Dosen/Santri/Alumni Hukum Islam

Hukum dan Dalil Salat Iduladha Menurut Empat Mazhab

Salah satu aktivitas yang diperintahkan saat hari raya Iduladha adalah Salat Id. Ritual salat identik dan menjadi karakter tersendiri bagi umat beragama Islam. Jadi sangat tepat bila mengekspresikan kebahagiaan hari raya melalui ritual tersebut. Lantas apa hukumnya salat Id?

Ulama mazhab berbeda pendapat mengenai hukum salat hari raya. Menurut hemat penulis, kurang lebih ada tiga pendapat sebagai berikut:

Pertama, Pendapat yang mewajibkan, dipelopori oleh kalangan mazhab Hanafi. Menurut mereka setiap muslim wajib (Fardu ain/kewajiban individual) melaksanakan salat hari raya. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan salat id dan dihukumi dosa bagi yang meninggalkannya.

Dalil yang dipakai oleh kalangan Hanafi adalah hadis Nabi saw. (hadis fi’li). Menurut mereka, salat hari raya merupakan aktivitas yang dilakoni Rasulullah setiap tahunnya (mudawamah). Setiap kali hari raya tiba, Nabi saw. selalu konsiten melaksanakan ibadah tersebut dan tidak pernah meninggalkannya.

Dalam literatur turast sering kali disebutkan, bahwa ciri khas dari hukum wajib adalah konsistennya Rasulullah dalam melaksanakan hal tersebut. Disebutkan dalam kitab al-Bhr al-Muhit Fi Usul al-Fiqih juz 3, halaman 257:

رَابِعُهَا أَنْ يُدَاوِمَ على الْفِعْلِ مع عَدَمِ ما يَدُلُّ على عَدَمِ الْوُجُوبِ لِأَنَّهُ لو كان غير وَاجِبٍ لَأَخَلَّ بِتَرْكِهِ

Ciri khas wajib yang keempat adalah terus-menerusnya Nabi saw. dalam melaksanakannya, di samping tidak ada dalil lain yang menunjukkan hukum tidak wajib. Karena, seandainya hukum tersebut tidak wajib, niscaya Nabi saw pasti akan sesekali meninggalkannya.

Kedua, pendapat yang dikemukakan oleh mazhab Hanbali. Menurut mereka, pelaksanaan Salat Id hukumnya fardu kifayah (kewajiban komunal). Ini berarti tidak masalah bila seorang muslim tidak melaksanakan salat hari raya senyampang ada perwakilan dari kalangan mereka yang melakukannya.

Dalil yang digunakan oleh kalangan ini adalah Alquran:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Q.S Al-Kautsar 108: 2)

Selain itu, kewajiban Salat Id turut dijustifikasi dengan  fi’l Nabi (perbuatan Nabi). salat hari raya yang secara intensif dilaksanakan oleh Rasulullah juga menjadi dalil yang menunjukkan hukum wajib.

Ketiga, pendapat yang dikemukakan oleh mazhab Syafi’i. Menurut pendapat yang ketiga, salat hari raya hanya sebatas sunah. Bagi yang meninggalkannya tidak ada sanksi khusus dari agama.

Dalil yang dipakai oleh kalangan Syafi’iyah adalah hadis a’robi.  Dalam cuplikan hadis tersebut seseorang dari arab pedalaman bertanya kepada Nabi tentang salat wajib selain lima waktu, lantas Rasulullah menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunah”:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .

Rasulullah bersabda, “Salat lima waktu (diwajibkan) dalam sehari dan semalam.” Maka, a’rabi bertanya, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunah. Juga puasa Ramadhan.” Lantas, ia kembali bertanya, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunah,” dan Rasulullah saw. menyebutkan (kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunah.” Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menambah dan tidak akan menguranginya.” Mendengar hal itu, spontan Rasulullah saw. bersabda, “Ia pasti akan beruntung apabila jujur.” [Al-Mausuah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah: 27/240; al-Fiqh al-Islamy wa Adilltuh: 02/513].

Penulis: Fathul Qorib

No Article rating
0 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *