Dosen/Santri/Alumni Kajian Keislaman

BOLEHKAH MEMBERI SALAM DENGAN ISYAROH TANGAN?

Memberi salam merupakan hal yang lumrah kita lakukan ketika bertemu dengan kolega, kerabat bahkan saudara sesama agama Islam. Namun, sering kali kita melihat orang-orang memberi salam tidak dengan talaffudz (menggunakan ucapan) tetapi hanya menggunakan isyaroh lambaian tangan saja. Bagaimanakah Islam memandang hal ini?

Pada dasarnya memberi salam itu menggunakan lafadaz, sehingga tidak diperbolehkan ketika memberi salam hanya menggunakan isyaroh tangan saja karena hal tersebut termasuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad Saw bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الإِشَارَةُ بِالأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الإِشَارَةُ بِالأَكُفِّ) الترمذي2848 ، وحسنه الألباني(

Artinya: “Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang tasyabbuh (menyerupai) pada selain kami. Janganlah tasyabbuh (meniru) pada Yahudi dan Nashrani. Ingatlah, salamnya orang Yahudi dengan isyarat jari, sedangkan salamnya orang Nashrani degan isyarat telapak tangan.” (HR. Tirmidzi, no. 2848. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sejalan dengan hadist larangan diatas, ada juga hadist yang diriwayatkan oleh an-Nasai yang melarang perihal memberi salam dengan isyaroh tangan :

لَا تُسَلِّمُواْ تَسْلِيْمَ اليَهُودِ فَإِنَّ تَسْلِيْمَهُمْ بِالرُّءُوسِ وَالأَكفِ الإِشَارَةِ

Artinya : “Janganlah engkau tebarkan salam sebagaimana salamnya para yahudi, karena salamnya mereka hanya dengan isyarat kepala atau tangan. (HR. An-Nasai no.340)

Sehingga bisa diambil kesimpulan dari hadist tersebut bahwa tidak boleh memberi salam dengan isyaroh tangan. Disatu sisi ada juga hadist yang seakan-akan kontradiksi dengan hadist di atas, yaitu ketika Nabi Muhammad Saw melewati masjid dan memeberi salam dengan isyaroh tangan kepada sekelompok wanita yang berada di sana, hadist ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi :

عن شَهْرَ بْنِ حَوْشَبٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَسْمَاءَ بِنْتَ يَزِيدَ تُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيمِ

Dari Syahru bin Hausyab ia mengatakan, aku mendengar Asma binti Yazid mengatakan bahwa Rasulullah melewati masjid pada suatu hari, dan ada beberapa wanita sedang duduk-duduk, lalu Rasulullah memberikan salam dengan isyarat tangan (HR. Tirmidzi no.2697)

Dalam kitab syarah Sunan at-Tirmidzi karya Imam Tirmidzi dijelaskan bahwa hadis tersebut sebenarnya tidak bertolak belakang, yang dimaksud فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيمِ adalah Rasulullah memberi salam dengan isyaroh sekaligus menggunakan lafadz tidak serta-merta menggunakan tangan.

(فألوى بيده بالتسليم)… والمعنى: أشار بيده بالتسليم، وهذا محمول على أنه صلى الله عليه وسلم جمع بين اللفظ والإشارة

Artinya : فألوى بيده بالتسليم , perkataan ini diarahkan kepada mengumpulkannya rasulullah antara lafadz dan isyaroh”

Syaikh Zakariya Al-Ansori dalam kitabnya Asnal Matholib juz 4 halaman 183 masih memperinci mengenai memberi salam dengan isyaroh tersebut, yang nantinya memberikan beberapa kesimpulan.

)ويجب الجمع بين اللفظ والإشارة على من رد) السلام (على أصم) ليحصل به الإفهام ويسقط عنه فرض الجواب (ومن سلم عليه) أي الأصم (جمع بينهما) أيضا ليحصل به الإفهام ويستحق الجواب، وقضية التعليل أنه إن علم أنه فهم ذلك بقرينة الحال والنظر إلى فمه لم تجب الإشارة وهو ما بحثه الأذرعي. (وتجزئ إشارة الأخرس ابتداء وردا) ؛ لأن إشارته به قائمة مقام العبارة…(والإشارة به) بيد أو نحوها بلا لفظ (خلاف الأولى) للنهي عنه في خبر الترمذي ولا يجب لها رد. (والجمع بينها وبين اللفظ أفضل) من الاقتصار على اللفظ.

Artinya : “Wajib mengumpulkan antara lafadz dan isyaroh untuk menjawab salam orang tuli, agar ia bisa memahaminya dan menggugurkan kewajiban kita untuk menjawab salam. Dan kalau mau memberi salam kepada orang tuli hendaknya juga mengumpulkan antara lafadz dan isyarah, agar ia paham dan berhak untuk menjawabnya. Kesimpulannya, tidak wajib mengumpulkan antara lafadz dan isyaroh ketika orang yang tuli telah paham dengan melihat gerak mulut atau tubuh, sebagaimana pendapat imam Adzra’iy. Dan diangngap cukup isyarohnya orang yang bisu ketika memberi ataupun menjawab salam, karena isyarohnya orang bisu diposisikan sama dengan ucapan. Berisyaroh untuk mengucap salam dengan tangan atau semisalnya, dihukumi khilaful aula, karena ada hadist yang diriwayatkan imam at-Tirmidzi yang melarangnya dan tidak wajib pula untuk menjawabnya. Cara memberi salam yang lebih utama adalah mengumpulkan antara lafadz dan isyaroh.”

Dari ibaroh diatas dapat ditarik empat kesimpulan : Pertama, wajib menggabungkan antara lafadz dan isyaroh untuk memberi ataupun menjawab salamnyaa orang yang tuli. Kedua, dianggap cukup isyarohnya orang yang bisu, baik ketika memberi ataupun menjawab salam. Ketiga, dihukumi khilaful aula ketika memberi salam hanya menggunakan isyaroh tangan atau semisalnya. Keempat, lebih utama menggabungkan lafadz dan isyaroh ketika memberi salam.

Jadi kesimpulan dari paparan diatas adalah tidak boleh memberi salam hanya dengan isyaroh tangan saja.

Penulis: Fahmi Rahmanul Hakim, S. Ag.

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *