Dosen/Santri/Alumni Kontemporer

SANTRI YANG BENAR-BENAR SANTRI

Penulis: Prof. KH. Ahmad Imam Mawardi

Tamu keempat yang hadir ke pondok kami hari ini adalah santri yang diutus kiainya untuk menyampaikan permohonan tertentu kepada saya. Dari Bondowoso santri ini naik bis umum menuju Surabaya, lalu naik ojek dari terminal menuju pondok kami. Perjalanan yang melelahkan, terlebih karena bis yang ditunggunya tak segera tiba. Saya sedang menguji disertasi saat tamu ini datang. Saya minta agar sabar sejenak menunggu usai ujian disertasi.

Santri ini sabar menunggu waktu, tetap tak mengeluh walau harus menunggu. Ini adalah karakter khas santri jika bertamu ke pondok. Saat saya masih nyantri duly, bahkan sampai kini, masih juga kadang harus menjnggu dengan sabar waktu beetemu dengan kiai yang saya kunjungi. Pernah beberapa kali saya harus menhinap demi menunggu kiai keluar dari kamar. Saya jalani karena memang dalam keyakinan saya sebagai santri pasti ada rahasia dan barokah.

Saat bertemu, santri Bondowoso ini berjalan khas santri dan bersalaman khas santri. Apa memang ada gaya khas santri? Ada. Mereka yang pernah mondok di pondok salaf (bukan salafi) pasti tahu dan terbiasa dengan gaya khas ini. Disampaikanlah permohonan pengasuh pondoknya yang diamanahkan melaluinya. Saat saya jawab “iya, saya banyu dan saya upayakan segera,” santri ini menangis lalu sujud syukur. Mengapa?

Bagi santri, membahagiakan guru atau kiainya adalah salah satu kenikmatan puncak. Sampai kini, saya paling senang kalau saya bisa membahagiakan dan menyenangkan guru-guru saya. Karena itu saya paham betul akan perasaan jiwa santri Bondowoso ini. Saya terharu karena di jaman begini masih ada yang melanjutkan tradisi santri yang ditanamkan para guru dan kiai pesantren. Tamu santri ini lalu berdiri untuk pamit, sambil tersenyum dengan wajah berbinar dia berkata:”Alhamdulillah, akan segera saya sampaikan ke kiai.”

Saat dia pulang, saya mengingat kisah Kiai As’ad Sang Pahlawan Nasional Situbondo, guru saya, saat diperintah gurunya, Syaikhona Khalil Bangkalan untuk menemui K. H. Hasyim Asy’ari Jombang dengan membawa amanah penting pendirian NU. Kiai As’ad tak hendak sekalipun menyalahi amanah. Beliau laksanakan semuanya persis seperti yang diperintahkan. Dengan segera dan apa adanya disampaikan, tanpa ada perubahan, penambahan dan pengurangan. Santri sejati yakin bahwa selalu ada rahasia dan hikmah dinalim apa yang diperjntahkan guru. Salam, AIM, yang selalu santri.

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *