Hukum Islam Kajian Keislaman

Merinci Ketentuan Pendistribusian Harta Zakat Dalam Mazhab Maliki

Zakat termasuk salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh seluruh umat muslim di dunia. Dalam pelaksanaannya, zakat memiliki ketentuan dan tata cara yang telah diatur, mulai dari ketentuan minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, sampai ketentuan pendistribusian harta zakat.

Terkait ketentuan pendistribusian harta zakat kepada mustahik, mazahibul arba’ah memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Mazhab Maliki misalnya, membahas ketentuan pendistribusian harta zakat dengan memberikan wewenang seluasnya kepada amil dalam menyalurkan harta zakat sehingga ketika terdapat kesalahan dalam penyaluran zakat seperti amil menyalurkan harta zakat kepada mustahik tapi kemudian diketahui bahwa orang tersebut tidak termasuk golongan mustahik maka zakat yang disalurkan tersebut tetap sah. Berbeda ketika muzakki yang langsung menyalurkan zakat tersebut maka zakatnya tidak sah sehingga wajib diulang kembali pembayarannya.

Lebih rinci Mazhab Maliki memberikan beberapa ketentuan terkait pendistribusian harta zakat, yaitu:

  1. Beberapa kebolehan dalam pendistribusian zakat:
  • Mendistribusikan zakat kepada orang fakir yang mampu untuk bekerja akan tetapi dia tidak mau bekerja.
  • Memberikan zakat kepada fakir dan miskin dengan kadar yang mencukupi kebutuhan mereka selama setahun sekalipun kadar tersebut lebih dari satu nishab.
  • Membayar zakat dalam rangka memerdekakan ahlul bait keturunan Rasulullah saw.
  • Mengeluarkan qimah zakat pertanian atau hewan ternak dengan emas dan perak, akan tetapi hal ini dimakruhkan.
  • Mendistribusikan zakat kepada satu golongan saja sekalipun kepada satu orang dari golongan tersebut.

2. Beberapa larangan dalam pendistribusian harta zakat

  • Mendistribusikan zakat kepada selain mustahik kecuali jika amil keliru dalam menduga seseorang termasuk mustahik maka ditoleransi mengingat ijtihad seorang pemimpin merupakan suatu keputusan.
  • Memberikan zakat kepada fakir miskin dengan kadar yang lebih dari kecukupan mereka selama setahun sekalipun kadar tersebut kurang dari satu nishab.
  • Memberikan seluruh harta zakat kepada seorang amil jika lebih dari upah pekerjaannya.
  • Mengeluarkan zakat dari suatu jenis harta yang wajib dizakati dengan jenis harta yang lain. Seperti emas dan perak yang wajib dizakati diambil zakatnya dari binatang ternak.

3. Beberapa kesunnahan dalam pendistribusian harta zakat

  • Melebihkan mustahik yang sangat membutuhkan dengan secara khusus menyalurkan kepadanya atau melebihkan bagiannya daripada mustahik yang lain. Tapi tidak disunnahkan untuk menyamaratakan antara mustahik.
  • Mencari pengganti/wakil dalam mendistribusikan zakat ketika khawatir riya’. Tapi terkadang diwajibkan jika diyakini akan riya’ atau mutahiknya tidak diketahui.

4. Beberapa kemakruhan dalam pendistribusian harta zakat

  • Mengabarkan kepada mustahik bahwa harta yang diberikan kepadanya merupakan zakat, agar tidak menyakiti hati mustahik tersebut.
  • Mengeluarkan zakat pertanian dan hewan ternak dengan mata uang.
  • Mendahulukan pendistribusian zakat lebih cepat satu bulan dari waktu yang diwajibkan.

* Disarikan dari kitab Fiqh al-Ibadat a’la al-Mazhabi al-Maliki

Penulis: Muhammad Muzakkir, S. Ag.

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *