “Wahai Umar, Allah tak lebih hanya memberiku pilihan dengan firman-Nya

إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِینَ مَرَّةࣰ فَلَن یَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ [التوبة: ٨٠]

“Jika engkau beristighfar untuk mereka tujuh puluh kali, Allah tetap tak akan mengampuni mereka,” (Al-Taubah:80).

Lalu sabda beliau: “Aku akan beristighfar untuknya lebih dari tujuh puluh kali.” Subhanallah, sedemikian besarnya kasih sayang beliau kepada semua orang, bahkan termasuk mereka yang jelas-jelas bersikap ambivalen terhadap Islam dengan penegasan Allah sendiri.

Penulis: KH. Zainul Mu’in Husni (Masyayih Ma’had Aly Salafiyah Syafiiyah)

5.0/5.0 Article rating
5 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *