Alumni Biografi Dosen/Santri/Alumni

Kiai Muzammil; dari Aktivis Peziarah hingga menjadi “Ajudan” Nyi Roro Kidul

Oleh: Ust. Doni Ekasaputra, M. Pd.

Adalah ahlul hadis Ibnu Hibban yang cukup familiar dikenal sebagai salah satu ulama yang gemar ziarah ke maqbarah pada wali-wali Allah Swt. Ulama kelahiran Afganistan ini mencatat perjalan ziarahnya ke belahan negara dalam kitab “Masyahir Ulama al-Anshar”.

Sederet maqbarah ulama-ulama ternama pernah pernah diziarahinya. Tidak hanya sesekali, namun berkali-kali ia mendatanginya. Diantara nama-nama besar tersebut ada nama Abu Darda (Suriah), Muhammad bin Sirin (Irak), Hasan Bashri (Irak), Fudhail bin Iyadh (Uzbekistan), dan Sufyan Tsauri (Irak).

Tidak hanya Ibnu Hibban, rihlah religi samacam ini juga sering dilakukan oleh ulama-ulama lainnya. Di Indonesia, ada almarhum Gus Dus. Mantan presiden RI ini sangat gemar ziarah ke maqbarah wali-wali Allah swt. Ia gemar belusukan melakukan ziarah kubur karena ahli kubur tidak memiliki kepentingan apapun.

Bagi ulama ahlussunah wal Jamaah, berziarah ke maqbarah para ulama adalah cara membangun transmisi spiritual. Boleh saja peziarah secara fisik tidak pernah berjumpa dengan shahibul maqbarah, namun dalam dimensi dunia ruh perjumpaan itu mungkin saja terjadi. Konon, ini dilakukan oleh Gus Dur.

Sebagai seorang Gus Durian, saya mengenang Kiai Muzammil sebagai penerus suluk ziarah kubur ala Gus Dur. Sebagai penerus almarhum Gus Dur, Kiai Muzammil seakan tidak pernah bosan dan letih mondar-mandir melakukan ziarah dari satu kubur ke kubur lainnya. Kata Kiai Abdul Moqsith Ghazali ia sang “pemburu” para wali.

Ia nampak sangat menikmati kebiasaannya ini. Dalam amatan saya, Ia sepertinya sudah banyak menelan pengalaman manis dari ziarah semacam ini. Bahkan menurut pengakuannya, ia secara pribadi bisa merasakan apa yang orang pada umunya tidak rasakan saat duduk bersila di maqbarah para wali-wali Allah Swt.

Agak berani saya mengatakan, sepertinya Almarhum bisa membangun “komunikasi” transenden dengan shahibul maqbarah. Dalam epistimologi Irfani, laku demikian ini sah-sah saja.

Komunikasi dua alam bisa terjadi lantaran arwah para wali Allah Swt. dan para syuhada hidup sebagaimana kehidupan pada umumnya. Ibnu Ajibah dalam “Tafsir al-Fatihah al-kabir” menulis bahwa arwah para wali Allah Swt bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya. Keyakinan ini menjadi keyakinan ulama-ulama Aswaja hingga sekarang.

Sementara di sisi yang lain, manusia yang berada di alam dunia bisa menyaksikan hal ihwal alam ruh karena kebeningan hatinya. Sebenarnya, semua manusia punya potensi untuk melakukan hal yang sama, asalkan hatinya bening. Itulah yang dimaksud oleh sebuah riwayat,

لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء

Seandainya para syaitan tidak berkerumun di hati manusia niscaya mereka (manusia) mampu melihat (alam) kerajaan langit.

Sesungguhnya, kerumunan syaitanlah yang membuat mata batin manusia lamur-buta. Syaitan telah menjadikan hati manusia sebagai rumah yang nyaman bagi gerombolan mereka. Dampak buruknya, mata batin manusia tidak bisa menyaksikan apapun kecuali apa yang bisa dilihat secara jelas oleh mata kepalanya.

Kegemaran Kiai Muzammil melakukan ziarah membuat saya pernah diajak ke maqbarah Tuan Guru Zainudin Abdul Majid di Lombok Timur. Di sela-sela acara Munas Alim Ulama NU di Lombok 2017, sekitar pukul satu dini hari saya diajak kesana.

Masyhur sebagai aktivis peziarah maqbarah para wali memantik respon yang cukup gila dari salah seorang pimpinan parpol. Suatu ketika, Kiai Muzammil pernah didatangi oleh salah seorang ketua parpol warna “hijau”. Aneh! Si pak ketua partai minta dipertemukan dengan Nyi Roro Kidul. Dalam mitologi Jawa, Nyi Roro Kidul dikenal sebagai penguasa pantai selatan pulau Jawa.

Si pak ketua berkisah tentang kondisi partainya yang sedang diterpa problem. Badai perpecahan dan perebutan tampuk pimpinan sudah tidak terelakkan. Si pak ketua merasa tidak menemukan jalan keluar untuk memenangkan perebutan kursi pimpinan.

Setengah putus asa, si pak ketua minta tolong kepada Kiai Muzammil agar difasilitasi bisa bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Si pak ketua partai yakin, Kiai Muzammil bisa membantunya.

Namun sedari awal, Kiai Muzammil menolaknya. Permintaan yang mustahil bisa diwujudkan. Namun entah, si pak ketua partai tetap maksa dan ngotot. Si pak ketua yakin jika Kiai Muzammil memiliki kemampuan khusus dalam persoalan ini. Si pak ketua memosisikan Kiai Muzammil bak “ajudan” Nyi Roro Kidul.

Karena tetap keukuh! Kiai Muzammil akhirnya meng-ia-kan, namun dengan syarat yang mustahil bisa diwujudkan. Betul, si pak ketua akhirnya menyerah dan mengurungkan niatnya.

Akhirnya, selamat jalan ajudan. Kebeningan hatimu insyaallah adalah jalan rindu yang terbentang menuju pangkuan ilahi rabbi.

Semoga kami bisa meneladani kebaikanmu

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *