Kajian Keislaman Sirah Nabawiyah

IBRAHIM, IBADAH HAJI DAN KITA

Nabi Ibrahim adalah nabi yang mendapatkan gelar khalilullah yang berarti kekasih Allah. Selain itu beliau juga dikenal dengan abul anbiya’ karena dari tulang shulbi beliau lahirlah para nabi dan utusan yang membawa tiga agama besar di dunia yaitu   Yahudi, Nasrani dan Islam. Beliau lahir di Babilonia dari rahim seorang perempuan yang bernama Umaylah. Nabi Ibrahim juga termasuk salah satu dari lima nabi yang mendapat gelar ulul azmi.

Nama Nabi Ibrahim disebutkan sebanyak 69 kali di dalam Alquran yang tersebar di berbagai surat dan dalam konteks yang berbeda. Surah Shad ayat 45 misalnya. menyebut Nabi Ibrahim bersama Nabi Ishaq dan Ya’qub sebagai nabi yang terpilih, pada surah Al-Nahl ayat 120-123 Nabi Ibrahim dikisahkan sebagai pemimpin yang dapat dijadikan teladan karena sikap taatnya kepada Allah swt. dan sikap hanif yang beliau miliki. Hadrat Mirza Nasir Ahmad dalam bukunya The holy Quran mengartikan kata hanif dengan “orang yang meninggalkan atau menjauhi kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada petunjuk”.

Namun bila kita ringkas secara umum ayat-ayat yang menyebut nama Ibrahim tersebut berkisah tentang kesalehan, ketaatan dan keutamaan beliau, yang lebih penting beberapa ayat tersebut menceritakan tentang riwayat perjalanan intelektual dan spiritual beliau dalam mencari definisi Tuhan dengan mengamati semesta raya mulai dari bintang, bulan dan matahari. Hal ini dikisahkan dalam Quran surah Al-An’am ayat 76-78:

Ketika malam sudah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu berkata, ‘inilah tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘aku tidak suka kepada yang terbenam.’(76) lalu ketika melihat bulan terbit dia berkata, ‘inilah tuhanku’ tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘sunguh, jika tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’(77) kemudian ketika melihat matahari terbit dia berkata, ‘inilah tuhanku ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘wahai kaumku, sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”(78)

Dari perenungan panjang yang beliau lakukan di usianya yang masih relatif muda itu beliau sampai pada sebuah kesimpulan bahwa bulan, bintang dan matahari bukanlah tuhan. Beliau meyakini di balik semua itu pasti ada Dzat yang menciptakan semua itu dan segala apa yang ada.

Selain itu dari kisah perjalanan intelektual dan rohaninya tercermin sifat hanif (kecendrungan  kepada kebenaran), misi kenabian, cita-cita atau harapan beliau untuk anak cucunya yaitu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan salat, mengerjakan kebajikan dan hanya mengabdikan dirinya hanya kepada Allah yang berhubungan dengan agama tauhid.

Atas dasar itu maka datanglah perintah untuk melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Sebagai rukun yang terakhir ia memiliki kaitan yang erat dengan rukun yang pertama karena ibadah tersebut sebagai bentuk manifestasi terhadap keyakinan akan keesaan Allah. Ibadah haji yang kemudian juga disyariatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya merupakan napak tilas dari perjalan Nabi Ibrahim yang mengalami berbagai peristiwa bersama istrinya Hajar dan putranya Ismail.

Pada dasarnya Ibadah haji ini memiliki tiga aspek penting: Pertama, sebagai bentuk penghayatan terhadap perjalanan spiritual Nabi Ibrahim sebagai seorang yang hanif dan sebagai bapak pembawa ajaran monoteisme; kedua, meneladani keteguhan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah, yaitu menyembelih putra beliau yang kemudian oleh Allah diganti dengan menyemblih binatang yang dibagikan kepada orang-orang miskin sebagai bentuk solidaritas; ketiga, mewujudkan nilai persaudaraan antara seluruh umat manusia yang bertamu ke rumah Allah dari berbagai penjuru dunia.

Akhirnya, kita mungkin hanya bisa merindu dan mendambakan serta bertanya-tanya kepada diri sendiri, siapakah yang mampu menjelma sosok Ibrahim untuk saat ini, baik dalam bentuk keyakinan tauhidnya, kelemah-lembutannya, kecintaannya terhadap sesama, serta kepatuhannya terhadap Tuhan yang tak pernah ada dua? tentu saja KITA sendiri yang harus memulainya.

Penulis: Hafifah, S. Ag.

5.0/5.0 Article rating
2 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *