Kajian Keislaman Santri

Fitnah Dalam Lintas Budaya Arab dan Indonesia

Kerapkali orang Islam –khususnya muslim Indonesia- salah memahami makna fitnah yang ada di dalam al-Qur’an. Lafadz fitnah yang ada di dalam al-Qur’an mereka pahami sebagai makna fitnah dalam bahasa indonesia. Lebih parahnya lagi, mereka jadikan dalil untuk melarang seseorang melakukan hoax menyangkut orang lain.

Fitnah atau dergama dalam bahasa indonesia merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi kehormatan, wibawa, atau reputasi seseorang.

Berdasarkan pengertian tersebut, lalu ketika ada seseorang membicarakan orang lain dimana pembicaraan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang terjadi maka mereka sebut sebagai fitnah. Tidak berhenti disitu, mereka juga mengklaimnya sebagai pelaku dosa besar karena telah melanggar aturan Agama.

Anehnya, mereka berani berdalih menggunakan al-Qur’an. Walaupun bekal ilmu yang mereka miliki masih dibilang sangat minim. Jangankan ilmu untuk memahami al-Qur’an, membacanya saja jarang. Tetapi, mereka berani sekali berdalil menggunakannya. Seolah-olah ayat yang dia kutip sedang membicarakan masalah yang dia maksud.

Biasanya dalil yang mereka gunakan untuk mengatakan bahwa fitnah itu haram adalah potongan surah al-Baqarah ayat 91 yang berbunyi:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Begitu kira-kira mereka mengartikannya.

Lalu pertanyaannya, apa benar fitnah yang ada di dalam al-Qur’an itu maksudnya sama dengan fitnah yang dimaksud oleh masyarakat? Padahal potongan ayat sebelumnya dan setelahnya sama sekali tidak membahas tentang hoax menyangkut orang lain. Kalau begitu, lalu apa makna fitnah yang ada di dalam ayat tersebut? saya akan mencoba untuk memaparkan beberapa pendapat ulamak ketika menafsiri ayat tersebut.

Abu Muhammad Abdul Haq Bin Ghalib Bin Atiyyah Al-Andalusi berpendapat di dalam tafsirnya Al-Muharrar Al-Wajiz Fi Tafsiri Al-Qur’an mengutip pendapatnya al-mujahid  ketika menafsiri kata-kata fitnah di dalam ayat tersebut.

ويحتمل أن يكون المعنى والفتنة أي الكفر والضلال الذي هم فيه أشد في الحرم وأعظم جرما من القتل الذي عيروكم به في شأن ابن الحضرمي

Maknanya fitnah adalah kufur dan sesat, dimana perbuatan tersebut lebih haram dan lebih dosa dari pada pembunuhan yang dilakukan oleh ibnu al-Hadromi yang para sahabat mencela habis-habisan karena kejadian tersebut.

Wahbah Bin Mustofa Al-Zuhaili juga menafsirkan makna fitnah sebagai berikut.

وَالْفِتْنَةُ الشرك منهم أعظم من القتل لهم في الحرم أو الإحرام الذي استعظمتموه. وقيل : إن المراد بالفتنة : ما يقع من المشركين من صنوف الإيذاء والتعذيب.

Yang dimaksud fitnah adalah syirik. Jadi, syirik yang mereka lakukan itu lebih besar dari pada pembunuhan yang kamu lakukan kepada mereka. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fitnah adalah perbuatan menyakiti dan penyiksaan dari kaum musrik terhadap kaum muslim.

Di dalam tafsir al-Razi sangat detail ketika menafsiri surah al-baqoroh ayat 191. Beliau menafsiri makna fitnah sebagai kufur. lalu kenapa fitnah dimaknai kufur? beliau menjawab:

وإنما سمي الكفر بالفتنة لأنه فساد في الأرض يؤدي إلى الظلم والهرج ، وفيه الفتنة

Karena kufur itu merusak bumi yang dapat mengantarkan terhadap kedzoliman dan kekacauan. Dan itulah hakikat dari fitnah.

Lalu pertanyaan selanjutnya, kenapa kufur lebih bahaya dari pada pembunuhan? Imam Al-Rozi melanjutnya dengan menjawab:

وإنما جعل الكفر أعظم من القتل ، لأن الكفر ذنب يستحق صاحبه به العقاب الدائم ، والقتل ليس كذلك ، والكفر يخرج صاحبه به عن الأمة ، والقتل ليس كذلك فكان الكفر أعظم من القتل

Karena kekufuran merupakan dosa yang membuat pelakunya disiksa selamanya dan dia dikeluarkan dari umatnya Nabi Muhammad saw. sementara orang yang membunuh tidak demikian. Oleh karena itu, kekafiran lebih beresiko besar dari pada pembunuhan.

Sudah jelas bukan? Jadi, makna fitnah yang ada di dalam surah al-baqoroh ayat 191 bukanlah fitnah dalam bahasa indonesia. Lagian, ayat tersebut sama sekali tidak membahas tentang fitnah dalam arti bahasa Indonesia. Akan tetapi, ayat tersebut sababun nuzulnya adalah untuk merespon sebagian sahabat yang membunuh seorang laki-laki dari kalangan orang kafir pada saat bulan haram. Lalu para sahabat yang lain mencelanya karena telah melakukan pembunuhan di bulan tersebut. kemudian turunlah ayat tersebut yang maknanya “pembunuhan yang dilakukan salah satu sahabat di bulan haram itu masih lebih baik dari pada kekafiran mereka orang-orang kafir”.

Jadi sekali lagi, ayat والفتنة أشد من القتل  tidak membicarakan makna fitnah yang dipahami dalam bahasan Indonesia. Apalagi dijadikan dalil keharaman untuk itu. walaupun fitnah (dalam arti bahasa Indonesia) memang haram. Tetapi, bukan itu dalilnya. Do you understan? Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis: Abdul Gani

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *