Halaqoh

Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i bersama Ma’had Aly

Bukan potong tumpeng apalagi tiup lilin yang lumrah terjadi ketika perayaan hari lahir. Ma’had Aly Situbondo punya cara tersendiri dalam memperingati hari lahirnya yang ke-31. Lembaga terdepan dengan takhassus fiqh dan ushul fiqh tersebut mengadakan kegiatan ngaji bareng dengan tajuk “muhadharah ammah” bersama DR. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i, seorang pakar tafsir dari pondok pesantren tebuireng, Jombang.

KH. Ahmad Musta’in Syafi’i yang aktif menjadi pembicara dalam seminar Nasional dan Internasional tersebut termasuk salah seorang pakar tafsir beken di Indonesia. Pemikiran dan keilmuan beliau dalam bidang tafsir mewarnai jagat keilmuwan pesantren-pesantren di Nusantara khususnya di Jawa Timur. Buah pemikiran ini tertuang dalam salah satu karya beliau yang berjudul “Mutiara Hikmah Al-qur’an (Tafsir Al-qur’an Aktual)”.

Dalam acara muhadharah yang dilaksanakan kemarin 21/02/21, beliau secara mendalam mengupas tentang kontekstualisasi dan aktualisasi Al-qur’an dengan realita serta bagaimana memahami ayat qauliyah sesuai dengan tuntutan zaman. Putra dari kiai Syafi’i itu menyampaikan bahwa “teks Al-qur’an telah sempurna diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah saw, sedangkan upaya membumikan Al-qur’an dalam kehidupan umat masih terus berlanjut sesuai dengan keinginan Nabi-nabi kecil Tuhan, yaitu para ulama’ yang merupakan juru bicara Tuhan dalam menyampaikan pesan-pesan Al-qur’an”.

Dari penyampaian ini dapat dipahami bahwa dinamika pemikiran ulama’ dalam menyikapi permasalahan umat sangat tergantung kepada latar belakang waktu dan tempat. Lebih lanjut beliau kemudian melontarkan candaan “seandainya Imam Syafi’i sempat datang ke Nusantara ini, maka sanssgat mungkin lahirnya qaul ketiga yaitu qaul ajdad”.

Sehubungan dengan kontekstualisasi Al-qur’an, narasumber membagi secara umum bahwa wahyu itu ada  dua. Pertama, Ibtidai, yaitu wahyu yang bersifat doktriner. Kedua, Nuzuly, yaitu wahyu yang turun karena dilatarbelakangi oleh suatu sebab. Wahyu yang bersifat nuzuly ini sangat sedikit karena tergantung pada kasus atau peristiwa yang terjadi. Sehingga mayoritas ayat Al-qur’an itu bersifat Ibtidai, hanya sebagai doktrin atau pembelajaran dari Tuhan. Lantas muncul pertanyaan akademik, bagaimana jika tidak ada suatu kasus atau peristiwa yang terjadi? Apakah wahyu tidak diturunkan?, menurut beliau jawaban yang paling memuaskan untuk pertanyaan ini yaitu dengan teori Fatalistik atau Jabariah yang mengatakan bahwa antara wahyu dan konteks itu telah didesain oleh Tuhan secara utuh dan selalu bergandengan, sehingga tidak perlu adanya pembahasan yang berlarut-larut mengenai hal ini.

Di antara penyampaian beliau yang tak kalah nyentrik (menurut penulis), yaitu pendapat beliau bahwa tidak ada nasakh-mansukh dalam Al-qur’an. Sehingga tidak ada yang mulghah (sia-sia) di dalam Al-qur’an baik ayat maupun konteksnya. Mendengar pernyataan ini, mahasantri Ma’had Aly sukorejo yang belajar dan mengamini teori nasakh-mansukh kemudian melontarkan beberapa pertanyaan kepada beliau. Salah satunya tentang perbudakan di zaman sekarang, bukankah kontekstualisasi perbudakan di zaman sekarang sudah tidak lagi dijumpai?, Beliau lanjut mengomentari bahwa “ibarat sebuah rumah, agama Islam datang untuk membongkar dan mempreteli pondasi atau substansi perbudakan tanpa mengubah konstruk bangunannya, karena sangat mungkin di masa yang akan datang umat Islam akan kembali berhadapan dengan isu perbudakan meskipun tidak kita jumpai lagi di masa sekarang”.

Di balik beberapa penyampaiannya yang ilmiah, sesekali Kiai Musta’in menyelipkan beberapa candaan. Sehingga acara yang berlangsung selama lebih dari dua jam ini tidak menjenuhkan, bahkan asyik dan seru sekali. Maka betul ungkapan beberapa orang tentang Kiai Musta’in bahwa ia adalah seorang pakar tafsir yang sangat jenaka.

Bertempat di auditorium perpustakaan Ma’had Aly, acara ini dihadiri oleh seluruh mahasantri dan civitas akademika Ma’had Aly Situbondo. Dalam sambutannya General Manager majalah Tanwirul Afkar,  Ust. Muhyiddin Khatib menegaskan bahwa acara ini penting dilaksanakan mengingat kajian ushul fiqh tidak akan lepas dari tafsir Al-qur’an. Memahami ushul fiqh berarti memahami ayat Al-qur’an dan Hadits Nabi sebagai sumber rujukan utama syariat Islam.

Akhiran, dengan terlaksananya kegiatan ini sebagai bentuk ihtifal (perayaan) hari lahirnya Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, kami segenap kru majalah Tanwirul Afkar mengucapkan Selamat Harlah Ma’had Aly Situbondo yang ke-31 semoga tetap menjadi lembaga terdepan dalam mencetak kader ahli fikih yang siap menjawab permasalahan umat.

Penulis: Muhammad Muzakkir

5.0/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *