Akhlak Dosen/Santri/Alumni

Hidup Minimalis Di Masa Pandemi

Dimasa pandemi ini. Virus Covid-19. Tak pernah usai-usai bahkan semakin mewabah keseluruh dunia. Semakin lama malah semakin memburu manusia. Namun tak membuat takut para penghuni dunia. Tetap saja bertebaran kesini-sana. Bedahalnya di pondok pesantren. Dimana pengasuh mewajibkan seluruh santrinya untuk menetap di asrama dan melarang orang luar memasuki area pondok. Salah satu inisiatif kiai dalam menghadapi kondisi seperti ini adalah mewajibkan kepada santri agar melaksanakan muhasabah diri. Dimana aktivitas santri disibukkan untuk beribadah dan menuntut ilmu. Beliau berdawuh “Semua musibah dari Allah dan hanya Allah yang bisa menghilangkan. Maka teruslah mendekatkan diri pada-Nya agar musibah ini cepat di angkat”.

Semasa menjalani muhasabah diri, kegiatan santri tetap terjadwal dengan baik walaupun belum terlaksana secara normal. Sehingga wali santri tidak usah khawatir pada anaknya yang berada di pondok. Semua kegiatan santri terjadwal rapi kok, kecuali makan ya? Wkwkwk,,, karena meskipun tak dijadwal dan tak diwajibkan, santri pasti makan. Hehehe. Makan demi kelangsungan hidup, merupakan kewajiban walaupun tak diwajibkan. Tak diwajibkanpun makhluk hidup pasti makan. Karena sesuai dengan naluriah manusia, yaitu makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan ya gaes??wkwkwk….. Berdasarkan kaidah yang dirangkai oleh Tajuddin As-Subki dalam kitab Asybah wa an-Nadhair:

دَاعِيَةُ الطَّبْعِ تُجْزِئُ عَنْ تَكْلِيْفِ الشَّرْعِ

“Adanya dorongan naluriah manusia, sudah dianggap cukup tanpa mewajibkan secara syariat”

Kiai mengajarkan kepada kita untuk menanamkan pola hidup minimalis. Dimana, gaya hidup minimalis memiliki dua makna. Pertama, hidup sederhana. Kedua, hidup bersih dan rapi. Gaya hidup seperti ini sangat cocok diterapkan pada masa pandemi Covid-19, yang masih melanda dunia saat ini. Alasan saya, memaknai dengan “hidup sederhana”, karena pada masa sekarang strata perekonimian semakin merosot dari sebelumnya. Kata orang madura “musimah laep” kata anak muda “kanker”. Singkatan dari kantong kering. Apalagi diterapkannya program PKM (pembatasan kegiatan masyarakat) pada saat ini.

Didunia pendidikan, gaya hidup seperti ini, masyhur dengan sebutan isrof. Dimana isrof itu tidak disukai oleh Allah, berdasarkan surat Al-An’am ayat 141: “Janganlah kalian hidup israf, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergaya hidup israf”

Imam Al-Ghazali juga ikut andil dari sudut pandang tasawufnya dalam menisbatkan sebuah nama, yang terkenal dengan sebutan zuhud. Sebagaimana hadis:

مَنْ اِشْتاَقَ إِلَى الْجَنَّةِ ساَرَعَ إِلَى الْخَيْراَتِ، وَمَنْ خاَفَ مِنَ النَّارِ لَهَا عَنِ الشَّهَواَتِ، وَمَنْ تَرَقَّبَ الْمَوْتَ تَرَكَ اَللَّذَّاتِ، وَمَنْ زَهَدَ فِي الدُّنْياَ هاَنَتْ عَلَيْهِ اَلْمُصِيْباَتُ

”Barang siapa yang mengaku rindu kepada surga-Nya Allah, maka Buktinya adalah bergegas dalam kebaikan. Dan barang siapa yang mengaku takut akan neraka-Nya Allah, maka dia akan mengontrol nafsu dan syahwatnya. Dan barang siapa yang dia yakin akan adanya kematian, maka dia tidak nafsu dengan kelezatan. Dan barang siapa yang mengetahui jelek dan rendahnya dunia, maka dia tau musibah itu ringan”

Makna dari hadis diatas, dijelaskan bahwa zuhud termasuk salah satu perkara yang dapat memusnahkan musibah. Umat didunia ini sedang dilanda musibah yang sangat besar. Covid 19. Salah satu untuk menyingkirkannya adalah dengan sikap zuhud. Dari sudut pandang tasawuf, sebenarnya salah satu cara agar musibah itu diangkat oleh Allah tidak semata-mata hanya mematuhi protokol kesehatan saja, dengan hanya memandang sebelah mata, tanpa mengorek makna tersiratnya. Makna tersirat tersebut adalah menjaga anggota badan dari perbuatan maksiat. Contohnya: makna tersirat dari menutup mulut dengan masker adalah menjaga mulut dari perbuataan maksiat, seperti mengumpat.

Dalam ilmu tasawuf diajarkan cara hidup yang zuhud. Setelah saya rujuk di KBBI, makna zuhud adalah perihal meninggalkan keduniawian; pertapaan. zuhud tidak harus miskin ya, kawan! Ini perlu diingat! sebagaimana yang telah diajarkan oleh ulama Mekkah. Sayyid Alawi al-Maliki. Beliau hidup zuhud namun tidak miskin. Konon, beliau menginap di hotel dan menyuruh santrinya untuk membeli tikar, kemudian beliau menyuruh santri tersebut untuk tidur dikasur dan memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan oleh pemilik hotel. Sementara beliau sendiri tidur di tikar. Beliau Alim Allamah, kaya raya, namun memilih hidup zuhud. Karena beliau berdawuh “Zuhud itu di hati bukan terletak pada apa yang kita pakai.” Kenapa zuhud gag harus miskin? Ya agar tak dipandang hina dan remeh. Sehingga kehormatan dirinya tetap terjaga.

Ketika makna kedua diterapkan, maka akan muncul dampak tercegahnya penyebaran segala macam virus atau penyakit. Mungkin yang sedang marak-maraknya sekarang adalah virus Corona. Seseorang yang menerapkan konsep ini dalam kehidupannya maka ia akan menanamkan dalam dirinya untuk selalu hidup bersih atau sehat. Gaya hidup bersih berpengaruh pada mengurangi efek penyebaran virus. Sebagaimana anjuran pemerintah untuk membiasakan mencuci tangan setiap kali selesai melakukan aktifitas apapun.

Kebiasaan mencuci tangan itu sebenarnya merupakan ajaran Nabi. Banyak hadis-hadis yang berisi tentang praktek yang dilakukan Nabi mengenai anjuran mencuci tangan. Mulai dari bangun tidur, bersesuci dan aktiftas lainnya. Dalam kondisi normal saja nabi rajin cuci tangan, apalagi kita _sebagai umatnya_ yang saat ini sedang dilanda musibah. Covid-19. Bahkan, bisa dikatakan wajib jika memang mencuci tangan adalah alternatif tunggal dalam mencegah penularan virus. Selain itu, kita masih berada dalam zona penjagaan diri agar tak tertular oleh virus. Dalam ilmu Ushul Fiqih, kasus yang seperti ini masuk dalam contoh Qiyas Aulawi.

Penulis: Inak Falaqi_

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *