Hukum Islam Kajian Keislaman

Salahkah Presiden Sebut Muazin Shalat Idul Adha?

Sosok Presiden Joko Widodo tampaknya memang tak pernah sepi dari perbincangan publik. Bagaimana tidak, menjadi orang nomor satu di Indonesia tampaknya membuat Presiden Joko Widodo selalu menjadi sorotan.

Saat ini ramai diperbincangkan mengenai postingannya lewat akun media sosial  @jokowi yang mengabarkan bahwa beliau melaksanakan shalat idul adha bersama para Paspampres yang bertindak sebagai muazin dan imam.

Postingan tersebut banyak memperoleh tanggapan dari netizen, karena kata “muazin” ditujukan kepada orang yang hendak melakukan azan, sementara dalam shalat idul adha tidak disunnahkan untuk melakukan azan dan iqamah.

Tujuan dari disunnahkannya azan dan iqamah adalah sebagai pemberitahuan bahwa telah masuk waktu salat. Tujuan ini tidak berlaku dalam salat idul adha, karena sejak malam hari raya, takbir sudah dikumandangkan berulang-ulang, sehingga tidak perlu lagi memberitahu tentang adanya pelaksanaan shalat id.

Praktek ini, juga sejalan dengan yang dilakukan Rasulullah, yakni melaksanakan salat Id tanpa azan dan iqamah. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim berikut ini ;

وعن جابر بن سمرة ” شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة ” رواه مسلم

Artinya : “Dari sahabat Jabir bin Samrah berkata, ‘Aku menyaksikan dua hari raya Idul fitri dan Adha bersama Nabi Muhammad Saw, tidak hanya sekali atau dua kali, tanpa adzan dan iqamah’.” (HR. Muslim)

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, menjelaskan mengenai hadis diatas. Berdasarkan riwayat di atas dapat diketahui bahwa di masa Rasulullah salat Id dilakukan tanpa azan dan iqamah.

Adapun yang sunah dilakukan sebagaimana diriwayatkan dari Imam al-Zuhri adalah memanggil jamaah salat Id dengan redaksi “al-shalaatu Jaami’ah.”. Dalam riwayat itu, yang menarik untuk diperhatikan adalah beliau menyebut orang yang mengumandangkan seruan tersebut dengan redaksi muazin tidak menggunakan kata munadi atau kata bilal yang lebih lumrah kita dengar sehari-hari ;

أخبرنا الثقة عن الزهري قال : ” { لم يكن يؤذن للنبي صلى الله عليه وسلم ولا أبي بكر ولا عمر ولا عثمان في العيدين } حتى أحدث ذلك معاوية بالشام وأحدثه الحجاج بالمدينة حين مر عليها قال الزهري : { وكان النبي صلى الله عليه وسلم يأمر في العيدين المؤذن فيقول : الصلاة جامعة

Artinya : “Meriwayatkan kepada kita seorang yang jujur dari Imam al-Zuhri, berkata, “Tidak ada adzan pada masa Nabi, tidak juga Abu Bakar, tidak pula Umar, tidak pula Ustman pada hari raya Idulfitri dan adha. Hingga Muawiyah melakukannya di Syam dan Hajaj melakukannya di Madinah. Kemudian tatkala Zuhri melewati mereka, ia berkata, ‘Nabi Saw menyuruh muadzin pada hari Id (idulfitri/adha) untuk berkata, “al-shalaatu Jaami’ah.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam shalat idul adha tidak disunnahkan untuk melakukan azan dan iqomah. Tetapi, yang sunah dilakukan sebagaimana diriwayatkan dari Imam al-Zuhri adalah memanggil jamaah salat Id dengan redaksi “al-shalaatu Jaami’ah.”.

Dalam riwayat Imam al-Zuhri beliau menyebut orang yang mengumandangkan seruan tersebut dengan redaksi muazin tidak menggunakan kata munadi atau kata bilal yang lebih lumrah kita dengar sehari-hari. Sehingga postingan Presiden Joko Widodo dapat dibenarkan apabila kata muazin tidak ditujukan kepada orang yang mengumandangkan azan, melainkan kepada orang yang memanggil jamaah salat Id dengan redaksi “al-shalaatu Jaami’ah”.

Demikian. Wallahu a’lam.

Penulis: Zainal Abidin, S. Ag.

4.0/5.0 Article rating
6 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *