Kajian Keislaman

Menilik Eksistensi “Nyai” Dalam Lingkungan Pesantren

Sebagai Lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memainkan peran penting dalam sejarah pendidikan. Sebelum sistem pendidikan modern dikenalkan oleh Belanda, pesantren adalah satu-satunya sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Pesantren menyediakan media sosialisasi formal dimana keyakinan, norma, dan nilai-nilai islam ditransmisikan serta ditanamkan melalui berbagai aktifitas pengajaran.

Pesantren pada umumnya dipimpin oleh seorang figur kharismatik yang menjadi pusat dalam penentuan arah dan pengambilan kebijakan. Secara tradisional, adanya seorang tokoh yang biasa disebut kiai (ulama) merupakan aspek mutlak dalam sistem kepesantrenan, selain aspek siswa (santri), masjid, dan pondok. Meskipun secara formal terdapat organisasi dan struktur kepengurusan dalam pesantren, kehadiran dan pengaruh seorang tokoh pemimpin kharismatik itu tetap dipandang menonjol.

Dalam kepemimpinan pesantren juga tak lepas dari peran istri kiai yang dalam kultur pesantren dikenal dengan istilah “Nyai”. Meskipun demikian, para kiai memiliki peranan yang lebih luas dalam memegang kepemimpinan di pesantren dibandingkan para nyai. status nyai merupakan status yang dalam ilmu sosiologi disebut dengan istilah ascribed (disematkan). Lebih lanjut, status nyai itu menempel karena ada figure kiai. Status ini bukan status yang diperjuangkan dan fungsional.

Seorang perempuan langsung mendapat predikat nyai bila ia kawin dengan seorang kiai. Jadi istilah nyai adalah istilah kebudayaan yang tidak berkaitan dengan dunia keilmuan dan keagamaan, tetapi berkaitan dengan dunia perkawinan. Merujuk yang demikian maka posisi nyai dalam dunia pesantren tidak terlalu sentral sebagaimana posisi kiai.

Cara pandang banyak orang selama ini lebih dikonstruksikan dan didominasi oleh cara pandang yang sering menghususkan hal tertentu untuk laki-laki. Masjid untuk laki-laki. Kesehatan ekonomi dan kiprah sosial untuk laki-laki. Bahkan, perempuan juga menjadi bagian yang diperuntukan untuk laki-laki.

Sebuah kewajaran bila pemangku utama (kiai) pesantren meninggal dunia nasib pesantren akan diserahkan pada garis keturunan laki-laki. Apabila dilingkungan keluarga tidak didapatkan keturunan langsung dari kiyai yang laki-laki, dicarikan jalan keluarnya dengan cara perjodohan, yaitu mencari menantu laki-laki yang bisa diberi tanggung jawab. Padahal sebagai manusia yang utuh perempuan juga memerlukan hal yang sama. Jika perempuan untuk laki-laki dalam hal yang sama laki-laki juga untuk perempuan. Semua pranata sosial yang ditujukan kepada laki-laki juga harus diperuntukan untuk kemaslahatan bagi perempuan.

Selama ini teks-teks keagamaan (tafsir dan fikih) yang diajarkan di pesantren diyakini oleh pemerhati perempuan memiliki andil besar dalam melanggengkan ketidak adilan antara laki-laki dan perempuan. Lemah dan kurangnya peran perempuan dalam ruang-ruang publik adalah disebabkan antara lain oleh teks agama yang menepatkan perempuan dalam ranah domestik (dapur, kasur, dan sumur). Pandangan deskriminatif seperti ini dianggap sebagai kebenaran yang tak terbantahkan dan berlaku sepanjang zaman dalam kondisi dan situasi apapun.

Perempuan adalah ujian yang sengaja diciptakan untuk menggoda laki-laki, perempuan adalah aurat, perempuan adalah sumber fitnah dan lain-lain adalah contoh pandangan masyarakat yang di-iya-kan (dilegitimasi secara sempurna) oleh tafsir terhadap teks-teks agama.

Pada kenyataannya, sebuah teks memang tidak lahir dalam ruang hampa yang sunyi dari hiruk pikuk peradaban manusia. Sebaliknya ia selalu lahir beriringan dengan konteks sosiologis yang terus berkembang. Integrasi antara teks dan konteks inilah yang perlu dielaborasi secara cermat dan sistematik karena sejatinya Syariah islam dihadirkan tidak lain untuk mewujudkan  kesejahteraan umat manusia dalam menjalankan fungsi khalifahnya.

Dalam tradisi pesantren sesungguhnya telah dikenal konsep asbab an-nuzul, asbab al-wurud, konsep ta’lil al-ahkam, nasakh Mansukh, dan konsep qhat’I-dhanny yang dapat dijadikan perangkat memahami teks bukan hanya makna lahiriyahnya (makna harfiah-tekstual) tetapi juga makna batiniyah (maqaisid-kontektualnya).

Al-Qur’an sebagai rujukan prinsip pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama. Keduanya diciptakan dari satu jiwa (nafsun wahidah) dimana yang satu tidak memiliki keunggulan dibanding yang lain.

Cara pandang dalam hal ini sudah sejak lama di dengungkan. “Aku adalah manusia’” hal ini merupakan kalimat yang ditegaskan oleh sahabat sekaligus istri nabi Muhammad Saw. yang dikenal shalihah dan pintar, Ummu Salamah Ra. Beliau berkata: “pada suatu hari, ketika rambutku sedang disisir pelayan, aku mendengar rasulullah saw. memanggil. ‘wahai manusia (kemari berkumpullah)’ akupun berkata kepada sang pelayan ‘hentikan sejenak, biarkan aku pergi (memenuhi panggilan tersebut).’ Tetapi, dia menimpali (berusaha mencegah), ‘Nabi kan memanggil para lelaki saja, tidak memanggil perempuan.’ Akupun menjawab, ‘Nabi memanggil manusia dan aku adalah manusia’” (Shahih muslim).

Meskipun laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda dalam pesantren namun perbedaan tersebut merupakan kategori yang tidak berlaku tetap. keduanya adalah pandangan budaya yang bisa mengalami perubahan disuatu masa. Kualitas kemanusiaan yang ada pada kiai adalah kualitas kemanusiaaan yang bisa juga dicapai oleh nyai.

Salah satu Langkah untuk dapat mencapai tujuan tersebut adalah dengan merubah cara pandang, baik dari sudut pandang kebanyakan orang melihat perempuan maupun dari pihak perempuan itu sendiri. Dengan demikian, masihkah kita menggunakan pandangan lama yang tidak hanya merugikan pihak perempuan  akan tetapi juga dapat merugikan terhadap pesantren itu sendiri? Jawabnya sudah tentu tidak mau. Karena itu pesantren harus memberikan kesempatan lebih luas bagi kalangan perempuan, baik sebagai nyai maupun sebagai santri.

Penulis: Zainal Abidin, S. Ag.

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *