Santri

Amanah, tanggung jawab dan kepemimpinan

Assalamualaikum cah kancah!, kami senang sekali nih bisa kembali menyapa cah kancah sekalian. Gimana kabarnya? Semoga sehat semua ya dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Sudah lama ya TA tidak hadir di hadapan cah kancah, ada yang bertanya-tanya nggak nih kemana TA beberapa hari ini?. Jadi sebenarnya  TA bukan menghilang tanpa kepastian, apalagi menghilang pas lagi sayangnya (alay) tapi beberapa hari sebelumnya TA sedang melewati masa transisi pergantian kepengurusan. Kemarin rabu malam 17/02/21, diselenggarakan acara pelantikan dan serah terima jabatan kepengurusan baru kru majalah TA masa bakti 2021/2022. Sehingga kami sebagai kru baru beserta jajaran teman-teman kru yang lain membutuhkan proses adaptasi terlebih dahulu agar siap mengemban amanah yang besar ini.

Bicara tentang amanah, maka berbicara soal tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan. Ketiga hal ini saling berkaitan, amanah mengharuskan kita untuk bertanggung jawab, tanggung jawab akan lahir setelah diberi amanah, dan jiwa kepemimpinan merupakan manifestasi dari tanggung jawab. Misalkan kita diberi amanah untuk menjalankan suatu organisasi atau diberi amanah untuk menjadi imam yang baik bagi perempuan pilihan kita (kecuali yang jomblo nih), maka kita dituntut untuk bertanggung jawab terhadap mereka dengan memimpin mereka menuju arah yang lebih baik.

Lantas timbul pertanyaan, bagaimana kalau kita tidak mampu bertanggung jawab? Bagaimana kalau kita tidak memiliki jiwa kepemimpinan? Maka tinggal menunggu waktu saja yang menjawabnya, karena secara tidak langsung kita termasuk golongan orang yang telah menyia-nyiakan amanah serta tidak memiliki kredibilitas dalam mengemban amanah seperti yang telah disabdakan rasulullah saw:

إِذَا ضُيِّعَ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةُ، قاَلَ كَيْفَ إِضَاعَتِهَا ؟ فَقاَلَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةُ

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat.” Sahabat bertanya: “Disia-siakan yang bagaimana?”, Rasulullah bersabda: “Jika urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari).

Sikap amanah seyogyanya dimiliki dan diupayakan agar sifat itu benar-benar mendarah daging dalam kehidupan kita. Amanah dalam menjalankan tugas haruslah menjadi karakter seorang muslim. Dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun kita harus tetap bisa amanah dan bertanggung jawab.

Mengemban amanah berarti siap menghadapi dan menerima segala konsekuensi yang akan terjadi. Sehingga kita harus bisa menembus batasan diri dan keluar dari zona nyaman agar kita terbiasa dengan jalan ini. Halangan yang ada jangan sampai menyurutkan semangat untuk terus menunaikan amanah.

Amanah ini bukan soal mencari ketenaran dan pamor. Lebih dari itu, amanah mengajarkan kita bagaimana membangun tatanan sosial yang baik. Hal ini bisa terwujud manakala kita mampu menjalani semua tanggung jawab dengan sepenuh hati.

Akhirul kalam, semoga kru baru majalah TA masa bakti 2021/2022 dapat mengemban amanah yang besar ini dengan baik serta mampu memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan majalah TA.

TA ssemakin jaya!!!

Penulis: Muhammad Muzakkir

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *