Dosen Hukum Islam

Kritik Terhadap Konsep Haid dan Istihadah

Penulis: Dr. Imam Nakhe’i, M.H.I

Soal haid, bagi saya (yang laki laki) termasuk masalah fikih yang sangat rumit, bahkan ada jenis haid yang disebut dengan al-mutahayyirah (secara bahasa bermakna perempuan yang bingung). Al-mutahayyirah terjadi jika darah haid melampaui 15 hari, dan perempuan tersebut tidak bisa membedakan mana darah haid dan lainnya serta ia lupa kebiasaan siklus haidnya. Ada ulama yang menyatakan mengapa perempuan itu disebut mutahayyirah, yaitu karena ia membingungkan ulama. Ulama sampai kebingungan untuk memastikan apakah itu darah haid atau lainnya.

Mengapa sampai ada ulama (apalagi ustad) yang bingung memberi keputusan? Dugaan saya, karena ia tidak melibatkan “pengalaman perempuan” dan tidak melibatkan “ilmu pengetahuan medis”. Dengan melibatkan keduanya, saya menduga tidak sulit memutuskan apakah darah haid atau lainnya.

Kebingungan fatwa tentang haid seringkali memberatkan perempuan. Semacam ada “kecenderungan” bahwa hukum yang berkaitan dengan perempuan memang umumnya diperberat. Dan anehnya kadang perempuan menyukai pendapat yang berat, entah karena takut atau karena lainya. Seharusnya perempuan berani memilih pendapat yang tidak memberatkannya.

Sebagai contoh jika ada perempuan keluar darah (haid) 4 hari, setelah bersih, lalu perempuan itu mandi dan melaksanakan puasa, setelah 6 hari puasa, eee tiba-tiba keluar darah lagi 3/4 hari misalnya, maka keseluruhan darah pertama (4 hari), masa suci (6 hari) dan darah kedua (3/4 hari) dianggap waktu haid. Sehingga perempuan harus meng-qadha’ (mengganti) 6 hari yang telah dipuasainya, di samping hari di mana ia keluar darah. He he, gimana? Pusingkan? Iya begitulah. Bahkan dalam kasus lain, ada perempuan yang harus mengganti puasa dan solatnya selama dua bulan penuh. Ya pasti sangat menyulitkan.

Demikian pula soal darah istihadah, yang sering diartikan sebagai darah penyakit. Darah istihadah tidak menggugurkan perempuan untuk melakukan kewajiban, tetap wajib puasa, solat dan juga lainnya. Namun dengan aturan yang kadang juga memberatkan. Misalanya harus mandi setiap akan solat, harus menyumbat kemaluannya agar darah tidak tercecer dan lain sebagainya.

Banyak ustad yang menerjemahkan kata-kata di fikih dengan kata meyumbat bukan membalut. Akibat terjemah dengan menyumbat itu ada perempuan yang keluar istihadah, ia benar-benar menyumbat agar darahnya tidak keluar. Saya tanya, apa tidak sakit kalau disumbat, ya sakit jawabnya. Mengapa dilakukan, ya karena disuruh menyumbat. He he, jadi salah terjemah bisa juga memberatkan.

Bahkan ada lagi yang mengajarkan kepada perempuan mustahadah, setelah mandi dan berwudhu, dan membalut vaginanya (sekarang lebih nyaman pakai softek) agar segera solat sebelum darah keluar lagi. Sehingga bagi santri atau lainnya yang kamar mandinya jauh dari mushallah harus lari. Kalau lambat, bisa harus mandi dan wudhu lagi. Saya berpikir dalam hati, “ahhh masak hukum Islam sampai sebegitunya. Nyusain amat.”

Padahal, ad-dinu yusrun (agama itu mudah).

Saya kira perlu ada pemahaman baru tentang haid dan istihadah yang melibatkan dan mendialogkan antara teks, pengalaman perempuan dan ilmu pengetahuan. Wallahu A’lam.

3.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *