Dosen/Santri/Alumni

Meratapi Misteri Tak Berujung.

Setiap makhluk tak ada yang kekal, karena pasti akan mengalami kebinasaan. Termasuk manusia yang juga merupakan makhluk Allah Swt. Walau sebagaimana yang kita tahu manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna. Namun, kesempurnaan itu tak akan bisa mengubah kada-Nya.

Benar adanya. Sore kala itu, kami mendengar kabar bahwa insan yang senantiasa membimbing dan mendoakan kami tanpa pamrih telah mengalami lebih dulu dan kembali pada-Nya lebih awal. Hal yang mungkin sebelummnya tak pernah telintas dalam pikiran kita, ternyata kita kalah telak tanpa ada persiapan. Sedih, jelas kita sebagai orang yang ditinggalkan pasti akan merasa sedih. Kesedihan kami mungkin tak sebanding dengan kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

Kesedihan wajar saja terjadi pada siapapun yang ditinggalkan. Hal ini pun pernah tejadi kepada Nabi Muhammad Saw.  yang juga pernah merasakan kesedihan karena ditinggal wafat oleh dua orang terkasihnya, yaitu Abi Thalib paman yang merawat beliau dari kecil hingga beliau menjadi seorang utusan. Kemudian, ditahun yang sama beliau juga ditinggal oleh istri tercinta yang menemani perjuangan beliau untuk menyebarkan agama Allah Swt. Tahun itu nabi mengalami kesedihan. Sehingga, tahun itupun diberinama tahun Hazan yang berarti tahun kesedihan.

Kesedihan tak akan pernah sirna begitu saja. Sehingga, agama memberikan waktu untuk berkabung.

Berkabung atas kematian seseoarang di dalam agama dibagi sebagai berikut:

  1. Istri Berkabung Atas Kematian Suami, dalam hal ini agama telah menjelaskan:

Dalam Alquran dijelaskan bahwa:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا [البقرة: ٢۳۶]

Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri hendaklah para istri menagguhkan dirinya selama empat bulan sepuluh hari”.

Ayat ini menjelaskan tentang istri yang ditinggal mati oleh suaminya harus beridah selama empat bulan sepuluh hari. Disisi lain, dalam sebuah hadis nabi:

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ، أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ، إِلَّا عَلَى زَوْجٍ، فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah Swt. dan hari kiamat berihdad atas kematian seseorang melebihi dari tiga hari kecuali kepada seorang isrti, karena seorang istri diberi masa berihdad selama empat bulan sepuluh hari”.

Dalam hadis ini, ihdad berarti menjauhnya seorang istri yang baru ditinggal mati dari segala sesuatu yang memungkinkan menimbulkan pernikahan dan syahwat, misalnya berdandan, memakai wangi-wangian, berpakaian bagus dan sejenisnya.

Dari dalil diatas, para ulama menetapkan bahwa istri yang ditinggal mati oleh suaminya wajib beridah selama empat bulan sepuluh hari sekaligus diberi kesempatan untuk berkabung atas kemaitan suami selama masa idah berlangsung. Mengenai kewajiban idah ulama sudah sepakat. Sedangkan, untuk masalah ihdad ulama masih berselisih pendapat mengenai kewajibannya. Menurut mayoritas ulama diantaranya adalah Imam Syafi’i mengatakan bahwa ihdad hukumnya wajib. Sedangkan menurut Hasan al-Basri dan Al-Sya’bi tidak wajib melakukan ihdad.

Dari berbagai varian pendapat ulama. Ternyata negara berpihak pada ulama yang berpendapat wajib melakukan ihdad. Hal ini sebagaimana yang tertera dalam pasal 170, Bab XIX, Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Istri yang ditinggal mati oleh suami wajib melaksanakan masa berkabung selama masa idah sebagai tanda turut berduka cita dan sekaligus menjaga fitnah.
  2. Suami yang ditinggal mati oleh istrinya, melakukan masa berkabung sesuai kepatutan.

Sebagaimana yang dipahami dari bunyi pasal diatas, sebenarnya adanya keajiban ihdad bertujuan untuk menghormati kematian suami sekaligus menampakkan kesedihan istri atas musibah itu.

Walau idah sekaligus ihdad hanya berlaku kepada seorang istri. Sedangkan tidak ada hukum yang mengikat laki-laki wajib untuk melakukan idah. Lantas, hukum itu juga tak bisa mengikat laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya untuk melakukan ihdad?.

Jawaban untuk pernyaan ini adalah dalih yang berdasar pada bunyi ayat “Kepatutan” dalam KHI, selayaknya seorang suami juga menahan diri dengan alasan yang kurang lebih sama seperti apa yang terjadi pada istri. Bukankah, ketika laki-laki tak melakukan hal yang sama berarti tidak menghormati kematian istri yang mana hal tersebut menjadi alasan dasar dari keawjiban adanya ihdad bagi perempuan.

  1. Berkabung Untuk Selain Suami.

Berdasar pada hadis diatas, kebolehan berkabung bagi selain suami hanya tidak lebih dari tiga hari. Lebih dari itu, hukumnya haram. Ketentuan inipun hanya berlaku pada mahram saja, misalnya ayah, ibu, anak, saudara kandung. Tetapi, menurut Imam al-Gazziy kita boleh berkabung tidak hanya sebatas mahram saja. Akan tetapi, juga kepada setiap orang yang kematiannya bisa membuat kita bersedih misalkan berrkabung untuk kematian orang alim dan saleh.

Dari uraian di atas seperti apapun posisi seseorang, saat meratapi kesedihan masih diperbolehkan ketika masih dalam jalur yang dibuat oleh syariat. Artiya, apapun yang kita rasakan saat kehilangan orang tercinta hal itu bukan lantas menjadi akhir dari perjalanan hidup. Waktu yang diberikan oleh syari’at bagi para istri yang ditinggal suami adalah waktu untuk mempersiapkan, menata mental serta menambah kesabaran untuk melanjutkan kehidupan yang masih panjang.

Sedangkan untuk para suami, walau dalam hukum tak menjelaskannya dan kita pasti tahu bahwa kalian juga merasakannya dengan berbagai bentuk ekspresi.

Mereka yang meningalkan kita terlebih dahulu. Perlu kita tahu yang mereka butuhkan untuk saat ini adalah doa.

Penulis: Halimah Az-Zayn.

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *