Akhlak Hukum Islam

Nada Dering HP, Putus Bacaan Al-Qur’an

Kemajuan teknologi makin tak terbendung saja. Dari waktu ke waktu, kita terus disuguhi kreasi menakjubkan. Kali ini, kita bisa menikmati suara bacaan al-Qur’an melalui HP (Hand Phone), kepingan CD atau DVD dan media elektonik lainnya. Tentu, ini menjadi kabar menggembirakan, lantaran al-Qur’an makin dekat di hati pecintanya. Namun, seiring dengan itu, hal tak terduga muncul. Para penikmat tilawah al-Qur’an melalui media ini  terkadang tak sadar telah memutus bacaan al-Qur’an bukan pada tempatnya. Bagaimana komentar TA? Nikmati pembahasan kali ini!

 “Huwallâhullazdî Lâila…, Hallo siapa nich? Yah Cumi…” dengan kesal si Yayat menaruh HP-nya kembali. Lalu disampingnya Faiez nyeletuk “You gimana sih, Yah.. kalau marah ya marah, tapi lain kali kalau ngangkat telpon biar selesai dulu bunyi al-Qur’annya, entar dosa loh”. “Emangnya nggak boleh? Khan kasihan yang nelpon aku nunggu kelamaan” Sangkal Yayat.

Apa yang dialami Yayat adalah potret kecil dari kasus pemutusan bacaan al-Qur’an yang dibunyikan dengan media eloktronik. Alasan pemutusan bacaan al-Qur’an ini beraneka ragam, seperti kasus Yayat di atas, para pengguna HP biasanya beralasan ingin cepat-cepat mengangkat telponnya. Sedangkan bagi pengguna CD/DVD al-Qur’an, dengan tujuan ingin mendengarkan ayat lain spontan mereka memutus bacaan ayat sebelumnya.

Bisa ditolerir atau tidak, yang jelas pemutusan al-Qur’an ini akan berdampak pada perubahan makna ayat. Disamping itu, keagungan sastra al-Qur’an akan terasa hambar karena bacaannya tidak sempurna. Sehingga akhirnya, mendengarkan ayat al-Qur’an tak jauh beda dengan mendengarkan musik pop, band, rock, dangdut, dll. Bisa diputus-putus tanpa memperhitungkan makna. Terutama dalam kasus media HP, dimana para penggunanya mayoritas masih belum mengetahui seluk-beluk ayat al-Qur’an.

Berangkat dari fenomena di atas, perlu dikaji beberapa persoalan terkait dengan pemutusan bacaan al-Qur’an, yaitu apa saja ketentuan waqaf dalam qiro’ah? Untuk mengetahui konsekwensi hukumnya, samakah konsekwensi wajib-haram dalam fiqh dan tajwid? Dan yang paling inti, bagaimana hukum memutus bacaan sendiri dan memberhentikan bacaan dalam HP atau sejenisnya?

Untuk menjawab sederet pertanyaan di atas, mari kita awali dengan mengetahui definisi waqaf. Waqaf menurut bahasa adalah “berhenti” atau “menahan” sedangkan menurut istilah adalah menghentikan suara sebentar (menurut adat) untuk bernafas bagi si qari’ (pembaca al-Qur’an) dengan niat melanjutkan bacaan lagi, bukan berniat untuk meninggalkan bacaan. Dari definisi ini dapat diketahui bahwa dalam membaca al-Qur’an, tidak lantas berhenti hanya lantaran waqaf, namun si pembaca hendaknya melanjutkan bacaannya. Selanjutnya, mengenai pembagian waqaf, secara umum waqaf terbagi menjadi empat.

Pertama, waqaf idltirary, yaitu waqaf yang dilakukan dengan terpaksa karena batuk, kehabisan nafas, lupa dan sebagainya. Dalam hal ini, ketika memulai bacaannya si qari’ hendaknya memulai dari bacaan yang tidak merusak makna. Waqaf dalam kondisi ini diperbolehkan karena kita bisa mengulangi apa yang sudah dibaca ketika hendak memulai kembali.

Kedua, waqaf intidzary, dalam hal ini si qari’ berhenti pada sebuah kata yang perlu untuk menghubungkan dengan kalimat wajah lain pada bacaannya ketika ia menghimpun beberapa qira’at adanya perbedaan riwayat. Perbedaan riwayat yang dimaksud yaitu perbedaan mengenai adanya waqaf dan tidak. Dengan demikian, waqaf dilakukan karena untuk mengikuti pendapat ulama’ yang menyatakan adanya waqaf.

 Ketiga, waqaf ikhtibary, yakni waqaf yang dilakukan untuk alasan mengajar al-Qur’an atau menguji seorang peserta didik.

Keempat, waqaf ikhtiyary, merupakan waqaf yang dipilih atau disengaja, dalam artian tidak ada sebab-sebab seperti ketiga jenis waqaf di atas.

Lebih lanjut, waqaf ikhtiyari terbagi lagi menjadi empat, (1) Waqaf tam, yaitu berhenti pada perkataan yang susunan kalimatnya telah sempurna serta tidak ada kaitan makna dan lafadz dengan kalimat setelahnya. (2) Waqaf kafy, adalah waqaf yang dilakukan pada lafadz yang tidak berkaitan dengan sesudahnya tapi masih ada hubungan makna. Pada kedua macam wakaf ini, si qari’ sangat dianjurkan untuk berhenti dan memulai bacaan dengan kalimat setelahnya. (3) Waqaf hasan, yaitu berhenti pada perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, namun masih berkaitan makna dan lafadz dengan kalimat sesudahnya, dengan demikian si qari’ hendaknya mengulang lagi bacaan sebelumnya. Sebagai contoh pada lafadz اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ, seorang qari’ boleh saja berhenti  pada bacaan اَلْحَمْدُ ِللهِ namun untuk melanjutkannya juga harus dimulai dari lafadz tersebut. (4) Waqaf qabih, berhenti pada perkataan yang susunan kalimatnya tidak sempurna karena berkaitan dengan lafadz dan makna kalimat sesudahnya, seperti berhenti pada lafadz بِسْمِ  dari lafadz بِسْمِ اللهِ . Waqaf ini tidak boleh dilakukan lantaran dapat merusak makna. (Al-Burhan fi Ulumi al-Qur’an, I ;427-429, Manna’u al-Qatthan, 187, Mabadi’ ‘Ilmu al-Tajwid, 70-75)

Mengenai waqaf qabih ini, Imam az-Zarkasy menegaskan bahwa waqaf qabih kadangkala dapat menyebabkan kekafiran, beliau mencontohkan dalam surat al-Maidah ayat 17,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ…

“Sungguh telah kafir orang yang berkata, “Sesungghnya Allah itu Dialah al-Masih putra Maryam…”

Seorang qari’ ketika tanpa sebab membaca لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا kemudian berhenti dengan maksud waqaf, kemudian memulai bacaannya dengan membaca إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ , maka qari’ tersebut bisa dikatakan kafir jika dia menyengaja terhadap maknanya. Hal ini wajar sekali lantaran si qari’ berarti telah menganggap bahwa Allah itu adalah al-Masih ibn Maryam. Dengan demikian waqaf qabih bisa dihukumi haram lantaran bisa menyebabkan kekafiran.

Dari uraian panjang di atas dapat disimpulkan bahwa waqaf baru diperbolehkan dengan catatan tidak merusak makna, terkecuali karena kondisi darurat, seperti berbatuk atau bertujuan untuk mengajar. Inilah ketentuan yang telah ditetapkan ulama’ terkait dengan tata cara pemutusan atau pemberhentian bacaan al-Qur’an. Ketetapan ini statusnya wajib diikuti. Karena pada dasarnya, menurut ulama’ tajwid, membaca al-Qur’an dengan tajwid adalah wajib secara syara’. Keputusan ulama’ tajwid ini selaras dengan versi fikih, yakni ketentuan ini juga dihukumi wajib. Yang dimaksud wajib di sini adalah suatu hukum atau aturan yang bila diikuti akan mendapat pahala, sebaliknya jika dilanggar akan berdosa.

Kewajiban mengikuti aturan tajwid di sini dalam konteks ketika dibaca secara langsung dengan lisan. Bukan yang lainnya.  Karenanya, ketika bacaan tersebut berada pada konteks rekaman suara yang dibunyikan dengan media elektronik (HP, VCD, dll) akan menimbulkan persoalan baru. Apakah bunyi tersebut bisa disamakan dengan bunyi al-Qur’an sebagaimana dibaca manusia atau disamakan dengan benda mati?

Para ulama Muhaqqiq menegaskan bahwa suara jamadat (benda mati) bukanlah termasuk al-Qur’an karena tidak bersumber dari sesuatu yang berakal. Sedangkan golongan yang menentangnya berargumen bahwa suara al-Qur’an dari jamadat dapat dikatakan al-Qur’an, karena walaupun tidak berasal dari sesuatu yang berakal, namun esensinya suara tersebut merupakan ayat-ayat al-Qur’an yang diyakini kebenaran isinya.

Kalau kita mengikuti pendapat yang pertama, yang menyatakan bahwa suara al-Qur’an yang keluar dari jamadat tidak dapat disamakan dengan al-Qur’an, berarti kita tidak wajib mengikuti aturan tajwid, sehingga tidak masalah bila memutus nada dering al-Qur’an pada HP, CD/DVD, dll, baik dapat merubah makna bacaan atau tidak. Namun kalau mengikuti alur pemikiran yang kedua, yang menyatakan bahwa bunyi jamadat sama dengan bunyi al-Qur’an, maka kita wajib mengikuti aturan tajwid. Dalam konteks ini adalah ketentuaan pemberhentian bacaan -sebagaimana telah disinggung sebelumnya-, yaitu  Pertama, jika pemberhentian tersebut bertepatan dengan waqaf iddlthirari, intidzari, ikhthibari, waqaf tam, wakaf kafy dan waqaf hasan boleh dilakukan. Hanya saja, untuk waqaf iddlthirari, intidzari dan waqaf hasan harus mengulang bacaan sebelumnya. Kedua, jika pemberhentian tersebut terjadi pada waqaf qabih, maka hukumnya haram.

Namun demikian, jika mengikuti alur pemikiran yang kedua (harus mengikuti tajwid) akan banyak menuai persoalan yang mesti dijawab kembali. Apakah menghentikan bacaan al-Qur’an pada nada dering HP dengan alasan ingin segera mengangkat telepon dapat dikategorikan sebagai waqaf iddlthirary, sehingga diperbolehkan berhenti? Apakah ketika pemutusan bacaan tersebut terjadi pada waqaf iddlthirary, intidzari dan waqaf hasan mungkin untuk mengulang bacaan al-Qur’an? Tampaknya, pada kasus nada dering HP bermasalah pada dua pertanyaan ini. Sebab, kendatipun mengangkat telepon dianggap sebagai darurat, tapi tidak mungkin untuk mengulang bacaan. Padahal pada waqaf iddlthirary harus mengulang bacaan sebelumnya. Begitu juga pada waqaf intidzari dan waqaf hasan.  

Karena itu, sebaiknya pengguna HP tidak memakai nada dering ayat al-Qur’an, terlebih bacaan tersebut terkadang tidak dihayati. Kendatipun mau mendengarkan ayat al-Qur’an dengan media elektronik, sebaiknya dengan VCD, DVD, kaset dan semacamnya. Bukankah Al-Qur’an itu adalah pedoman umat Islam, menerangkan hati para pembacanya dan menyejukkan telinga dan jiwa para pendengarnya. Sudah sepantasnya umat Islam tidak sembrono terhadap bacaan-bacaan al-Qur’an, baik itu yang berasal dari manusia maupun benda mati. Allah berfirman,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-A’raf; 204)

Intisari ayat ini menegaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk mendengar, menyimak dan diam ketika al-Qur’an dibacakan. Tujuannya tak lain agar kita mendapatkan rahmat dari-Nya. Karena bagaimana mungkin kita mendapat limpahan rahmat-Nya kalau kita tidak menghayati, apalagi hanya main-main. Falyatadabbar!

Tanwirul Afkar Edisi 385/Jum’at ke-2/9 Januari 2009

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *