Kontemporer Santri

TENTANG RASA

بَكَيْتُ عَلَى سِرْبِ الْقَطَا إذْ مَرَرْنَ بِيْ … فَقُلْتُ وَمِثْلِيْ بِالْبُكَاءِ جَدِيْرُ

أَسْرَبَ الْقَطَا هَلْ مَنْ يُعَيْرُ جَنَاحَهُ … لَعَلِّيْ إلَى مَنْ قَدْ هَوَيْتُ أَطْيَرُ

“Aku menangis tersedu tatkala iring-iringan burung merpati melintasiku”

“Akupun berkata ‘Orang sepertiku memang pantas menangis’”

“Wahai burung  merpati! Adakah yang sudi meminjamkanku sayap…”

“Agar aku bisa terbang menemui orang yang kucintai?”

Rasa, bukan manis gula, asin garam, pahit kopi yang kumaksud. Iya, ini tentang rasa, rasa yang bahkan lautan akan sulit menghimpun, gunung akan sulit menahan, rasa yang bahkan membuat cemburu Tuhan. Rasa, siapa yang tahu seperti apa bentuknya? Siapa yang tahu bagaimana keadaannya? Siapa yang bisa menebak apa yang diinginkannya? Rasa yang sulit untuk dirasa, rumit untuk dicerna, abstrak untuk diraba, terkadang pula sangatlah absurd bahkan, mudah berubah, tak jarang membuat orang merasakan akibat rasa. Iya,  aku dituntut memahami rasa yang bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana cara merasa. Sebut saja rasa ini cinta.

“Semua yang kukatakan itu benar, aku tidak pernah membohongi perasaanku, aku ingin mengakhirinya!” perkataan yang nyaris mengoyak hati, seperti kidung setan terdengar tanpa henti. Masih seperti mimpi, tiap kali terjagaku dari tidur kuulangi lagi membaca surat itu dengan seksama, berharap itu mimpi dan segera terbangun kedunia. Nyatanya tidak, tetap saja, ini benar-benar nyata, bukan mimpi. Rasanya kemarin masih baik-baik saja, mentari masih hangat membalut, burung pun tertawa mesra larut, alam sekitar sejuk menyambut. Iya, semua masih baik-baik saja. Namun tetap kuyakini, semua akan baik-baik saja.

Kisah ini berawal dari perjumpaan mesra dua insan yang mabuk asmara. Saling mengucap janji setia, berharap bahagia dengan melisankannya. Haha… Mengangankannya saja sudah menjadi nikmat yang luar biasa. Serangkain kosa-kata takkan mampu membendung maknanya, apalagi hanya sepatah dua patah kata, iya, itulah rasa. Penuh canda tawa bahagia, tak jarang pula merundung duka nestapa lara.

“Kamu hanya mengingat masa lalumu itu!” potongan surat selanjutnya yang kubaca tak kalah meremuk redamkan hatiku. اَلْقَدِيْمُ يُتْرَكُ عَلَى قِدَمِهِ (yang lalu biarlah berlalu) bukankah semua orang memiliki masa lalu? Tak bisakah aku melanjutkan kisahku tanpa menyinggung-nyinggung masa lalu itu? Yah, meskipun aku tahu, -kalian pun pasti tahu- tak mudah melupakan masa lalu, setidak-tidaknya yang pernah berlalu akan membekas meski sudah dipungkas قَدْ يَثْبُتُ الْفَرْعُ مَعَ عَدَمِ ثُبُوْتِ الْأَصْلِ (terkadang sisa-sisa itu tetap ada sekalipun asalnya sudah tidak ada) Sudah kubilang kan? Sulit sekali ditebak, begitulah rasa.

Sebenarnya salahku juga, mengapa masih sangat sulit untuk melupakan masa lalu. اَلنَّهْيُ عَنِ الشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ وَسَائِلِهِ (larang melakukan sesuatu juga merupakan larangan melakukan perantaranya) Dia sudah sering mengatakan agar aku tidak mengingat-ingat lagi masa lalu itu, tapi masih saja aku seperti itu, wajar kalau sikapnya seperti ini. Tiap kali mencoba melupakan semakin saja ia lekat dalam ingatan. Iya, aku berada diposisi merasakan rasa yang sulit untuk dirasa. Meski begitu, aku yakin rasa cintaku ini tulus kepadanya. Hanya saja aku terlena oleh kebodohan yang dibuat oleh rasa, hingga lupa kepada siapa semestinya aku merasa. Ataukah karena memang aku yang tak kuat menahan sehingga membuat cemburu Tuhan?

“Bukannya aku tak cinta, hanya saja aku ragu!” aku mulai mengerti dan sadar, betapa bodohnya aku, menyia-nyiakan orang yang sebenarnya mencintaiku. اِذَا اجْتَمَعَ الْمُقْتَضِيْ وَ الْمَانِعِ قُدِّمَ الْمَانِعُ (ketikan pendorong dan penghalang berkumpul maka yang didahulukan adalah penghalang) Meskipun aku berhak untuk menentukan mau dilabuhkan kemana perasaanku, tetap saja perasaanku ini sudah untuknya. Lagi-lagi karena dibutakan rasa, rasa yang rumit dicerna, rasa yang abstrak diraba. Haha… iya, ini soal rasa.

Aku pernah mendengar sebuah ungkapan yang dikatakan temanku, ia mendengar ungkapan tersebut dari gurunya, entah ini memang ungkapan dari guru tersebut atau hanya nukilan dari orang bijak soal cinta? Entahlah aku tidak  begitu tahu, kurang lebih seperti ini katanya “cinta seorang lelaki itu keegoisan sementara cinta seorang perempuan itu kebanggaan” mau kuartikan maksudnya? Emmm… kurang lebih maksudnya begini. Ketika seorang lelaki mencinta, ia ingin yang menjadi pecinta hanyalah dia, sementara ketika seorang perempuan mencinta, dia akan membanggakan sesuatu yang dimiliki oleh orang yang ia cinta. Mungkinkah aku benar egois dengan cintaku? Bukankah itu terdengar bagus? Ataukah karena tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku? Lebih-lebih aku masih sering mengingat masa lalu.

Dalam hati aku bergumam, “Beri aku kesempatan! Beri aku kesempatan sekali lagi, akan kuperbaiki sikapku!” لَا يُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ الْأَزْمَانِ وَ الْاَحْوَالِ (tidak bisa dipungkiri bahwa hukum itu bisa berubah sesuai dengan keadaan dan zaman) Bukankah rasa itu bisa berubah seiring berubahnya kondisi dan waktu? Aku dengan masa laluku, mungkin saja akan segera benar-benar berlalu dan kamu akan segera kembali menerimaku. Sudah kubilang kan? Ini soal rasa, terkadang membuat kata melantur entah kemana.

“Terima kasih, sudah pernah mewarnai hari-hariku, aku tidak akan melupakannya!” pungkasnya. Apakah sudah terlambat? Apakah sudah tidak ada kesempatan lagi untukku? Atau memang dia ingin memberi kesempatan kepadaku, tapi tidak untuk kembali lagi dengannya, tapi agar aku dan dia sama-sama tidak lagi merasakan sakit yang lebih sakit akhirnya, tapi kenapa harus berujung demikian?-Ahhh… banyak tapinya!- bukankah hal ini lebih baik? Bukankah lebih baik kita akhiri daripada tetap bersama tapi menyakiti satu sama lain? إذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا (pada saat dua hal yang menyakitkan pasti terjadi maka kita harus memilih yang paling ringan).

Bagi kalian yang penasaran siapa aku dan dia dalam cerita ini. Sebut saja aku Budi dan dia Wati. Semoga kalian tidak termasuk orang yang dibodohi rasa.

3.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *