Bahtsul Masail Berita Utama

Benarkah barang temuan langsung dikategorikan luqatah? Bahtsul Masa’il Mahasantri Ma’had Aly Marhalah Ula

Ma’had Aly Situbondo kembali mengadakan Bahtsul Masa’il internal kemarin (27/06/21). Meski diliputi situasi yang sedang tidak bersahabat kegiatan ini tetap terselengarakan. Banyaknya persoalan-persoalan yang ditanyakan kepada tim kajian dan wanti-wanti dari setiap dosen yang mendorong kami mahasantri Ma’had Aly Marhalah Ula untuk tetap mengadakan kegiatan ini. Permasalahan yang menjadi topik pembahasan kali ini berkenaan tentang status kitab-kitab yang ditinggal di pesantren baik yang ada di rak buku atau kitab-kitab yang berserakan di lingkungan pesantren sedangkan pemiliknya sudah boyong (pulang). Apakah kitab-kitab tersebut boleh dimanfaatkan?

Sebagai tata tertib pelaksanaan BM, moderator terlebih dahulu akan membacakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta. Lalu kegiatan BM dimulai dengan pembacaan deskripsi masalah oleh moderator yang kemudian menawarkan kepada peserta untuk tabayyun (meminta kejelasan) terhadap soal maupun deskripsi yang sudah dibacakan.

Setelah berlangsungnya sesi pemaparan jawaban, terkumpul beberapa jawaban terkait permasalahan yang dibahas:

  1. Barang tersebut dihukumi luqatah (barang temuan) terlepas apakah buku maupun kitab itu ada di rak atau berserakan. Namun, barang itu bisa dikategorikan luqath dengan satu catatan yakni pemilik barang tersebut tidak diketahui.
  2. Status hukum barang tersebut ditafsil (dirinci). Barang yang berserakan dihukumi luqatah berdasarkan definisi luqatah yang ada dalam kitab Al-Yaqutun Nafis bahwa barang luqatah adalah barang temuan yang kemudian diambil dan juga barang itu tidak berada di tempat penyimpanan yang semestinya ( غير حرز مثل ). Kemudian untuk barang yang ada di rak buku itu dikategorikan malun dhai’ (harta yang disia-siakan) sehingga barang tersebut harus diserahkan kepada baitul mal agar bisa disalurkan untuk kemaslahatan khalayak ramai.
  3. Barang tersebut dikategorikan milkul ghoir (milik siapapun yang menemukannya).

Selanjutnya moderator membuka sesi yang paling inti dari acara ini, sesi sanggahan dan penguatan jawaban. Dari sini kemudian akan ketahuan mana jawaban yang benar-benar didukung oleh ibarah dan jawaban yang hanya berdasarkan rasionalitas semata yang masih berpotensi digagalkan untuk menjadi jawaban paten.

“Saya tidak setuju dengan kelompok yang memutlakkan semua barang langsung dihukumi luqatah. Karena barang temuan itu tak semua bisa dikatakan luqatah, mengingat barang luqatah itu memiliki syarat yang harus dipenuhi. Pertama, barangnya harus tidak diketahui pemiliknya. Kedua, barang itu tak disimpan di tempat yang semestinya. Sementara kitab yang menjadi persoalan BM kali ini ada di tempat seharusnya yakni di rak buku. Maka tak bisa kita langsung memutuskan luqatah, karena yang dipenuhi dari dua ketentuan hanya satu, yakni tidak diketahui pemiliknya”, sanggah salah seorang peserta.

Sengitnya pendapat dan sanggahan dari masing-masing kelompok tampak membuat moderator sedikit kebingungan untuk mengatur jalannya diskusi. Terlebih ketika ada yang berpendapat bahwa syarat harus tidak di tempat penyimpanan yang semestinya (من غير حرز مثل ) itu hanya berlaku ghalib (umumnya). Dan itu ia temukan dalam kitab Nihayatul Mathlab yang dengan sharih menyatakan bahwa suatu barang meski ada di tempat yang semestinya itu juga bisa dikategorikan luqatah. Walah benar-benar perbedaan yang tidak konsisten antara malun dhai dan luqatah.

Mendengar semua kritikan dari teman-teman, sempet terlintas di pikiran penulis kalau ada barang temuan suka-suka kita mau menghukumi sebagai apa? mau dihukumi malun dho’i  ataupun luqatah. Yang jelas prosedur dari keduanya harus kita lakukan ketika sudah memilih.

Di akhir perdebatan antar peserta yang tak kunjung selesai, moderator kemudian menyerahkan permasalahan yang dibahas kepada tim perumus dan tim dewan mushahih.

Alhasil jawaban yang sudah didiskusikan dengan para peserta dan putusan dewan perumus dan mushahih adalah; Jika barang itu diketahui pemiliknya kemudian ingin dimanfaatkan, harus meminta izin dari yang bersangkutan. Jika memang tidak diketahui maka harus berusaha mencari tau terlebih dahulu, jika pemiliknya masih tidak dapat diketahui maka si penemu bebas mau menghukumi barang itu apa. Baik mau dihukumi malun do’i ataupun luqatah. Untuk bisa memanfatkannya harus mengikuti prosedur malun do’i dan luqatah. Karena ulama masih khilaf tentang perbedaan yang lebih spesifik atau bahkan bisa dibilang belum ditemukan perbedaan yang konsisten antara kedua status tersebut.

Oleh: Adnan Yamani

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *