Dosen/Santri/Alumni

Bahasa Sebagai Wujud Interpretasi

Bahasa menjadi sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan sosial. Tanpanya, kelangsungan hidup bermasyarakat tidak akan berjalan mulus. Betapa tidak, tuhan menciptakan bahasa sebagai media komunikasi untuk dapat dimengerti oleh pihak satu dengan pihak lainnya. Oleh karena itulah, memahami bahasa suku-suku lain juga menjadi penting agar komunikasi berjalan dengan lancar. Memang, kita bisa saja berkomunikasi menggunakan isyarat dengan orang lain -ketika ada kendala bahasa-, namun tetap saja bahasa lisan dinilai lebih efektif dan mudah dimengerti.

Bahasa merupakan kumpulan kosakata yang masing-masing memiliki arti atau maksud tersendiri. Secara universal, kosakata bahasa dapat diketahui melalui 2 aspek. Pertama, aspek pengutipan, yakni kosakata yang digunakan adalah kosakata yang sama dengan penggunaan generasi terdahulu. Bahasa yang dikutip dapat berupa kosakata yang telah populer di kalangan masyarakat luas atau kosakata yang populer hanya dalam lingkup suku-suku. Bahasa merupakan bentuk artikulasi dari wujud yang tergambar dalam rasio mengenai objek yang tertangkap indra. Pikiran secara langsung merefleksikan wujud tersebut ke dalam beragam istilah yang kemudian disebut bahasa. Kendati demikian, penciptaan ini hanya terbatas pada objek-objek yang membutuhkan identifikasi, sementara objek lain hanya bernisbah pada objek teridentifikasi tersebut, seperti aroma sabun yang tidak memerlukan istilah khusus untuk membahasakannya.

Selain proses di atas, dalam penciptaan bahasa juga terjadi proses reduksi. Hal-hal mendetail pada objek yang tertangkap indra diabaikan untuk menghasilkan bahasa yang cakupannya lebih luas. Semisal kata ‘mesin’ yang disematkan pada alat penggerak mobil. Pada saat bentuk serupa ditemukan pada selain mobil, seperti motor, diesel, dan kontraktor, maka interpretasi kata ‘mesin’ tidak lagi spesifik pada mobil saja. Dari itulah, muncul pemahaman bahwa mesin adalah perkakas apapun yang berfungsi untuk menggerakkan atau membuat suatu alat tertentu yang dijalankan dengan roda atau digerakkan oleh tenaga manusia maupun motor penggerak. Oleh karena itu, bahasa bersifat terbatas, berbanding terbalik dengan objek pikiran yang tidak akan mampu keseluruhan ditampung dalam bahasa.

Kedua, aspek pijakan rasio berdasarkan pada aspek yang pertama. Pada aspek ini rasio berperan mengidentifikasi jenis serangkaian bahasa yang telah tersaji dalam bentuk kalimat. Interpretasi yang dihasilkan akan memberikan penjelasan mengenai maksud yang diinginkan teks baik bersifat umum atau khusus. Semisal dalam literatur bahasa arab kata jamak yang disandingkan dengan alif-lam mengandung makna universal. Indikasi kaidah ini merupakan hasil dari refleksi pikiran terhadap suatu objek sebagaimana pada aspek yang pertama.

Dalam konteks ilmu yurisprudensi Islam, perihal kaidah-kaidah kebahasaan dibincangkan secara khusus dalam bab tertentu. Terutama dalam karya-karya kontemporer yang dinilai lebih sistematis, kaidah kebahasaan mencakup banyak kategori, antara lain kalimat umum, khusus, mantuq, mafhum, mutlaq, muqayyad, zahir, nash, mujmal, muhkam, mufassar, musytarak dan lain sebagainya. Kaidah-kaidah tersebut dipergunakan untuk melakukan interpretasi hukum syariat melalui teks-teks nas. Teori yang dihasilkan merupakan buah dari kajian mendalam terhadap susunan gaya bahasa Arab, metode penunjukan huruf dan kalimat, serta makna yang dikehendaki oleh redaksi-redaksinya. Hal tersebut sekaligus memperjelas relasi antara nalar logis dan teks wahyu dalam seluk beluk kajian yurisprudensi Islam atau yang disebut dengan ilmu usul fikih.

Meski demikian, bahasa yang digunakan masyarakat tidaklah sama antara satu dengan lainnya kendati mereka berada di daerah dan dalam ras serta suku yang sama. Kalangan-kalangan khusus menggunakan bahasa mereka sendiri sesuai dengan istilah yang juga mereka sepakati bersama. Kelompok ilmuwan Islam akan berbeda dengan kelompok masyarakat awam dalam menafsirkan kata seperti salat, zakat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, aspek bahasa tidaklah sesederhana pengucapan yang hanya digunakan sehari-hari, melainkan lebih luas menyangkut pemahaman teks dan bahkan makna abstrak yang perlu dikaji mendalam meski hanya dari satu kalimat.

Penulis: Kholidatul Itsnayni

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *