Hukum Islam Santri

Membatalkan Puasa Senin-Kamis, Wajibkah Diganti (qadha’’)?

Ketika kita telah sampai di bulan Ramadan maka ada kewajiban yang harus kita tunaikan, yakni berpuasa selama satu bulan penuh. Namun, tidak semua orang mampu melaksanakannya dengan tuntas. Ada beberapa orang yang dihadapkan dengan kondisi sulit tertentu yang menuntut ia harus membatalkan puasanya.

Menurut keterangan umum yang tersebar di dalam kitab-kitab fikih, bagi sesiapun yang dengan sengaja atau dengan terpaksa membatalkan puasa di bulan Ramadan maka ia berkewajiban untuk menggantinya (qadha’) di kemudian hari.

Pertanyaannya, apakah kewajiban mengganti (qadha’) puasa yang sudah dibatalkan juga berlaku dalam puasa sunah? Misalnya, suatu hari saya sedang melaksakan puasa sunah senin-kamis. Dan ketika sudah sampai di siang hari, saya tidak kuasa untuk tetap melanjutkannya. Maka kemudian saya membatalkannya. Pertanyaannya, apakah puasa yang saya batalkan ini wajib untuk diganti (qadha’) di kemudian hari, sementara puasa ini bukanlah kategori puasa wajib, melainkan hanya puasa sunah?

Di dalam kitab Rawai’ul Bayan (Juz I, Halaman 175-176), Syekh Ali al-Shobuni menjelaskan bahwa para ulama masih berbeda pendapat mengenai apakah membatalkan puasa sunah memiliki konsekuensi kewajiban menggantinya (qadha’) di kemudian hari ataukah tidak.

Pendapat pertama yang dipelopori kelangan ulama mazhab Hanafi mengatakan, seseorang yang menunaikan puasa, baik berupa puasa wajib maupun puasa sunah maka ia berkewajiban untuk melanggengkan puasanya hingga tiba waktu berbuka. Oleh karena itu, apabila ia membatalkannya sebelum tiba waktu berbuka maka ia berkewajiban menggantinya (qadha’) di kemudian hari. Hal ini didasarkan pada firman Allah, surah al-Baqarah, ayat 187 berikut ini.

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya : “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Qs. al-Baqarah : 187)

Dalam membaca ayat ini, ulama mazhab Hanafi fokus pada redaksi al-shiyam (puasa) yang merupakan lafaz amm (umum). Oleh karena itu, perintah untuk menyempurnakan puasa pada ayat ini tidak hanya terbatas mencakup puasa wajib semisal Ramadan saja, akan tetapi ia juga mencakup puasa apapun secara umum, termasuk puasa sunah.

Oleh karena itu, apabila seseorang sedang menunaikan puasa sunah, kemudian tidak mampu untuk menyempurnakannya sampai waktu berbuka, maka ia wajib menyempurnakannya kembali dengan cara menggantinya (qadha’) di kemudian hari.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh firman Allah dalam surah Muhammad, ayat 33, yang melarang seseorang untuk merusak atau membatalkan amal ibadah yang sedang dilaksanakannya.

 وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Artinya : “Dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Qs. Muhammad : 33).

Sementara menurut Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanbali, seseorang yang membatalkan puasa sunah sama sekali tidak memilki kewajiban untuk menggantinya di kemudian hari. Sebab, dalam hal puasa sunah, seseorang menjadi amir (pemegang kuasa penuh) bagi dirinya sendiri. Artinya, ia boleh melanjutkan puasa sunahnya dan boleh juga membatalkannya kapan saja.

Adapun dalil yang digunakan adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh al-Hakim berikut ini.

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Artinya : “Orang yang berpuasa sunnah adalah amir atas dirinya. Jika dia mau, dia bisa menyempurnakan (menyelesaikan) puasanya. Dan jika dia mau, dia boleh membatalkan puasanya” (HR. al-Hakim).

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Mazhab Maliki cenderung lebih moderat dalam melihat dan menghukumi masalah ini. Ia mengklasifikasi hukum seseorang yang membatalkan puasa sunah berdasarkan motifnya.

Pertama, jika motif kebatalan puasanya disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kendalinya maka ia tidak dikenai beban untuk mengganti (qadha’). Misalnya, karena sakit parah yang mengharuskan ia membatalkan puasanya demi keselamatan dirinya.

Kedua, jika motif kebatalan puasanya disebabkan oleh ulah dirinya sendiri maka ia berkewajiban mengganti (qadha’) puasanya di kemudian hari. Misalnya, karena minum atau makan yang dilakukan dengan sengaja.

Itulah ragam pendapat ulama dari berbagai mazhab mengenai hukum seseorang yang membatalkan puasa sunah yang dipaparkan oleh Syekh Ali al-Shobuni dengan sangat jelas dan terperinci. Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa, semangat terus puasa senin kamisnya, yah

Penulis: Syarifuddin (Santri aktif Ma’had Aly Situbondo)

4.7/5.0 Article rating
7 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *