Kajian Keislaman Santri

Cinta Suci Yang Seharusnya Dipendam

Masyarakat jagat Indonesia sempat dibuat geger oleh kasus “penyerongan” seorang artis, bahkan yang bikin kontroversi, ia masyhur dikenal sebagai musisi religi. Pasalnya, ia memanifestasikan rasa cinta suci itu terhadap orang yang sudah berada di dalam ikatan suci pernikahan. Dan lebih dari itu, ternyata isu yang santer memberitakan bahwa ikatan pernikahan itu sudah goncang selama dua tahun sebelum berita ini mencuat ke permukaan. Sehingga tak lama kemudian, ikatan suci itu menjadi terlepas dan menyisakan banyak polemik, mulai reputasi tercoreng dari pihak keluarga bahkan bisa merusak mindset anak bangsa.

Rasa cinta pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang datang dari Tuhan. Sehingga manusia yang mempunyai rasa cinta tidaklah ditaklif (tidak dikenai beban hukum) sampai ia mengungkapkannya. Syekh al-Atthar mengatakan:

لا تكليف إلا بفعل

Tidak ada taklif kecuali dengan perbuatan” [Hasyiyah al-`Atthar `ala Jam`i al-Jawami`, Juz II, 170]

Di dalam hal ini, bukti nyata rasa cinta adalah mewujudkan dengan perkataan dan condongnya perbuatan. Namun, sekiranya bukti nyata ini mengantarkan kepada tindakan yang dilarang oleh syara’ maka sejak dini rasa cinta itu dilarang untuk dimanifestasikan dengan bentuk cara apapun. Akan tetapi, rasa cinta bisa muncul dengan adanya intervensi dari manusia, semisal adanya kebersamaan. Karena cinta (المودة) dan kasih (الرحمة) itu dibentuk oleh kata ja`ala (جعل) berbeda dengan kata khalaqa (خلق) yang mengindikasikan tidak adanya intervensi dari manusia alias murni laku Allah.

Tindakan yang dilarang oleh syara’ akibat manifestasi cinta suci di atas adalah merusak rumah tangga orang lain. Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا ، أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ

Bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya.” [Sunan Abi Daud, Juz II, 253]

Syekh Abdul Muhsin Ubad dalam kitab Syarah Sunan Abi Daud memberi penjelasan mengenai keterangan hadis tersebut. Beliau memaknai penipuan itu dengan berusahanya seseorang untuk merusak hubungan sepasang suami istri. Usaha destruktif ini misalnya seperti membuat sakit hati istri sehingga memaksa dia untuk bercerai dari suaminya. Sebagaimana penjelasan beliau berikut:

والتخبيب هو إفساد المرأة على زوجها، بأن يسعى إلى أن يفسد ما في قلبها حتى يكون الفراق

Takhbib merupakan merusak hubungan pasutri, seperti membuat sakit hati istri sehingga memaksa dia untuk bercerai dari suaminya

Pemilik kitab Syarah Sunan Abi Daud ini juga menjelaskan ancaman nabi terhadap pelaku perselingkuhan. Menurut beliau redaksi laisa minna dalam hadis menunjukan seseorang yang berselingkuh dihukumi keluar dari ajaran nabi, kendatipun tidak sampai menyebabkan dia menjadi kafir. Orang itu dihukumi pelaku maksiat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana dalam perkataan beliau berikut:

وقوله: (ليس منا) يدل على تحريمه وأنه من الأمور المحرمة، وأن من يفعل ذلك فقد عرض نفسه لأن يكون من أهل هذا الوصف، لكن لا يعني ذلك أنه ليس من المسلمين، بل هو مسلم، ولكنه ليس على المنهج الصحيح وعلى الطريق الصحيح، بل هو عاص ومخالف

Sabda nabi (tidak termasuk golongan kita) menunjukan keharaman perilaku tersebut dan tergolong dari perbuatan yang diharamkan. Seseorang yang melakukan hal ini sekalipun tidak sampai pada taraf kafir tetapi dapat mengeluarkan seseorang dari jalan yang lurus dan manhaj yang sohih

Bisa diambil kesimpulan, bahwa perasaan cinta terhadap siapapun itu dibenarkan oleh Islam. Namun, tinggal bagaimana kemudian kita akan memanifestasikan cinta tersebut, apakah memendamnya atau mewujudkannya, sehingga dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan yang tidak diinginkan.

Penulis: As’ad Humam

3.0/5.0 Article rating
4 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *