Keuangan Kontemporer

Teori Waris Sebagai Manifestasi Islam Dalam Menghargai Wanita (Part 2)

Selanjutnya yang menjadi masalah adalah kandungan surat al-Nisa’ ayat 11. Di dalam kandungan ayat tersebut menyebutkan, wanita memperoleh bagian lebih sedikit dari harta yang diterima oleh laki-laki yakni pria mendapatkan dua kali lipat dari harta yang didapat oleh perempuan. Lantas apa hikmah di balik pemetakan itu? bukannya ayat tersebut secara tidak langsung merupakan lambang ketidakadilan karena salah satu lawan jenis diunggulkan dari yang lainnya?

Di dalam monografnya, al-Mawarist Fi al-Syariah al-Islamiyah karya Prof. DR. Muhammad Ali ash-Shabuni menuturkan, ada beberapa alasan di balik penggalan ayat 11 surat al-Nisa’. Bagian lebih yang diberikan syariat pada kaum pria bukan untuk menafikan keadilan dan bukan juga berdasarkan asumsi para kawula kaum jahiliy yakni keberadaan wanita tanpa ada jasa yang signifikan dalam keluarga, sehingga tidak boleh diistimewakan.

Dalam karyanya, ulama asal Suriah tersebut menyebutkan, kurang lebih ada 5 alasan mengapa laki-laki mendapatkan bagian lebih, antara lain: (1) Kebutuhan nafkah wanita sudah ditanggung oleh pihak yang berwajib, baik orag tua, anaknya, atau sanak family lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kaum pria. (2) Perempuan tidak memiliki beban nafkah, dalam mahligai rumah tangga yag memiliki tanggung jawab mengeluarkan biaya hidup adalah para laki-laki bukan perempuan. (3) Laki-laki memiliki kebutuhan lebih dibandingkan wanita, karena pria memiliki tanggung jawab besar untuk memberi nafkah keluarganya. (4) Dalam tali pernikahan, laki-laki memilki tanggung jawab membayar mahar, nafkah papan, pangan, serta sandang kepada pasangannya. (5) biaya pendidikan anak dan biaya pengobatan istri dan anak semuanya merupakan kewajiban laki-laki.

Melihat beberapa tampilan alasan, rupa-rupanya syariat tidak bisu tanpa alasan dalam memprioritaskan laki-laki dalam memberi  harta waris. Agama memberikan nilai plus pada pria karena mereka memiliki tanggungan lebih besar. Ini berarti, meskipun perempuan mendapatkan bagian waris lebih sedikit, sangat mungkin sekali isi dompet pria lebih dulu kandas. Maklum saja, pasca harta waris diberikan tidak butuh waktu lama para laki-laki melakukan pengeluaran karena lilitan kewajiban. Ha ini tentu berbeda dengan para wanita, mereka bisa menabung harta waris yang diperolehnya, melihat kebutuhannya sudah ada yang bertanggung jawab yakni orang tua atau suaminya [al-Mawarist Fi al-Syariah al-Islamiyah, hal. 12-17].

Ala kulli hal, keadilan tidak identik dengan kesetaraan. Memang benar, wanita sebagai manusia punya hak untuk dihargai dan tidak disepelekan. Hanya saja menutut agar semua hak yang ada pada laki-laki diberikan pada wanita dengan dalih ‘kesetaraan’, seutuhnya tidak dapat dibenarkan. Dalam pembagian harta waris yang turut dikoar-koarkan karena adanya kesenjangan, agama memutuskan bukan tanpa alasan. Syariat memberikan bagian lebih pada kaum pria karena melihat maslahat kedepannya. Laki-laki yang merupakan tulang punggung keluarga sudah seyogianya mendapatkan pemberian lebih. Hal ini tak lain sebagai respon lanjut dari agama yang telah menobatkan para kaum adam untuk bertanggungjawab dalam membiayai semua keperluan keluarganya.

penulis: Fathul Qorib

4.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *