Keuangan Kontemporer

Teori Waris Sebagai Manifestasi Islam Dalam Menghargai Wanita (Part 1)

Kini istilah ‘kesetaraan gender’ makin terdengar tidak asing. Berbagai upaya yang orang lakukan untuk mempromosikan istilah tersebut. Mulai dari seminar yang diselengggarkan, diselipkan melalui mata pelajaran kuliah yang disampaikan, hingga obrolan ringan di pinggir jalan. Tidak hanya sesingkat itu, beberapa orang juga membuat grup khusus di sosial media tertentu untuk membantu menviralkan gerakan femenisme tersebut.

Doktrin tersebut muncul bermula dari sejarah-sejarah yang menyedihkan. Tercatat bahwa kaum wanita masa silam seringkali dikategorikan  manusia kelas dua, bawah,  bahkan rendah. Dalam rekaman sejarah yang mengenaskan menyebutkan, bahwa wanita acapkali dijadikan sebagai pelampiasan hawa nafsu bejat para lelaki hidung belang. Dalam kasus terparah, para pendahulu sangat enggan anaknya lahir dengan kelamin wanita. Mereka menganggap wanita adalah aib keluarga. Tidak sedikit dari kaum jahily yang memilih solusi tak masuk akal dengan cara mengubur hidup-hidup putrinya yang baru keluar dari rahim istrinya.

Melalui kejadian-kejadian pilu tersebut, kini para wanita bangkit. Mereka mengumumkan pada muka publik bahwa wanita layak dihargai dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka layak menjadi pemimpin sebagaimana para laki-laki; mereka mampuni untuk mencari bekal sesuap nasi untuk keluarganya di rumah; mereka juga memiliki daya intelektual yang mampu bersaing dan tak kalah dari para pria. Gambaran sekilas ini kemudian dibungkus dan disebut dengan istilah ‘kesetaraan gender’.

Tidak hanya disektor politik maupun ekonomi, kesetaraan gender yang ditawarkan ternyata merambat hingga ke kasus-kasus agama. Para wanita liga dunia ternyata turut mengkritik putusan hukum yang diberikan agama karena dianggap telah mendiskriminasi wanita. Misalnya Islam melarang wanita pergi rumah dikala petang sementara laki-laki tidak.

Kasus agama lainnya yang seringkali mendapat penolakan adalah masalah waris. Para pemikir feminisme juga membantah keputusan hukum yang diambil melalui penggalan surat al-Nisaa’ ayat 11: Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Mereka menilai Islam telah mendeskriminasi wanita melalui teori waris yang disajikan. Menurutnya tidak logis kalau laki-laki mendapat bagian lebih dari harta yang diterima para wanita. Seharusnya wanita yang notabennya lebih lemah harus mendapatkan bagian lebih atau minimal sama. Melalui argumentasi ini mereka mengkritik teori waris tersebut, bahkan memaksa untuk digubah karena tidak sesuai dengan prinsip ‘kesetaraan’.

Jika melihat secara kaset mata, memang benar, laki-laki yang mendapatkan bagian dua kali lipat dari wanita merupakan bentuk ketidakadilan. Hanya saja, keputusan dan mengklaim agama telah deskriminasi melalui teori waris merupakan keputusan yang terlalu dini. Karena, sebelum melakukan penilaian pada suatu kasus kita harus mengetahui sejarahnya, mulai dari sebelum dan setelah hukum itu diberlakukan. Selain itu, kita juga perlu mengetahui tujauan dari keputusan hukum itu diberlakukan.

Untuk menjawab dan membuktikan kebenaran hal tersebut kita perlu mengetahui beberapa hal. Agar sampai pada bagian yang dinginkan, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahului,  di antaranya: bagaimana iklim waris sebelum Islam muncul? Selanjutnya, bagaimana pembagian harta waris dilakukan setelah Islam hadir? Terakhir, apa tujuan atau hikmah di balik laki-laki mendapatkan bagian lebih dibandingkan wanita?

Mari kita mulai dari pertanyaan pertama yakni bagaimana iklim waris sebelum Islam muncul? Sebelum bendera Islam dikibarkan, wanita mengalami derita kelam. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit dari prilaku lawan jenisnya. Di kala itu para hawa dipandang sebelah mata, bahkan dianggap tak lebih dari alat pemuas nafsu birahi kaum pria. laki-laki di masa silam menilai bahwa kehadiran para wanita hanya sebagai petaka belaka. Mereka hanya bisa menghabiskan isi kantong beras, tidak bisa andil dalam peperangan, serta tidak bisa melakukan perlindungan. Tak ayal di masa tersebut wanita dicegat dan dihalangi untuk mendapatkan harta waris.

Ketika Islam muncul barulah doktrin tak senonoh tersebut mulai dikikis sedikit demi sedikit. Wanita yang pada mulanya dianggap kelas dua, kini mulai dianggap keberadaannya. Islam mengajarkan pria untuk menghormati serta menghargai kaum wanita. Agama yang dibawa oleh Muhammad Saw. tersebut turut mengingatkan bahwa wanita adalah manusia bukan benda yang seenaknya dimanfaatkan.

Tak hanya itu, dalam pembagian harta waris misalnya, kehadiran wanita juga mulai diperhatikan. Melalui ayat-ayat al-Quran semisal Surat Al-Nisa ayat 11dan Surat An-Nisa ayat 176, Allah Swt. mengaskan bahwa wanita juga memiliki hak untuk mendapatkan harta. Mulai dari sini hak waris wanita mulai ada perubahan, semula tidak mendapatkan apa-apa, kini para wanita sudah bisa menerima harta.

Ketika ayat-ayat tentang waris muncul, lantas saja para warga arab membantah. Mereka tidak terima, karena wanita yang notabennya tidak memiliki kontribusi apapun tidak layak mendapatkan bagian harta. Warga arab kala itu memberi harapan penuh bahwa ayat waris dinaskh dan dirubah. Bahkan dalam cuplikan keterangan yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas disebutkan: tatkala ayat tentang faraid turun sebagian orang tidak menyukainya dan berkata. Wanita diberi bagian 1/4 dan 1/8, anak perempuan diberi 1/2 , anak kecil pun mendapatkan bagian waris, padahal tak seorang pun dari mereka yang ikut serta dalam berperang dan mendapatkan harta ganimah.

Dari ulasan keterangan yang dipaparkan mulai tampak,  bahwa teori waris yang ditetapkan, tidak sedikit pun memiliki maksud-tujuan untuk melecehkan perempuan, bahkan sebaliknya. Keberadaan Islam mengubah adat sekitar yang semula para wanita tidak mendapatkan bagian harta menjadi memperoleh harta waris.

penulis: Fathul Qorib

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *