Kajian Keislaman

Polemik Poligami di Indonesia

Sebagian masyarakat awam berpandangan bahwa, agama Islam mendukung praktik poligami. Pandangan ini dapat dimaklumi, sebab Allah berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 3:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Nikahilah wanita-wanita (lain) yang baik untukmu: dua, tiga atau empat. Namun jika kamu takut tidak bisa berlaku adil, maka (nikahilah) seorang wanita saja, atau (cukuplah) budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk tidak berbuat aniyaya,” (QS: An-Nisa, Ayat 3).

Pada ayat di atas, kata “fankihu” murupakan fi’il amar, yang mana dalam bahasa Arab secara harfiah menujukkan makna perintah. Oleh karenanya secara eksplisit, seakan-akan teks agama tersebut menganjurkan seseorang, agar menikahi perempuan lebih dari satu.

Namun untuk memahami sebuah teks agama, kita perlu melihat konteks atau latar belakang saat teks itu diturunkan dan mengaitkannya dengan teks lain, dalam istilah Usul Fikih biasa disebut al-ibratu bi khususi al-sabab la bi umumi al-lafdz dan rabthu al-nusus bi al-nusus.

Untuk mengetahui konteks ayat poligami, kita perlu menelaah kitab Tafsir yang menjelaskan mengapa, kapan dan di mana ayat itu diturunkan. Salah satu kitab yang dapat dijadikan rujukan adalah kitab al-Tafsir al-Munir karangan Syekh Wahbah al-Zuhaily, salah satu pakar Fikih dan Usul Fikih dari Universitas Damaskus.

Di dalam kitab al-Tafsir al-Munir, Dr. Wahbah menyebutkan, ayat poligami turun pada saat masih banyaknya kalangan laki-laki yang menikahi perempuan tanpa batas dan tanpa mempedulikan apakah dia mampu adil atau tidak. Hal ini tentu sangat memberatkan dan menyesakkan bagi kaum perempuan.

Jadi, surah An-Nisa’ ayat 3, sebenarnya diturunkan bukan sebagai anjuran poligami, tetapi semangatnya justru membatasi dan meminimalisir budaya jahiliyah pada masa itu. Ini terbukti dengan perintah mencukupkan satu istri jika khawatir tidak mampu berbuat adil. (Prof Dr. Wahbah Ibnu Musthafa al-Zuhaily, al-Tafsir al-Munir, Maktabah Syamilah, Juz 4, Hal 233)

Kemudian jika kita menelisik beberapa kitab fikih klasik, hampir semua ulama memang membolehkan poligami. Namun perlu digaris bahawahi, kitab fikih hanya menggambarkan perempuan Islam pada zaman itu yang notabene sangat berbeda dengan perempuan Indonesia masa kini.

Kitab fikih klasik menerangkan, seorang istri harus dicukupi sandang, pangan dan papan, bahkan suami terkadang juga harus memberi pelayanan dengan seorang budak atau pembantu manakala sang istri berasal dari kalangan atas. Istri tidak punya kewajiban untuk mengurus suami, rumah atau anak. Tugas mereka hanya melayani suami dalam urusan ranjang. Sementara perempuan Indonesia sering kali turut serta mengurus dan membangun rumah tangga, bahkan sebagian dari mereka malah menjadi tulang punggung. (Ibnu Qasim, Fath al-Qarib Syarh Matan Taqrib, Maktabah Syamilah, Hal 106-107)

Maka dari itu, alasan ulama memperbolehkan poligami, bisa jadi ialah manakala dalam rumah tangga, kedudukan suami memang superior di atas istri, dalam arti suami sudah mampu memenuhi semua kebutuhan keluarga. Mulai dari mencukupi nafkah, mengurus rumah dan merawat anak.

Gampangnya hak istimewa poligami berbanding lurus dengan kewajiban suami yang sangat berat. Allah berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

Laki-laki itu pemimpin bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS: al-Nisa’ ayat 34).

Kemudian jika kita mencermati poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, maka kita akan sadar bahwa, semuanya memang panduan Allah untuk kepentingan agama. Ini terbukti dengan istri-istri beliau yang kebanyakan berstatus janda yang butuh pemberdayaan.

Cermati juga saat Nabi menikahi sayidah Aisyah RA yang masih gadis, nampaknya ini juga karena kecerdasan dan kekuatan hafalan yang dimilikinya, ini sangat penting guna menjaga hadis-hadis  yang diperoleh dari Rasulullah untuk diriwayatkan pada sahabat lain.

Kesimpulannya, jika kiranya suami memang mampu berlaku adil sekaligus mampu mengurus semua kebutuhan keluarga, mulai dari mencukupi nafkah, mengurus rumah, merawat anak, sementara istri hanya menemani suami dalam urusan “seks”, maka baginya poligami tentu diperbolehkan. Sebab istri di sini tidak punya peran apapun untuk keluarga.

Praktik ini bisa jadi dianjurkan manakala tujuannya adalah kemaslahatan agama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Ini sesuai dengan kaidah fikih:

تغير الأحكام بتغير الزمان والمكان

“Hukum dapat berubah tergantung situasi dan kondisi (atau alasan tertentu)”.

Lalu bagaimana praktik polgami yang ada di Indonesia? Mengutip dari media hukumonline.com, poligami di Indonesia terbukti malah meningkatkan angka perceraian yang menyebabkan putusnya silaturahmi antar keluarga dan terlantarnya anak. Ini dikarenakan sulitnya berlaku adil kepada semua istri.

Alhasil, pada konteks Indonesia, selayaknya praktik poligami memang ditiadakan dan dilarang. Setidaknya ada dua alasan untuk melarangnya:

Pertama, di Indonesia seorang istri juga punya andil besar dalam mengurus rumah tangga, kiranya tidak adil jika kita men-superior-kan suami dengan memberinya hak poligami, dengan mengesampingkan peran istri.

Kedua, poligami akan menyakiti hati perempuan yang berimplikasi pada perceraian,  putusnya silaturahmi antar keluarga, terlantarnya anak dan mudarat-mudarat lain.

Wallahu A’lam

Penulis: Mohamad Mochsin, S. Ag.

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *