Akhlak Kajian Keislaman

ALAMI TIDUR INDAH BERPAKAIAN MUKENA

Menunaikan ibadah salat seringkali terkalahkan oleh kehangatan balutan selimut di atas tubuh. Sulit rasanya membuka mata untuk bergegas pergi ke kamar mandi, wudu dan melaksanakan salat. Giat beribadah—salat khususnya—memang harus berawal dari paksaan melawan rasa malas dan kantuk serta pantang kembali merebahkan diri ke kasur.

Usai salat dilakukan, bergegas ia melanjutkan tidurnya lagi, masih lengkap dengan kostum mukena yang baru saja dipakai beribadah (Wah, yakin deh, bakal langsung terkoneksi tuh sama alam mimpinya). Tidur dengan memakai mukena memiliki kenikmatan yang tidak dapat ditemukan pada tidur biasanya, penulis pun sudah membuktikan sendiri perbedaannya. Namun, secara adab dalam beribadah, hal tersebut tentu tidak dibenarkan oleh agama kita.

Manakala tidur setelah salat tanpa mencopot mukena terlebih dahulu lalu terkena air liur  akan menyebabkan aroma mukena tidak karuan. Tetesan air liur yang berasal dari lambung semisal karena ia tidur dalam kondisi kepala sejajar dengan perut (tidak memakai bantal) dihukumi mutanajjis. Beda halnya apabila air liur tersebut berasal dari tenggorokan dengan posisi kepala lebih tinggi dari perut maka tidak berpengaruh terhadap kesucian benda yang dikenainya. Dengan demikian, meskipun status mukena yang terkena air liur kategori kedua tetap suci, apakah masih layak untuk digunakan salat?

Salat yang mu’tabar adalah salat yang memperhatikan kesucian diri, sesuatu yang dipakai berikut tempat yang dipijaki. Jika semua syarat telah terpenuhi insya Allah salat yang ditegakkan terhitung sebagai ibadah. Mukena yang suci tidak memastikan bersih begitupun sebaliknya. Namun, keduanya kadangkala saling meniscayakan kadangkala pula saling melengkapi sebagaimana ibarat berikut:

وَكُنَّا ذَكَرْنَا أَنَّ النَّظَافَةَ وَالطَّهَارَةَ تَتَلَازَمَانِ أَحْيَاناً وتَتَكَامَلَانِ أَحْيَاناً، فَلَيْسَ كُلُّ طَاهِرٍ نَظِيْفاً وَلَيْسَ كُلُّ نَظِيْفٍ طَاهِراً.

“Telah kami jelaskan bahwa adakalanya kebersihan adalah konsekuen dari kesucian maupun sebaliknya, adakalanya juga keduanya saling melengkapi, oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa setiap yang suci belum tentu bersih sebagaimana setiap yang bersih belum tentu suci.” [al-Asas fi al-Sunnah wa Fiqhiha – al-‘Ibadat fi al-Islam: 257/I]

Dari teks di atas kaitannya dengan pembahasan kali ini adalah terjalinnya hubungan baik antara makna “suci” dan makna “bersih. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.

Thaharah (bersesuci) secara etimologi adalah bersih, baik dari kotoran dan sesuatu yang menjijikkan. Konklusi dari definisi tersebut adalah timbulnya aroma yang tidak mengenakkan seperti air liur atau basahan mukena oleh keringat saat tidur masuk dalam kategori sesuatu yang suci tapi tidak bersih alias menjijikkan.

Etika penghambaan antara makhluk dengan Tuhannya dalam wujud salat merupakan momen yang sakral sehingga mengenakan pakaian yang berbau dan menjijikkan tentu telah menodai prosesi peribadatan salat berlangsung. Alquran menegaskan bahwa betapa Allah menyukai orang-orang yang menjaga kebersihan atas dirinya.

… فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Artinya: Di dalamnya (masjid) ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah 9: 108)

Mukena atau pakaian yang suci di samping terdapat aroma-aroma yang tidak sedap—baik aroma tersebut bersifat hissiy atau maknawiy—tentunya juga dapat mengganggu kekhusyukan salat. Dari itu, maka seharusnya mukena tersebut dibersihkan/dicuci terlebih dahulu. Sesama manusia saja merasa jijik dengan pakaian tersebut lebih-lebih jika manusia berhadapan dengan Allah di dalam salat, sungguh suul adab orang yang demikian. Naudzubillahi min syarri dzaka …

Belajarlah menggunakan sesuatu pada tempatnya, jangan sampai kita menzalimi diri sendiri. Mukena adalah pakaian yang biasa dikenakan kaum hawa untuk salat sebagai wasilah komunikasi kita dengan Sang Pencipta tidak sepantasnya kita bawa tidur. Cukup hindari pemakaian mukena untuk tidur alih-alih meraih kemantapan dalam beribadah. Bismillah. Niatkan semata-mata lillahi ta’ala.

Penulis: Nur Muizzah, S. Ag.

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *