Dosen/Santri/Alumni Hukum Islam

APAKAH ISLAM MENGENAL PUBERTAS KEDUA?

Pubertas merupakan sebuah proses yang dialami manusia pada umumnya.Tidak hanya perubahan biologis yang menandakan seseorang semakin dewasa pun demikian perubahan psikologis yang sangat kentara.

Dalam Islam, masa pubertas dikenal dengan nama masa baligh. Pada masa ini, Islam mulai membebankan seseorang (taklif) beberapa kewajiban agama seperti, sholat, puasa, zakat dan kewajiban-kewajiban lainnya. Dalam hal ini, kajian ushul fikih mengistilahkannya dengan nama ahliyyah al-wujub yakni orang-orang yang oleh syariat dipandang mampu dan cakap untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama.

Dalam kitab-kitab turats, ciri-ciri seseorang telah melewati masa baligh bisa ditandai dengan dua cara. Pertama yakni dengan adanya proses biologis, seperti terjadinya ihtilam (mimpi basah atau keluar mani) bagi laki-laki, haid (menstruasi) bagi perempuan dan tumbuhnya rambut di daerah-daerah tubuh tertentu. Kedua masa baligh bisa diketahui dengan umur seseorang. Hal in terjadi manakala tidak muncul tanda-tanda biologis diatas.

Di zaman sekarang muncul sebuah wacana tentang pubertas kedua. Pertanyaannya apakah masa pubertas itu hanya terjadi sekali seumur hidup? Pernahkah kita mendengar masa pubertas kedua ?

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa term modern tentang masa pubertas kedua digunakan untuk menyebut seseorang yang sudah memasuki umur paruh baya (biasanya 30-40 tahun). Namun, sekalipun mereka telah berumur, tingkah laku mereka sama seperti remaja yang baru saja memasuki usia pubertas pertama yakni 13-15 tahun. Pada biasanya fenomena pubertas kedua ini ditandai dengan gairah seksual yang meningkat, penampilan stylish bak ABG serta emosi yang sulit dikontrol.

Dalam Al-Quran istilah pubertas atau akil baligh terdapat dalam beberapa surat. Dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 59 dikatakan

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa anak yang telah mencapai usia pubertas mendapat  perlakuan yang sama seperti orang dewasa, semisal meminta izin sebelum memasuki kamar. Dalam ayat ini, Alquran menggunakan redaksi al-hulm yang artinya telah terjadi perubahan secara fisik.

Selain ayat diatas, penjelasan tentang masa pubertas juga dujumpai dalam surat An-Nisa ayat 6 yang berbunyi

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.”

Dalam ayat ini, Alquran menggambarkan  bahwa orang yang baligh adalah orang yang telah siap untuk menikah, artinya orang tersebut sudah dikatakan matang dan siap baik secara biologis maupun psikologis.

Selain kedua surat diatas redaksi Alquran yang menyinggung masa pubertas juga dapat dijumpai dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 dan surat Al-Qashas ayat 14.

Dari berbagai redaksi Al-Quran diatas, sebenarnya Islam tidak mengenal perihal pubertas kedua. Redaksi-redaksi diatas menggambarkan bahwa masa pubertas adalah sebuah masa dimana seseorang telah mencapai kedewasaan baik secara psikologis maupun biologis, sempurna akalnya dan telah siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Namun bagaimanapun, sekalipun tidak ada keterangan dalam teks-teks keislaman yang menjelaskannya, tetap saja fenomena ini perlu perhatian khusus. Mengapa sebab ? Karena sering kali fenomena pubertas kedua dikaitkan dengan maraknya poligami dan kehancuran dalam rumah tangga. Wallahu A’lamu bisshowab.

Penulis: UmmiyahAdlan

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *