Halaqoh Kontemporer

NGAJI FIKIH LINGKUNGAN

Di malam nishfu sya’ban kemarin, pengajian khataman kitab al-bi’ah wa al-hifadh `alaiha min mandhur islamiy baru dimulai secara online. Karya Syekh Nuruddin Ali Jum’ah itu dibaca langsung oleh ustad pemerhati lingkungan, khususnya lingkungan sekitar pesantren. Riskil Azizi adalah nama ustad milenial itu. Kebekenannya dalam mengkritik dan memberi saran terhadap pihak pesantren terkait lingkungan membuatnya tak sedikit orang yang tidak mengenalnya.

Beliau tumbuh berkembang dengan pemikiran-pemikiran yang cemerlang itu tidak lepas dari bentukan kognisi dari guru sekaligus murabbi kita semua, Kiai Hariri Abdul Adhim. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari Kiai Hariri dalam menghormati lingkungan sekitar. “Jangankan menebang pohon, memetik dedaunan yang ada di ranting saja, beliau (Kiai Hariri) marah” ungkap beliau.

Beliau menyampaikan signifikansi pembacaan kitab tersebut bahwa tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar untuk menyadarkan kita untuk peduli terhadap lingkungan. Tidak cukup melakukan burling (burdah keliling) tetapi juga harus darling (sadar lingkungan). Namun, darling juga tidak akan menghilangkan problem ekologis kita tanpa adanya anying (gerak nyata lingkungan). Sebagaimana telek ayam di lantai masjid yang hanya ditandai dengan lingkaran dan ditulisi najis, dibiarkan begitu saja, tidak dibersihkan.

Untuk menambah semangat ekologis, kita hendaknya mengetahui dan mengerti akan krisis lingkungan yang menimpa dunia ini. Dengan pengetahuan itu, kita akan menganggap betapa pentingnya membaca kembali kepedulian Islam terhadap lingkungan.

Beliau menyarankan buku berjudul “Bumi Yang Tak Dapat Dihuni” agar kita mengetahui kondisi lingkungan dunia ini. Di dalam buku itu, jakarta diprediksikan tenggelam pada tahun 2050. Mengerikan bukan!? Mungkin kita tidak hidup di tahun itu tetapi generasi kita akan mengalami bencana itu lantaran ulah kita sebagai generasi yang dititipi (intrust) lingkungan ini.

Wajar, orang berkata dengan lantang “membela hutan itu jauh lebih penting daripada membela Tuhan”, alih-alih orang tersebut sudah membaca dan memahami secara komprehensif terkait isu-isu lingkungan yang beredar dan pandangan Islam terhadap lingkungan. Karena melalui pohon-pohon itulah Allah memberikan banyak nikmat. Salah satunya yang paling vital adalah oksigen. Dengan oksigen lah kita bisa bernapas.

Hifdhul bi’ah (menjaga ligkungan) merupakan ujung tombak dari lima maqashidus-syari`ah. Tanpa lingkungan, maqashid tersebut tidak akan terwujud. Bagaimana kita bisa melaksanakan solat dengan tenang kalau lingkungannya rusak? Oleh karena itu, Yusuf Qardlawi menyatakan bahwa mencemari lingkungan berarti ia merusak tatanan maqashidus-syari`ah.

Tujuan kita membaca kitab ini agar kita punya semangat untuk melakukan gerakan-gerakan peduli lingkungan karena gerakan-gerakan tersebut merupakan amal jariah kita. Jadi, menanam pohon itu amal jariah, dan menebang pohon itu … (silahkan isi sendiri dengan kata yang paling sopan sebagai ungkapan dari tindakan buruk tersebut). Kalau anda mau menebang pohon, berikan alasan kenapa harus ditebang, dan biarkan pohon itu yang berbicara.

Beliau juga menyarankan kitab-kitab yang berbau fiqh al-bi’ah, seperti himayah al-bi’ah fi asy-syari`ah al-islamiyyah karya Wahbah Zuhaili, ri`ayah al-bi’ah fi syari`ah al-islam karya Yusuf Qardlawi, dan masih banyak kitab-kitab yang lain.

Diumumkan!!! Pengajian kitab ini dimulai setiap bakda isya. Silahkan kunjungi akun You Tube Ma’had Aly Situbondo. Jangan lupa like, komen dan subscribe. Trims…

 

penulis: As’ad Humam

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *