Hukum Islam Santri

Pasien dalam pengaruh obat bius wajibkah mengqadha’ solatnya?

Sakit merupakan hal lumrah yang sering menimpa manusia. Bagi kita yang tertimpa penyakit diperintahkan untuk selalu berikhtiar dengan cara berobat kepada dokter yang sudah mumpuni di bidangnya. Beberapa penyakit dapat diatasi dengan meminum obat dengan teratur ada juga yang mengharuskan melakukan operasi.

Sebelum melakukan operasi, dokter biasanya memberikan obat bius guna memberikan efek tidak sadar kepada pasien. Efek bius yang berjam-jam bahkan berhari-hari membuat pasien tidak sadar sehingga melewatkan beberapa waktu sholat. Beberapa solat yang ditinggalkan menyebabkannya kesulitan untuk di-qadha’ (diganti).

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarhu al-Muhaddzab juz 3 halaman 6 mewakili kalangan madzhab syafi’i berpendapat bahwa seseorang yang kehilangan kesadarannya karena suatu sebab yang tidak diharamkan oleh syariat seperti pasien yang berada dalam pengaruh obat bius tidak wajib untuk menqadha’ solatnya. Hal ini sebagaimana yang tertulis dalam kitab beliau berikut,

من زال عقله بسبب غير محرم كمن جن أو أغمى عليه أو زال عقله بمرض أو بشرب دواء لحاجة أو اكره علي شرب مسكر فزال عقله فلا صلاة عليه وإذا أفاق فلا قضاء عليه بلا خلاف للحديث سواء قل زمن الجنون والاغماء ام كثر هذا مذهبنا

Seseorang yang kehilangan akalnya dengan suatu sebab yang tidak diharamkan seperti gila, epilepsi, hilang akal karena sakit, meminum obat karena suatu kebutuhan, atau dipaksa meminum perkara yang memabukkan kemudian hilang akalnya maka dia tidak dikenai kewajiban solat. Apabila telah sadar, tidak wajib untuk mengqadha’ solatnya.

Kalangan mazhab Maliki dan sebagian dari pengikut mazhab Imam Abu Hanifah juga memiliki pendapat yang sama mengenai tidak wajibnya mengqadha’ solat bagi pasien yang tidak sadarkan diri lantaran obat bius. Hal ini bisa diketahui dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah juz 34 halaman 29 berikut,

وصرح المالكية والشافعية ومحمد من الحنفية بأن من زال عقله بسبب مباح يقاس على المجنون ، فلا يلزمه قضاء ما فاته من الصلوات

Kalangan mazhab Maliki, Syafii, dan Muhammad dari mazhab Hanafi menjelaskan perihal orang yang hilang akal disebabkan perkara yang diperbolehkan (mubah) itu disamakan hukumnya dengan orang gila dalam hal tidak ada kewajiban mengqadha’ solat

Pendapat ini berdasarkan hadis nabi yang menjelaskan perihal hilangnya taklif (pembebanan) kewajiban pada tiga orang. Pertama, orang yang tertidur sampai dia terbangun. Kedua, anak kecil sampai dia dewasa. Dan yang ketiga, orang yang kurang waras sampai dia berakal. Sebagaimana dalam kitab sunan al-Turmudzy juz 4 halaman 32 berikut,

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يشب وعن المعتوه حتى يعقل

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, pena diangkat (hilangnya kewajiban) lantaran tiga hal, yaitu orang yang tertidur sampai dia terbangun, anak kecil sampai menjadi dewasa, dan orang kurang waras sampai dia berakal”

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pasien yang tidak sadarkan diri lantaran obat bius tidak dikenai taklif dan tidak wajib menqadha’ solatnya. Wallahu a’lam.

Penulis: Zainal Abidin

5.0/5.0 Article rating
6 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *