Bahtsul Masail

Pandemi Covid; Lebih Baik Sedekah Daripada Berkurban

HASIL BAHTSUL MASAIL

MA’HAD ALY PP. SALAFIYAH SYAFI’IYYAH SUKOREJO SITUBONDO

TENTANG

Pandangan Fikih Islam Mengenai Berkurban di Masa Pandemi Covid 19

Konteks Permasalahan

Sejumlah lembaga riset-penelitian menyatakan bahwa pandemi covid-19 berdampak pada kondisi kesehatan dan perekonomian masyarakat. Dari aspek kesehatan, korban covid 19 terus bertambah. Angka kematian akibat covid kian mengkhawatirkan. Per 13 Juli 2021, angka kematian sudah mencapai 67.355 kasus. Puluhan ribu orang masih berada di kamar-kamar rumah sakit, dan lebih banyak lagi menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing karena rumah sakit tak sanggup menampungnya. Jika pun harus dibawa ke rumah sakit, maka pelayanan tidak maksimal karena jumlah orang sakit yang harus dilayani tak sebanding dengan petugas kesehatan yang harus melayani.

Sementara dari aspek perekonomian, pandemi covid 19 tidak hanya berdampak pada kian menipisnya anggaran negara melainkan juga pada memburuknya kondisi perekonomian masyarakat. Sudah banyak karyawan perusahaan yang terpaksa dirumahkan atau bahkan di PHK. Pedagang kecil dan menengah kehilangan banyak penghasilan. Kementrian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang merumahkan dan melakukan PHK terhadap karyawannya. Total kurang lebih ada 1. 010.579 pekerja yang terkena dampak pandemi ini. Walhasil pandemi menggerus sumber daya ekonomi masyarakat.

Negara melakukan berbagai upaya untuk memulihkan perekonomian nasional dan memberikan berbagai program untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid 19. Namun, kemampuan pemerintah untuk menyehatkan perekonomian nasional dan membantu warga terdampak covid tidak sebanding dengan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini. Maka, inisiatif swasta terutama orang-orang kaya untuk memulihkan perekonomian dan kesehatan masyarakat dalam bentuk infaq, sedekah, zakat, dan lainnya perlu digalakkan.

Momentum berkurban dalam rangka hari raya Idul Adha berpotensi menghasilkan sumber daya finasial cukup besar sehingga bisa dipakai membantu korban terdampak covid-19. Akan tetapi, potensi ini mendapatkan hambatan teologis karena kurban dipahami sebagai keharusan menyembelih kurban dan pembagian daging. Peratanyaannya:

  1. Bagaimana hukum berkurban menggunakan uang seharga kambing atau sapi kemudian uangnya dibagikan kepada orang yang terpapar covid? Apakah bisa menggantikan kurban?
  2. Dan lebih baik (utama) mana antara berkurban dan bersedekah, dengan argumen bahwa masyarakat terdampak covid lebih membutuhkan uang dari pada daging dan juga untuk menghindarkan masyarakat dari kerumunan saat prosesi penyembelihan?
  3. Bagaimana hukum menjual hewan kurban yang belum disembelih kemudian hasil penjualannya disumbangkan untuk penanganan covid?
  4. Bagaimana jika hewan kurbannya tetap disembelih kemudian dagingnya dijual untuk kemudian uangnya disumbangkan kepada orang-orang yang terpapar covid?
  5. Siapakah yang berhak untuk mendapatkan daging kurban?

 

Jawaban:

  1. Sejarah dan Hukum Berkurban

Ibadah kurban adalah ibadah cukup tua dalam sejarah keberagamaan umat manusia. Dimulai dari kurban Qabil dan Habil di era Nabi Adam As, dilanjutkan dengan kurban di era Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dan disempurnakan di era Nabi Muhammad SAW. Pada zaman Nabi Muhammad mulai ditetapkan syariat kurban secara lebih permanen dan sempurna. Misalnya dinyatakan bahwa yang dijadikan hewan kurban adalah binatang ternah (bahimah al-an’am) dan itupun harus binatang ternak yang sehat, tidak cacat dan tidak sakit. Waktu penyembelihannya menurut ulama syafi’iyyah dimulai pada waktu dhuha tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari terakhir ayyam al-tasyriq, 13 Dzulhijjah. Penyembelihan di luar limit waktu tersebut tak diperbolehkan (وجوب ذبحها في وقتها المحدد وعدم جواز تاخيره عنه).

Tentang syariat kurban, Allah berfirman dalam al-Qur’an:

{ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ} [الحج: 27، 28]

 

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh [27] Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir [28]

Ayat ini menyatakan bahwa “bahimatul an’am-hewan ternak” sebagai rizki Allah yang diperintahkan disembelih sebagai kesempurnan ibadah haji yang dagingnya dibagi-bagikan kepada orang-orang faqir. Dalam ayat lain Allah berfirman:

{ وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (36) لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ } [الحج: 36، 37]

 

Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur [36] Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik [37]

Ayat ini menyatakan bahwa “hewan unta” dijadikan oleh Allah SWT sebagai bagian dari syi’ar Islam. Ayat ini menunjuk dengan tegas bahwa kurban adalah bukan hanya sebagai sedekah pada orang membutuhkan. Lebih dari itu, ia juga sebagai bagian dari syi’ar Allah (شعيرة من شعائر الله). Sebab, ibadah udhiyah di samping untuk tujuan ith’am (memberi santunan pada orang yang membutuhkan) juga untuk syi’ar islam. Ibadah udhiyah bukan hanya bermuatan ibadah sosial-ta’aqquli melainkan juga bermuatan unsur indvidual-ta’abbudi yang menyimbolkan kepatuhan dan ketundukan pada Allah. Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa di dalam udhiyah aspek ibadah ta’abbudinya lebih kuat ketimbang aspek ta’aqqulinya. Sebagai ibadah yang lebih bersifat individual-ta’abbudiy, udhiyah lebih menekankan pada ketepatan terhadap rukun dan syarat yang telah digariskan syari’ah.

Demikian penting pelaksanaan kurban ini, maka Jumhurul Ulama berpendapat bahwa berkurban adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan). Ulama Syafi’iyyah secara eksplisit berkata bahwa berkurban adalah sunnah kifayah. Bahkan, Imam Abu Hanifah dengan bersandar pada sejumlah dalil berpendapat bahwa ibadah kurban adalah wajib. Namun, dua murid Imam Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan al-Syaibani mengikuti pendapat Jumhur Ulama, kurban adalah sunnah muakkadah.

  1. Keutamaan dan Hukum Berkurban Dengan Uang

Terjadi perselihan di kalangan para ulama tentang lebih utama mana antara ibadah kurban dan sedekah sunnah biasa. Menurut jumhurul ulama, ibadah udhiyah (kurban) lebih utama daripada sedekah tathawwu’, karena di dalam udhiyah ada unsur sedekah dan unsur lainnya. Para fuqaha’ berkata demikian:

الموسوعة الفقهية الكويتية (5/ 107)

الْمُفَاضَلَةُ بَيْنَ الضَّحِيَّةِ وَالصَّدَقَةِ:

68 – الضَّحِيَّةُ أَفْضَل مِنَ الصَّدَقَةِ، لأِنَّهَا وَاجِبَةٌ أَوْ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَشَعِيرَةٌ مِنْ شَعَائِرِ الإْسْلاَمِ، صَرَّحَ بِهَذَا الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ. (3) وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ بِأَنَّ الضَّحِيَّةَ أَفْضَل أَيْضًا مِنْ عِتْقِ الرَّقَبَةِ وَلَوْ زَادَ ثَمَنُ الرَّقَبَةِ عَلَى أَضْعَافِ ثَمَنِ الضَّحِيَّةِ. (4) وَقَال الْحَنَابِلَةُ: الأْضْحِيَّةُ أَفْضَل مِنَ الصَّدَقَةِ بِقِيمَتِهَا نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ، وَبِهَذَا قَال رَبِيعَةُ وَأَبُو الزِّنَادِ، وَرُوِيَ عَنْ بِلاَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَال: لأَنْ أَضَعَهُ فِي يَتِيمٍ قَدْ تَرِبَ فُوهُ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُضَحِّيَ، وَبِهَذَا قَال الشَّعْبِيُّ وَأَبُو ثَوْرٍ،

Berkurban lebih utama daripada sedekah. Karena kurban ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunnah muakkad. Selain itu, ia juga merupan salah satu syiar Islam. Pandangan keutamaan kurban ini adalah pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah dan lainnya. Bahkan, Malikiyah berpendapat bahwa kurban juga lebih utama dari memerdekakan budak walaupun dengan biaya yang jauh lebih besar dari biaya kurban. Sedangkan Hanabilah berpendapat bahwa kurban lebih utama dari pada sedekah dengan nilai yang sama, sebagaimana ditegaskan oleh imam Ahmad bin Hanbal. Hal senada juga disampaikan oleh Rabi’ah dan Abu Zinad. Namun demikian, diriwayatkan dari Sahabat Bilal bahwa beliau pernah berkata: ‘Memberikan makanan kepada anak yatim yang mulutnya kekeringan lebih akau sukai dari pada berkurban.’ Atas dasar ini, al-Sya’bi dan Abu Tsaur berpendapat bahwa sedekah lebih utama dari pada kurban.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa ibadah udhiyah dan sedekah tatahawwu’ adalah dua ibadah yang berbeda, sehingga sedekah tathawwu’ tidak dapat menggantikan ibadah kurban. Karena ibadah kurban adalah syi’ar Islam yang di dalamnya harus ada iraqatu ad-dam (penyembelihan hewan). Dengan demikian, tidak sah berkurban dengan menggunakan uang senilai hewan kurban. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Mausu’ah al-Kuwaitiyah;

الموسوعة الفقهية الكويتية (5/ 106)

هَل يَقُومُ غَيْرُ الأْضْحِيَّةِ مِنَ الصَّدَقَاتِ مَقَامَهَا؟

67 – لاَ يَقُومُ غَيْرُ الأضْحِيَّةِ مِنَ الصَّدَقَاتِ مَقَامَهَا حَتَّى لَوْ تَصَدَّقَ إِنْسَانٌ بِشَاةٍ حَيَّةٍ أَوْ بِقِيمَتِهَا فِي أَيَّامِ النَّحْرِ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مُغْنِيًا لَهُ عَنِ الأضْحِيَّةِ، لاَ سِيَّمَا إِذَا كَانَتْ وَاجِبَةً، وَذَلِكَ أَنَّ الْوُجُوبَ تَعَلَّقَ بِإِرَاقَةِ الدَّمِ، وَالأَصْلُ أَنَّ الْوُجُوبَ إِذَا تَعَلَّقَ بِفِعْلٍ مُعَيَّنٍ لاَ يَقُومُ غَيْرُهُ مَقَامَهُ كَالصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ بِخِلاَفِ الزَّكَاةِ، فَإِنَّ الْوَاجِبَ فِيهَا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَالصَّاحِبَيْنِ أَدَاءُ مَالٍ يَكُونُ جُزْءًا مِنَ النِّصَابِ أَوْ مِثْلَهُ، لِيَنْتَفِعَ بِهِ

Berbagai jenis sedekah tidak bisa menggantikan posisi kurban. Bahkan, seandainya seseorang bersedekah seekor kambing yang hidup atau uang yang senilai dengannya di hari raya idul adha, hal tersebut tidak bisa menggantikan posisi kurban, terlebih kurban wajib. Sebab kurban yang wajib berkaitan dengan ‘mengalirkan darah’. Kaidah mengatakan bahwa suatu kewajiban bila berkaitan dengan suatu perbuatan khusus, maka perbuatan lainnya tidak bisa menggantikan posisinya, sebagaimana shalat dan puasa. Berbeda halnya dengan zakat. Kewajiban dalam zakat, menurut Abu Hanifah dan kedua muridnya, adalah mengeluarkan sebagian harta (yang mana saja) dari miliknya yang telah mencapai nishab agar bisa diberikan kepada yang lain.

Namun, Imam Malik mengajukan pendapat lain. Menurutnya, sedekah thatawwu’ (sunnah) lebih afdhal daripada udhiyyah. Pendapat Imam Malik ini bisa dijadikan pijakan, khusunya dalam kondisi dharurat. Jika para ahli menyatakan bahwa kondisi pandemi mengharuskan penerapan protokol kesehatan dengan ketat dan masyarakat kesulitan secara ekonomi akibat dampak covid 19, maka pendapat yang menyatakan bahwa sedekah lebih afdhal dari udhiyah bisa dijadikan pijakan. Bahkan jika sedekah telah mencapai keniscayaan karena sangat dibutuhkan, maka sedekah lebih diutamakan dari pada berkurban. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama, misalnya;

شرح ابن ناجي التنوخي على متن الرسالة (1/ 358)

وَهَلْ الأُضْحِيةُ أَفْضَلُ مِنَ الَّصدَقَةِ بِثَمَنِهَا أَمْ لَا؟ فَقِيْلَ بِذَلِكَ وَقِيْلَ باِلْعَكْسِ وَكِلَاهُماَ عَنْ مَالِكٍ حَكَاهُماَ ابْنُ رُشْدٍ،

Apakah kurban lebih utama dari sedekah yang seukuran dengan biaya kurban? Sebagian mengatakan bahwa kurban lebih utama. Sebagian lainnya berpedapat sebaliknya. Kedua pandangan ini sama-sama riwayat imam Malik yang dikisahkan oleh Ibn Rusyd.

الإشراف على مذاهب العلماء لابن المنذر (3/ 405)

3 – باَبُ اِخْتِلاَفِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْضِيْلِ الصَّدَقَةِ عَلىَ الأُضْحِيةِ

م 1666 – وَاخْتَلَفُوا فِي تَفْضِيْلِ الصَّدَقَةِ عَلىَ الأُضحِيةِ، فَقالَ قومٌ: إِنَّ الصدقةَ أفضلُ، رَوَيْنَا عن بِلاَلٍ أنه قال: مَا أُبَالِي أَنْ لاَ أُضَحِّى إلا بِدِيْكٍ، وَلِأَنْ أَضَعَهُ في يتيم قد تَرِبَ فُوْهُ، هكذا قال الْمُحَدِّثُ: أَحبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُضَحِّى كِتَابَهُ، وَهَذَا قولُ الشَّعْبِي إِنَّ الصَّدَقَةَ أَفْضَلُ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ، وَأَبوُ ثَوْرٍ.

وفيهِ قولٌ ثانٍ: وَهو أَنَّ الضَّحِيَّةَ أفضلُ، هذا قولُ رَبِيْعَةَ، وَأَبِي الزِّناَدِ، وبه قال أصحابُ الرَّأْيِ.

Ulama berbeda pendapat mengenai keutamaan sedekah dibanding kurban. Sebagian berpendapat bahwa sedekah lebih utama. Diriwayatkan dari sahabat Bilal bahwa ia pernah berkata: Saya tidak peduli bila saya tidak berkurban selain berkurban ayam karena bersedekah kepada anak yatim yang mulutnya kering lebih aku sukai. Pandangan bahwa sedekah lebih utama ini adalah pendapat al-Sya’bi, Malik dan Abu Tsaur. Namun, ada pendapat kedua yang mengatakan bahwa kurban lebih utama. Pendapat ini adalah pendapat Rabi’ah, Abi Zinad dan Hanafiyah.

الاستذكار (5/ 227)

 وَرُوِيَ عَنِ الشَّعْبِي الصَّدَقَةُ أفضلُ مِنَ الأُضْحِيَّةِ

Diriyawatkan dari Sya’bi bahwa sedekah lebih utama dari pada kurban

شرح زروق على متن الرسالة (1/ 568)

 قَالَ ابْنُ حَبِيْبٍ: وَهِيَ أَفْضَلُ مِنَ الْعِتْقِ وَمِنْ عَظِيْمِ الصَّدَقَةِ، ابنُ رُشْدٍ فِي كَوْنِ إِقَامَتِهَا أفضلُ وَالتَّصَدُّقُ بِثَمَنِهَا رِوَايَتَانِ مَشْهُوْرُهُماَ أَنَّهاَ أَفْضَلُ.

“Ibn Habib berpendapat bahwa kurban lebih utama daripada memerdekakan budah dan dari sebagian besar jenis sedekah lainnya. Ibn Rusy mengatakan bahwa melaksanakan kurban lebih utama. Sedangkan bersedekah dengan uang sebesar biaya kurban, ada dua riwayat dalam madzhab Malikiyah. Namun yang masyhur adalah kurban lebih utama.”

المجموع شرح المهذب (8/ 425)

(السَّابِعَةُ) مَذْهَبُنَا أَنَّ الْأُضْحِيَّةَ أَفْضَلُ مِنْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَشْهُورَةِ فِي فَضْلِ الْأُضْحِيَّةِ وَلِأَنَّهَا مُخْتَلَفٌ فِي وُجُوبِهَا بِخِلَافِ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ وَلِأَنَّ التَّضْحِيَةَ شِعَارٌ ظَاهِرٌ وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا من السلف ربيعة شيخ مالك وابو الوقاد وَأَبُو حَنِيفَةَ* وَقَالَ بِلَالٌ وَالشَّعْبِيُّ وَمَالِكٌ وَأَبُو ثَوْرٍ الصَّدَقَةُ أَفْضَلُ مِنْ الْأُضْحِيَّةِ حَكَاهُ عَنْهُمْ ابْنُ الْمُنْذِرِ

“Madzhab kita (Syafi’iyah) menyatakan bahwa kurban lebih utama dari pada sedekah sunnah lainnya, berdasarkan hadits-hadits shahih yang sudah masyhur mengenai keutamaan kurban. Selain itu, karena ada kalangan yang mengatakan bahwa kurban adalah wajib. Sementara sedekah tidak ada yang berpedapat demikian. Alasan lainnya, karena kurban adalah syi’ar islam. Kelebih-utamaan kurban ini merupakan pendapat Rabi’ah (guru imam Malik), Abuu Waqad, dan Abu Hanifah. Sedangkan Bilal, Sya’bi, Malik dan Abu Tsaur berpendapat bahwa sedekah lebih utama dari pada kurban. Pandangan kedua ini dikisahkan oleh Ibn Mundzir.”

  1. Menjual Kurban (Udhiyyah)

Bagaimana hukum menjual udhiyah untuk disumbangkan pada korban covid 19? Menurut sebagian ulama (Abu Hanifah), pemilik udhiyyah atau panitia yang diberi wewenang boleh menjual udhiyyah sebelum disembelih dan hasil penjualannya digunakan untuk membeli udhiyyah yang lebih baik atau yang sama nilainya. Artinya, menjual udhiyyah itu dibolehkan hanya untuk membeli udhiyah yang lebih baik.

Namun, sebagian ulama berpendapat sebaliknya; boleh menjual udhiyah sebelum disembelih dan hasil penjulannya digunakan untuk disedekahkan pada fakir miskin termasuk korban terdampak covid-19. Namun, ia tidak dapat disebut sebagai kurban melainkan sebagai sedekah. Pendapat ini didasakan pada pandangan bahwa kurban hanya bisa disebut kurban kalau kurban itu sudah disembelih.

Dengan demikian, sebelum kurban disembelih, pemilik hewan kurban boleh memilih antara tetap dijadikan hewan hingga disembelih atau hendak dijual ke orang lain. Pendapat ini bisa sebagai pintu masuk untuk menjual “kurban” yang belum disembelih ketika sangat dibutuhkan untuk kepentingan kemaslahatan yang lebih besar. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhi dan al-Bayan wa al-Tahshil;

لَكِنْ قاَلَ الدَّرْدِيْرُ وَالدَّسُوْقِي الْمَالِكِياَنِ (1): الْمُعْتَمَدُ الْمَشْهُوْرُ فِي الْمَذْهَبِ: أَنَّ الأُضْحِيَةَ لاَتَجِبُ إِلَّا بِالذَّبْحِ فَقَطْ، ولاتجب بالنَّذْرِ. وقالا أيضاً: يُنْدَبُ وَلَايَجِبُ عَلىَ الْمُعْتَمَدِ ذَبْحُ وَلَدِ الأُضْحِيَةِ الذِّي وُلِدَ قَبْلَ ذَبْحِ أُمِّهِ؛ لأَنَّ الأُضْحِيَةَ لَاتَتَعَيَّنُ عِنْدَهُمْ إِلاَّ بالذبحِ، ولاتَتَعَيَّنُ بالنذرِ.) الفقه الاسلامي وأدلته (4/2707)

al-Dardir dan al-Dasuqiy yang bermadzhab Maliki mengatakan bahwa pendapat yang mu’tamad (bisa dijadikan pegangan) dan masyhur dalam madzhab Maliki adalah pandangan yang mengatakan bahwa kurban tidak menjadi wajib kecuali hanya setelah disembelih. Kurban tidak menjadi wajib sebab telah dinadzari. Mereka berdua juga mengatakan bahwa menurut pendapat yang mu’tamad, menyembelih anak yang dilahirkan dari hewan kurban yang masih hidup adalah sunnah, bukan wajib. Sebab, kurban tidak menjadi ‘mu`ayyan’ kecuali dengan disembelih. Tidak menjadi ‘mu`ayyan’ pula sebab nadzar.

البيان والتحصيل، الجزأ الثالث، صحيفة؛ ٣٣٧

قَالَ مُحَمَّدٌ بنُ رُشْدٍ؛ الضَّحِيَةُ عِنْدَ مَالِكٍ لا تَجِبُ أُضْحِيَةً وَتَصِيْرُ نُسُكًا إلاَّ بالذبحِ، وَإِنْ اشْتَرَاهَا لِيُضَحيَّ بِهَا وَسَمَّاهَا أُضْحِيَةً فَلاَ يَجِبُ بِذَلكَ ذَبْحُهَا، ولهُ أَنْ يُبْدِلَهَا بِخَيْرٍ مِنْهَا.

Muhammad bin Rusyd berkata bahwa menurut imam Malik, hewan kurban tidak pasti menjadi kurban dan dinilai sebagai ibadah kurban kecuali dengan disembelih. Sehingga bila ada seseorang yang membeli hewan untuk dijadikan kurban dan menyebutkannya sebagai kurban, tidak lantas hewan itulah (mu`ayyanah) yang harus disembelih sebagai kurban. Orang tersebut masih bisa mengganti hewan tersebut dengan hewan lain yang lebih baik.

Itu tentang menjual hewan kurban sebelum disembelih. Lalu, bagaimana dengana menjual hewan kurban setelah disembelih? Para ulama sesungguhnya berbeda pendapat tentang penjualan kurban setelah disembelih. Ada ulama yang membolehkan, dan ada ulama yang tak membolehkan. Dalam situasi mendesak seperti situasi covid yang berdampak pada melemahnya perekonomian masyarakat, maka pendapat yang menyatakan boleh menjual kurban setelah disembelih bisa dijadikan pijakan. Dan kurban yang dijual setelah disembelih itu tetap sah sebagai kurban dan hasil penjualannya sah juga untuk disedekahkan. Ini dijelaskan dalam dalam kitab al-Majmu’ dan Fatawa Dar al-Ifta’;

المجموع شرح المهذب (8/420)

وَحَكَى أَصْحَابُنَا عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُ الْأُضْحِيَّةِ قَبْلَ ذَبْحِهَا وَبَيْعُ مَا شَاءَ مِنْهَا بَعْدَ ذَبْحِهَا وَيَتَصَدَّقُ بِثَمَنِهِ قَالُوا وَإِنْ بَاعَ جِلْدَهَا بِآلَةِ الْبَيْتِ جَازَ الِانْتِفَاعُ بِهَا دَلِيلُنَا حَدِيثُ عَلِيٍّ رضى الله عَنْهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Beberapa ulama meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa menjual hewan kurban sebelum disembelih diperbolehkan. Begitu pula menjual apapun dari hewan kurban tersebut setelah disembelih kemudian hasil penjualannya disedekahkan. Mereka bahkan berpendapat bahwa sekalipun kulit hewan kurban tersebut dijual dengan ganti perkakas rumah, maka perkakas tersebut boleh dimanfaatkan. Hal ini berdasarkan hadits Sayyidina Ali RA.

فتاوى دار الإفتاء المصرية (1/ 222)

أَماَّ التَّصَدُّقُ بالثَّمَنِ على الفقراءِ فَمَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَظَاهِرُ مذهبِ الشَّافعيَّةِ أَنَّهُ لَا يُجْزِىءُ عَنِ الأُضْحِيَةِ لِأَنَّ الْمَقْصودَ مِنْ شَرْعِها التَّعَبُّدُ بِإِرَاقَةِ الدَّمِ وَإِطْعَامُ الفُقَراءِ بِاللَّحْمِ الَّذِى حَرِمُوْهُ أَكْثَرَ أَيَّامِ الْعَامِ . والْمَشْهُورُ الرَّاجِحُ فِى مَذْهَبِ مالكٍ وهو الْمَرْوِىُ عن أحمدَ وجماعةٍ من العلماءِ أَنَّ التَّضْحِيَةَ أَفْضَلُ مِنَ التَّصَدُّقِ باِلثَّمَنِ . وهناك رِوَايَةٌ ضَعِيفَةٌ عَنْ مالكٍ أَنَّ التَّصَدُّقَ بالثَّمَنِ أفضلُ كما فى شرح الموطأ وَغَيْرِهِ مِنْ كُتُبِ الْمَذْهَبِ .

 “Sedangkan bersedekah dengan uang kepada para fakir-miskin, maka menurut Madzhab Hanafiyah dan sebagian Madzhab Syafi’iyah, tidak bisa menggantikan posisi kurban. Karena yang diinginkan dari ibadah kurban adalah penghambaan diri (ta`abbud) dengan mengalirkan darah (menyembelih) dan memberikan makanan mewah (daging) kepada fakir-miskin yang hampir sepanjang tahun mereka tidak merasakannya. Sementara pandangan yang masyhur dalam Madzhab Malikiyah yang diriwayatkan dari Ahmad dan sekelompok ulama bahwa berkurban lebih utama dari pada bersedekah dengan nilai yang sama. Namun demikian, ada riwayat yang dhaif (lemah) dari Malik bahwa bersedekah dengan nilai yang sama lebih utama daripada berkurban. Informasi ini selaras dengan yang tertera dalam Syarah Muwattha’ dan kitab-kitab Madzhab Malikiyah lainnya.”

  1. Membagi Kurban (Udhiyyah)

Pada dasarnya, udhiyah harus dibagikan pada orang orang yang sangat membutuhkan (al-qani’ wal mu’tar). Menurut jumhur ulama, daging kurban atau hasil penjualan daging kurban boleh dibagikan kepada orang faqir-miskin, orang kaya, walau mereka beragama selain Islam, terlebih jika mereka memiliki hubungan kekerabatan, ketetanggaan dan hubungan kewarganegaraan (ukhuwwah wathaniyyah). Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab sbb;

المجموع شرح المهذب (8/ 425)

(التَّاسِعَةُ) قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى جَوَازِ إطْعَامِ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْأُضْحِيَّةِ وَاخْتَلَفُوا فِي إطْعَامِ فُقَرَاءِ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَرَخَّصَ فِيهِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو ثَوْرٍ* وَقَالَ مَالِكٌ غَيْرُهُمْ أَحَبُّ إلَيْنَا وَكَرِهَ مَالِكٌ أَيْضًا إعْطَاءَ النَّصْرَانِيِّ جِلْدَ الْأُضْحِيَّةِ أَوْ شَيْئًا مِنْ لَحْمِهَا وَكَرِهَهُ اللَّيْثُ قَالَ فَإِنْ طُبِخَ لَحْمُهَا فَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ الذِّمِّيِّ مَعَ الْمُسْلِمِينَ مِنْهُ هَذَا كَلَامُ ابْنِ الْمُنْذِرِ وَلَمْ أَرَ لِأَصْحَابِنَا كَلَامًا فِيهِ وَمُقْتَضَى الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُهُمْ مِنْ ضَحِيَةِ التَطَوُّعِ دُوْنَ الْوَاجِبَةِ والله أَعْلَمُ 

“Ibn Mundzir berkata bahwa umat Islam sepakat tentang kebolehan memberikan daging kurban kepada fakir miskin yang muslim. Namun mereka berbeda pendapat tentang kebolehan daging kurban diberikan kepada fakir miskin yang non muslim (ahl-dzimmah). Terkait hal ini, Hasan al-Bashri, Abu Hanifan, dan Abu Tsaur membolehkannya. Imam Malik mengatakan bahwa selain ahl-dzimmah lebih dia sukai untuk diberi daging kurban. Malik juga tidak suka bila memberikan kulit atau sebagian daging kurban kepada nashrani. Al-Laits juga senada dengan imam Malik, hanya saja, menurut al-Laits, tidak bermasalah bila daging kurban dimasak lalu dimakan oleh umat muslim bersama alh-dzimmah. Ini semua adalah yang dikatan Ibn Mundzir. Sedangkan saya sendiri tidak menemukan ulama syafi’iyah yang berpendapat tentang hal ini. Namun, ada indikasi bahwa madzhab syafi’iy membolehkan memberikan daging kurban sunnah, bukan kurban wajib.”

الخلاصة في أحكام أهل الذمة (3/ 148)

ثُمَّ قال النَوَوِيُّ :[ وَمُقْتَضىَ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوْزُ إِطْعَامُهُمْ مِنْ ضَحِيَةِ التَّطَوُّعُ دُوْنَ الْوَاجِبَةِ ] المجموع 8/425 .

وقال الشيخ ابنُ قُدَامَةَ :[ وَيَجُوْزُ أَنْ يُطْعِمَ مِنْهَا كافراً وبِهَذَا قال الحَسَنُ وأَبُو ثَوْرٍ وَأَصحَابُ الرَّأْيِ . لِأَنَّهُ طَعَامٌ لَهُ أَكْلُهُ فَجَازَ إِطْعَامُهُ لِلذِّمِّيِ كسَائِرِ الأَطْعِمَةِ ولِأَنَّهُ صَدَقَةُ تَطَوُّعٍ فَجَازَ إِطْعَامُهَا لِلذميِ وَالْأَسِيْرِ كَسَائِرِ صدقةِ التطوعِ ] المغني 9/450

وَالرَّاجِحُ من أقوالِ العُلَمَاءِ أَنَّهُ يَجُوْزُ إِطعَامُ أَهْلِ الذِّمَّةِ مِنْها ، وَخَاصَّةً إِنْ كَانُوا فُقَرَاءَ أَوْ جِيْرَاناً لِلْمُضَحِّي أَوْ قَرَابَتُهُ أَوْ تَأْلِيْفاً لِقُلُوْبِهِمْ .وَأَمَّا الْهَدِيَةُ مِنْ الأُضْحِيَةِ فَقَدْ اتَّفَقَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّ الْهَدِيَةَ مِنَ الأُضْحِيَةِ مَنْدُوْبَةٌ . وَكَثِيْرٌ مِنَ الْعلماَءِ يَرَوْنَ أَنْ يُهْدَي ثلثاً مِنْهاَ كَمَا مَرَّ في حديثِ ابْنِ عَبَّاسٍ فَإِنَّهُ يَجْعَلُ الأُضْحِيَةَ أَثْلَاثاً ثُلَثٌ لِأَهْلِ الْبَيْتِ وَثُلُثٌ صَدَقَةٌ وَثُلُثٌ هَدِيَةٌ .وَنُقِلَ هَذَا عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنُ عُمَرَ وَعَطَاءٍ وَإِسْحَاقَ وأَحْمَدَ وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيِ الشَّافِعِيّ

 

“Imam Nawawi berkata, ‘Ada indikasi dalam madzhab syafi’iy bahwa boleh memberikan daging kurban sunnah kepada non muslim, bukan kurban wajib’. Ibn Qudamah mengatakan, ‘Boleh memberi daging kurban kepada orang kafir. Pandangan ini diutarakan oleh al-Hasan, Abu Tsaur dan Hanafiyah. Kebolehan ini karena daging kurban adalah makan yang boleh dimakan oleh umat muslim, maka ia juga boleh diberikan kepada non muslim sebagaimana makanan-makanan lainnya. Selain itu, kurban juga merukan salah satu jenis sedekah yang disunnahkan. Oleh karenanya, ia boleh diberikan kepada non muslim sebagaimana sedekah-sedekah sunnah lainnya.’

Pendapat yang unggul diantara beberapa pendapat di atas adalah yang mengatakan bahwa boleh memberikan sebagian daging kurban kepada ahl-dzimmah, terlebih bila mereka adalah orang fakir-miskin, tetangga yang berkurban, atau kerabatnya, atau agar hatinya menjadi lemah lembut.

Sedangkan hadiah yang diambilkan dari daging kurban, para ulama sepakat bahwa memberikan hadiah dari sebagian daging kurban disunnahkan. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa sebaiknya memberikan 1/3 daging kurban sebagai hadiah sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa dia membagi daging kurban menjadi 3 bagian. 1/3 diberikan kepada ahlul bait, 1/3 diberikan sebagai sedekah, dan 1/3 lagi diberikan sebagai hadiah. Pandangan ini diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, Ibn Umar, Atha’, Ishaq, dan Ahmad. Pandangan ini juga merupakan salah satu dari dua pendapat di kalangan syafi’iyah.

  1. Berkurban Saat Pandemi

Sejumlah pandangan fikih terkait dengan pelaksanaan ibadah kurban sudah dijelaskan. Namun, penting diketahui bahwa pandangan-pandangan fikih “qurban” tersebut dirumuskan para ulama terdahulu dalam suasana normal bukan fikih “qurban” yang dirumuskan para ulama dalam dalam suasana “new-normal”, suasana pandemi.

Karena itu, berkurban di masa pandemi covid 19 seperti sekarang ini mengharuskan umat Islam memperhatikan beberapa hal berikut:

Pertama, sebagaimana telah dijelaskan bahwa pandemi telah berdampak bukan hanya pada banyaknya orang sakit dan meninggal dunia, melainkan juga potensial melahirkan orang-orang miskin baru yang sulit bertahan hidup. Dalam kaca mata fikih Islam, negara (dalam hal ini pemerintah) harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup mereka. Sebuah hadits riwayat al-Bukhari mengatakan seorang pemimpin bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya

الإِمَامُ اَّلذِى عَلىَ النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ. رواه البخارى

Dalam kaitan itu, sebagai kepala negara (Amirul Mukminin), Umar ibn al-Khattab berkata, “andaikan ada seekor kambing mati di tepi sungai Furat, maka saya yakin bahwa Allah di Hari Kiamat nanti akan meminta saya untuk bertanggung jawab atas masalah itu.”

لَوْ هَلَكَ جَدْيٌ بِشَطِّ الْفُرَاتِ لَوَجَدْتَنِي مَسْئُوْلاً عَنْهُ أَمَامَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Namun, jika keungan negara tidak mencukupi untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan yang timbul akibat pandemi covid 19, maka masyarakat -khususnya yang mampu- ikut memikul tanggung jawab secara kifayah

دَفْعِ ضَرَرِ الْمَعْصُوْمِيْنَ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الْمُوْسِرِيْنَ

Secara kifayah artinya, jika persoalan bisa diatasi dengan partisipasi sebagian masyarakat, maka yang lain tidak memikul beban dosa. Namun, karena demikian besarnya dampak kemanusiaan dan perekonomian yang ditimbulkan covid 19, maka seharusnya semua yang mampu ikut berpartisipasi dan tidak menunggu kolapsnya keuangan negara.

Dengan demikian, jika keuangan negara dalam kondisi darurat (حالة الإضطرار), maka tanggung jawab orang kaya untuk membantu orang-orang miskin akibat pandemi yang pada mulanya adalah fardhu kifayah bisa berubah menjadi fardhu ‘ain.

Dengan demikian, sekiranya membantu orang-orang miskin yang terdampak pandemi covid 19 adalah wajib, maka seharusnya mengurus mereka lebih didahulukan daripada ibadah qurban yang berstatus sunnah. Sebuah kaidah menyatakan: وَمَتَى تَعَارَضَ الْوَاجِبُ وَالْمَنْدُوبُ قُدِّمَ الْوَاجِبُ عَلَى الْمَنْدُوبِ“Apabila ada pertentangan antara yang wajib dan yang sunnah, maka yang wajib didahulukan dari yang sunnah.” (Syihabuddin al-Qarafi, al-Furuq, [Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H/1998 M], juz, II, h. 223). Bahkan, sekiranya sebagian umat Islam ragu antara berkurban dan membantu korban covid 19, maka dalam konteks pandemi sekarang ini sebaiknya yang bersangkutan memilih membantu mereka secara langsung daripada berkurban. (على الذين يعتزمون على التضحية ان يقلبوا عزمهم وينفقوا ثمن الاضحية المعزوم عليها لأداء هذا الواجب)

Kedua, masyarakat lebih membutuhkan alat-alat kesehatan dan makanan sederhana dari pada makan daging termasuk daging kurban. Dalam konteks ini, maka mendahulukan yang pokok daripada yang sekunder adalah keniscayaan (تقديم الأمور الضرورية على الامور التحسينية). Artinya, masyarakat yang berkecukupan perlu mendahulukan membantu masyarakat terdampak covid berupa hal-hal yang sangat dibutuhkan daripada memberikan daging kurban.

Ketiga, masa pandemi covid 19 mengharuskan masyarakat tak membentuk kerumunan karena diyakini akan menjadi sebab perluasan sebaran virus 19. Karena itu, terjadinya kerumunan saat penyembelihan hewan kurban sebisa mungkin harus dihindari dalam usaha untuk menyelamatkan jiwa manusia (حفظ النفس) sebagai salah satu tujuan syari’at. Memang kita dihadapkan pada kondisi dilematis. Di satu sisi kita diwajibkan menghindari kerumunan. Namun, dii sisi lain kita diwajibkan melakukan penyembelihan hewan kurban yang berstatus wajib -karena sudah ditentukan sebelumnya [mu’ayyanah] atau dinadzarkan- yang dalam praktiknya di masyarakat seringkali memicu terjadinya kerumunan.

Menghadapi kondisi dilematis tersebut, maka dua solusi yang bisa dipilih umat Islam: [1] Tidak melakukan penyembelihan selama masih dalam kondisi pandemi dan mensedekahkan hewan tersebut dalam kondisi hidup dan menyembelihnya pasca-pandemi yang menurut hukum asalnya tidak boleh dengan niat qadha’. [2] Atau mengikuti pendapat ulama yang membolehkan menjual hewan kurban dan mensedekahkan uangnya ke orang lain terutama yang sangat membutuhkan seperti orang-orang yang terdampak pandemi covid 19.

Dua solusi tersebut diajukan sebagai ketentuan hukum alternatif yang bisa diambil dalam kondisi tidak normal, sebagai rukhshah (keringanan hukum). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an dalam surat al-Hajj [22]: 78:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فىِ الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah sekali-sekali tidak menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama”

Rasulullah SAW juga bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصَهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تٌؤْتَى عَزَائِمُهُ

Sesungguhnya Allah suka ketika rukhshah-rukhshah-Nya dijalankan sebagaimana Allah suka ketika hukum-hukum azimah-Nya dilaksanakan

Demikian hasil Bahtsul Masail ini disampaikan untuk menjadi pegangan umat Islam, seraya berdoa kepada Allah semoga virus covid 19 ini segera dipunahkan oleh Allah SWT dari Indonesia khususnya dan dari seluruh dunia umumnya.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

      Situbondo, 13 Juli 2021

 

 

Tim Perumus

  1. H. Dr. Afifuddin Muhajir
  2. H. Dr. A. Muhyiddin Khotib
  3. H. Dr. Abdul Moqsith Ghazali
  4. H. Nuruddhalam
  5. H. Dr. Imam Nakhai
  6. H. Khairuddin Khabziz

 

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *